Ali Samudra: Islam Agama yang Berlandaskan Tauhid

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Ada satu kata yang menjadi jantung Islam, pusat orbit seluruh ajarannya, dan fondasi seluruh peradabannya: Tauhid. Tanpa Tauhid, Islam hanyalah ritual yang kering. Dengan Tauhid, Islam menjadi kesadaran yang hidup—yang menyatukan iman, akal, moral, dan tindakan.

Kita hidup di zaman yang canggih tetapi rapuh. Manusia mampu mengirim satelit ke orbit, namun gagal menjaga kejujuran dalam jabatan. Kita bisa mengelola data miliaran byte per detik, tetapi tidak mampu mengelola ambisi diri.

Dunia modern menghasilkan kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi juga krisis makna yang mendalam. Dalam situasi seperti ini, Islam tidak menawarkan sekadar dogma, tetapi menawarkan poros: Tauhid - kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Esa dan menjadi pusat seluruh kehidupan.

Tauhid: Bukan Sekadar Monoteisme

Tauhid berasal dari akar kata wahhada - yuwahhidu - tauhidan yang berarti "mengesakan" dengan kesadaran penuh. Sering kali Tauhid dipahami secara sederhana: percaya bahwa Tuhan itu satu. Namun Tauhid lebih dalam dari sekadar angka. Ia bukan sekadar konsep matematika tentang “satu Tuhan,” melainkan prinsip yang menyatukan seluruh realitas.

Tauhid berarti mengakui bahwa: Allah satu-satunya Pencipta, Allah satu-satunya yang berhak disembah, Allah satu-satunya sumber nilai dan kebenaran, dan Allah satu-satunya tujuan akhir hidup.

Di sini Tauhid menjadi revolusioner. Karena ketika manusia mengakui Allah sebagai satu-satunya pusat, maka semua “tuhan-tuhan kecil” runtuh: harta, jabatan, ego, popularitas, bahkan tekanan sosial.

Tauhid bukan hanya tentang siapa Tuhan itu, tetapi tentang siapa yang tidak boleh menjadi Tuhan dalam hidup kita.

Akidah Tauhid: Simpul yang Mengikat Hati

Kata akidah berasal dari akar kata Arab ‘aqada - ya'qidu - aqdan yang berarti mengikat atau mengokohkan. Akidah adalah simpul keyakinan yang tertanam kuat dalam hati. Maka Akidah Tauhid adalah keyakinan yang mengikat hati pada keesaan Allah secara kokoh dan tidak goyah.

Akidah Tauhid membangun stabilitas batin. Orang yang akidahnya kuat tidak mudah panik ketika kehilangan, tidak sombong ketika mendapatkan, dan tidak goyah ketika diuji. Ia sadar bahwa hidup berada dalam pengaturan Rabb yang Maha Bijaksana.

Di sinilah Islam berbeda dari sekadar sistem etika. Ia dimulai dari simpul batin. Jika simpul itu kuat, bangunan di atasnya kokoh. Jika simpul itu lemah, seluruh struktur hidup mudah runtuh.

Al-Ikhlas: Inti Tauhid dalam Empat Ayat

Surah Al-Ikhlas adalah deklarasi Tauhid paling padat dalam Al-Quran. “Qul huwa Allāhu Aḥad.”  Allah itu Ahad - Esa secara mutlak, tidak terbagi, tidak tersusun, tidak bergantung.

“Allāhuṣ-Ṣamad.” Allah tempat bergantung segala sesuatu. Manusia membutuhkan-Nya, tetapi Dia tidak membutuhkan siapa pun.

“Lam yalid wa lam yūlad.”  Allah tidak berada dalam rantai biologis. Ia tidak diwarisi dan tidak mewariskan.

“Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad.”  Tidak ada yang setara dengan-Nya.

Empat ayat ini memutus seluruh kemungkinan penyekutuan. Ia membangun Tauhid yang murni - bersih dari antropomorfisme, bersih dari kompromi.

Tauhid dan Rasionalitas: Pelajaran dari Nabi Yusuf

Dalam Surah Yusuf [12]:39- 40, Nabi Yusuf berdialog secara rasional: mana yang lebih baik, banyak tuhan atau satu Tuhan Yang Maha Esa? Pertanyaan itu sederhana tetapi tajam.

Banyak “tuhan” berarti banyak pusat loyalitas, banyak standar moral, banyak ketakutan. Satu Tuhan berarti satu pusat, satu standar, satu keberanian. Lagi pula jika "Tuhan- Tuhan" yang banyak itu bersatupun tidak akan dapat mengalahkan Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Tauhid di sini bukan hanya iman, tetapi rasionalitas spiritual. Ia mengajarkan bahwa hidup yang terpecah akan melahirkan jiwa yang terpecah. Tauhid menyatukan kembali.

Dimensi Tauhid: Bangunan Kesadaran yang Utuh

Para ulama menjelaskan Tauhid dalam beberapa dimensi agar tidak dipahami secara parsial:

1. Rububiyah: Allah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam. Ini membangun kesadaran kosmik - hidup tidak liar, alam tidak tanpa arah.

2. Uluhiyah: Hanya Allah yang layak disembah. Ini membangun kemerdekaan spiritual- manusia bebas dari perbudakan selain Allah.

3. Asma wa Sifat: Allah memiliki nama dan sifat kesempurnaan. Ini membangun karakter moral - keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan.

4. Hakimiyah: Allah pemilik kedaulatan nilai tertinggi. Ini membangun keadilan sosial- tidak ada hukum yang boleh melampaui moral Ilahi.

Keempat dimensi ini menyatu membentuk manusia dan masyarakat Tauhid.

