Puisi Ahmad Gusairi: Doa Bertahan di Musim Hujan
ORBITINDONESIA.COM - Musim air belum juga usai
Hujan masih mengetuk malam
dengan suara yang sama
namun hati manusia tak lagi serupa kemarin
Ada yang belajar rendah hati
ada yang belajar kehilangan
dan ada pula yang akhirnya belajar mencintai
tanpa syarat dan tanpa pamrih
Di pengungsian, waktu berjalan pelan
Hari-hari diukur bukan dengan jam
melainkan dengan kabar baik
dan doa yang dikirim dari mulut ke mulut
Anak-anak tertawa di sela genangan
seolah mengingatkan dunia
bahwa harapan tak pernah benar-benar tenggelam
Aku menyadari
cinta bukan hanya milik mereka yang selamat
tetapi juga milik mereka yang tabah
Yang memilih bersyukur meski hidup retak
yang memeluk sesama meski dirinya rapuh
Cinta semacam itu tak lahir dari kenyamanan
melainkan dari iman yang ditempa berkali-kali
Hujan pun akhirnya kupahami
bukan sebagai musuh kehidupan
Ia cermin yang memantulkan wajah kita sendiri
apakah kita cukup peduli
cukup bijak
cukup berani menjaga semesta
yang dititipkan Tuhan dengan penuh amanah
Jika kelak hujan datang lagi
dan dunia kembali basah oleh air dan air mata
biarlah cinta tetap menjadi perahu
Bukan perahu yang menjanjikan selamat
melainkan perahu yang mengajarkan
cara tetap berdoa saat ombak meninggi
Sebab pada akhirnya
yang membuat manusia bertahan
bukan langit yang cerah
melainkan keyakinan
bahwa di balik hujan paling panjang
Tuhan tak pernah meninggalkan
Cinta selalu menemukan jalannya pulang
Toboali, 3 Februari 2026
Ahmad Gusairi, penulis puisi ini adalah seorang pengajar SMA Negeri 1 Toboali Bangka Selatan.***