Muwahhid, Poros kekuatan spiritual

Seorang muwahhid adalah orang yang mengesakan Allah bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam kesadaran dan seluruh orientasi hidupnya. Ia tidak berhenti pada pengakuan teologis bahwa Tuhan itu satu, melainkan menjadikan keesaan Allah sebagai pusat gravitasi seluruh kehidupannya. Dalam dirinya, Tauhid bukan sekadar konsep, tetapi kompas. Ia berpikir, merasa, dan bertindak dengan kesadaran bahwa hanya Allah yang layak menjadi tujuan akhir.

Muwahhid adalah manusia yang terbebas dari “berhala-berhala halus” yang sering tidak disadari. Ia tidak menyembah kekuasaan, tidak diperbudak harta, tidak tunduk pada pujian manusia, dan tidak menjadikan ego sebagai pusat keputusan. Ia boleh memiliki harta, jabatan, atau pengaruh, tetapi semua itu tidak menguasai hatinya. Hatinya hanya memiliki satu pusat ketundukan: Allah.

Keragaman Mazhab dan Kesatuan Tauhid

Islam memiliki beragam mazhab fiqh dan teologi. Perbedaan itu lahir dari metodologi ijtihad dan konteks sejarah. Namun semua mazhab yang sah bersatu dalam Tauhid.

Perbedaan cabang tidak boleh mengaburkan akar. Ketika mazhab dijadikan absolut, Tauhid bergeser dari pusat. Islam yang berlandaskan Tauhid menuntut kedewasaan: berbeda tanpa bermusuhan, berdebat tanpa membenci. Karena pusatnya tetap satu: Allah Yang Ahad.

Pandangan Tokoh Klasik dan Modern tentang Tauhid

Para pemikir klasik dan modern memperluas makna Tauhid dalam kerangka ijtihad mereka antara lain:

1. Ibn Sina - Tauhid sebagai dasar ontologi.  

2. Al-Ghazali  - Tauhid sebagai penyucian hati dan moralitas.                                                  

3. Ibn Taymiyyah  - Tauhid sebagai pemurnian ibadah dan kritik terhadap syirik modern.                           

4. Ismail al-Faruqi  - Tauhid sebagai paradigma peradaban dan epistemologi.                                       

5. Fazlur Rahman -  Tauhid sebagai etika sosial dan historis.                                                  

6. Seyyed Hossein Nasr -  Tauhid sebagai metafisika sakral dan ekologi spiritual.              

7. Ali Shariati - Tauhid sebagai ideologi pembebasan dan perlawanan terhadap penindasan.

Tauhid dan Demokrasi

Tauhid tidak menolak prinsip musyawarah, partisipasi publik, atau keadilan representatif. Dalam Islam, konsep syura menunjukkan bahwa keputusan sosial melibatkan konsultasi dan tanggung jawab bersama.

Namun Tauhid memberikan batas moral pada demokrasi. Dalam sistem modern, suara kebenaran tertinggi. Tauhid menegaskan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah suara, tetapi oleh nilai Ilahi.

Demokrasi dalam perspektif Tauhid harus tunduk pada keadilan. Jika mayoritas memilih kezaliman, maka itu tetap salah. Tauhid menjaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Tauhid bukan anti-demokrasi, tetapi menuntut demokrasi yang bermoral.

Tauhid dan Pluralisme Modern

Pluralisme modern mengakui keberagaman agama, budaya, dan pandangan hidup. Islam sendiri hidup dalam masyarakat majemuk sejak awal sejarahnya.

Tauhid tidak menghapus keberagaman manusia. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. (QS. Al-Hujurat[49]: 13)

Namun Tauhid menolak relativisme mutlak. Menghormati perbedaan bukan berarti mencairkan kebenaran. Seorang Muslim dapat hidup berdampingan secara damai, adil, dan penuh penghormatan terhadap pemeluk agama lain, tanpa kehilangan keyakinan bahwa Tauhid adalah kebenaran yang ia imani.

Pluralisme dalam perspektif Tauhid adalah etika hidup bersama, bukan penghapusan identitas iman.

Tauhid dalam Dinamika Kehidupan Modern

Modernitas melahirkan kemajuan, tetapi juga fragmentasi. Hidup terbelah antara kerja dan makna, antara sukses dan damai.

Tauhid menyatukan kembali. Ia mengajarkan bahwa kerja adalah ibadah. Ilmu adalah amanah. Kekuasaan adalah tanggung jawab. Harta adalah sarana, bukan tujuan.

Dalam krisis lingkungan, Tauhid mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah, bukan penguasa absolut. Dalam krisis ekonomi, Tauhid menuntut keadilan distribusi. Dalam krisis moral, Tauhid menegaskan standar Ilahi. Tauhid bukan nostalgia masa lalu. Ia adalah visi masa depan.

Penutup: Tauhid sebagai Energi Peradaban

Islam adalah agama yang berlandaskan Tauhid. Dari Tauhid lahir kemerdekaan batin, keutuhan karakter, keberanian moral, dan keadilan sosial.

Di dunia yang memuja banyak “tuhan” baru- uang, citra, algoritma, kekuasaan- Tauhid berdiri sebagai pengingat bahwa manusia hanya boleh tunduk kepada Allah. Tauhid menyatukan yang terpecah. Tauhid menenangkan yang gelisah. Tauhid memurnikan yang tercemar. Tauhid memuliakan manusia.

Selama Tauhid tetap menjadi pusat kesadaran, Islam akan tetap relevan- bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai fondasi peradaban yang adil, bermartabat, dan penuh rahmat.***

Pondok Kelapa, 13 Februari 2026

Referensi:

Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary, Amana Publications, Maryland, 1983.

Muhammad Asad, The Message of the Qur’an, Dar Al-Andalus, Gibraltar, 2003.       

(Pengantar Diskusi Ba'da sholat Jumat, 13 Februari 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)

*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin