Ali Samudra: Kalender Hijriah Global - Saatnya Umat Islam Bersatu dalam Ilmu dan Ibadah
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Setiap tahun, menjelang Ramadan dan Idul Fitri, umat Islam kembali menghadapi pertanyaan yang sama: kapan tepatnya kita mulai berpuasa? Di satu negara, puasa dimulai hari ini. Di negara lain, esok hari. Bahkan dalam satu kota yang sama, masjid-masjid bisa berbeda tanggal.
Fenomena ini telah berlangsung lama. Sebagian menganggapnya wajar sebagai bagian dari khazanah fiqh. Sebagian lainnya melihatnya sebagai simbol belum terwujudnya kesatuan umat dalam praktik ibadah publik.
Di tengah kemajuan sains dan teknologi, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah sudah saatnya umat Islam memiliki kalender hijriah global berbasis hisab astronomi presisi?
Rukyah dan Hisab: Warisan yang Sama-sama Sah
Perdebatan klasik antara rukyah dan hisab bukanlah perdebatan antara iman dan ilmu. Keduanya sama-sama bagian dari tradisi Islam.
Hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim menyebutkan:
“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.”
Sebagian ulama memahami teks ini secara literal: melihat hilal adalah syarat.
Sebagian lainnya memahami bahwa perintah melihat adalah metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu—masyarakat yang belum memiliki teknologi astronomi presisi.
Sejarah mencatat bahwa perbedaan matla’ (wilayah terbit bulan) sudah terjadi sejak masa sahabat. Ibnu Abbas tidak mengikuti rukyah yang terjadi di Syam. Artinya, perbedaan tanggal bukanlah hal baru dalam Islam.
Namun pertanyaannya: apakah konteks global abad ke-21 masih sama dengan abad ke-7?
Islam dan Kemajuan Ilmu
Islam adalah agama yang memuliakan akal. Wahyu pertama bukanlah perintah ritual, melainkan perintah intelektual: “Iqra’—Bacalah.”
Peradaban Islam klasik melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Biruni dan Ibn al-Shatir yang mengembangkan teori astronomi jauh sebelum Eropa modern.
Hari ini, ilmu astronomi mampu menghitung posisi bulan hingga ketelitian detik dan koordinat geografis. Peta visibilitas hilal dapat diproyeksikan untuk seluruh dunia secara simultan.
Maka, menggunakan hisab presisi bukanlah bentuk meninggalkan sunnah, melainkan melanjutkan tradisi intelektual Islam itu sendiri.
Kalender Global dan Maqāṣid Syariah
Jika kita melihat dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah—tujuan besar syariat—maka beberapa hal perlu dipertimbangkan.
Pertama, persatuan umat. Di era globalisasi, umat Islam hidup dalam jaringan komunikasi global. Perbedaan tanggal yang mencolok seringkali membingungkan generasi muda dan komunitas diaspora.
Kedua, kepastian hukum dan sosial. Sistem negara modern memerlukan kepastian kalender jauh hari sebelumnya: untuk sekolah, perbankan, transportasi, dan administrasi publik.
Ketiga, pemanfaatan akal sebagai amanah ilahi. Mengabaikan kepastian ilmiah demi mempertahankan metode lama dapat menimbulkan pertanyaan rasional di kalangan generasi terdidik.
Apakah menjaga metode lebih utama daripada menjaga maslahat besar umat?
Rukyah: Simbol yang Tetap Bermakna
Namun, membela kalender global bukan berarti meniadakan rukyah. Rukyah memiliki nilai simbolik dan spiritual yang dalam.
Melihat hilal adalah pengalaman kosmik. Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak terpisah dari alam semesta. Ia menghadirkan kesadaran bahwa waktu ibadah terhubung dengan peredaran langit.
Karena itu, solusi bukanlah menghapus rukyah, tetapi menempatkannya secara proporsional.
Hisab dapat menjadi dasar penetapan resmi, sementara rukyah tetap dilakukan sebagai tradisi sunnah dan simbol kebersamaan.
Tantangan Politik dan Otoritas
Upaya penyatuan kalender sebenarnya telah dibahas dalam berbagai forum internasional seperti Organization of Islamic Cooperation.
Namun kendala utama bukanlah sains, melainkan politik dan otoritas nasional.
Negara-negara besar seperti Saudi Arabia dan Iran memiliki sistem otoritas keagamaan sendiri. Kalender bukan sekadar persoalan bulan, tetapi juga legitimasi.
Maka penyatuan kalender memerlukan kematangan peradaban, bukan hanya kesepakatan teknis.
Jalan Tengah: Integrasi Ta‘abbudi dan Ta‘aqquli
Dalam dinamika ini, diperlukan sintesis antara ta‘abbudi (ketaatan tekstual) dan ta‘aqquli (rasionalitas kontekstual).
Islam tidak pernah mengajarkan dikotomi antara wahyu dan akal. Keduanya adalah cahaya yang saling melengkapi.
Kalender global berbasis hisab presisi dapat menjadi pilihan maslahat peradaban. Sementara rukyah tetap dijaga sebagai warisan spiritual. Dengan pendekatan ini: Nash dihormati, Akal dimuliakan, Persatuan diperkuat.
Ujian Peradaban
Pada akhirnya, persoalan hilal bukan sekadar persoalan astronomi. Ia adalah ujian peradaban. Apakah umat Islam mampu:
Mengintegrasikan ilmu modern tanpa kehilangan ruh ibadah?
Membangun sistem global tanpa meniadakan tradisi?
Menempatkan maslahat umum di atas ego mazhab dan nasionalisme?
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu dunia. Tidak ada alasan mengapa umat hari ini tidak mampu menyatukan kalendernya secara ilmiah dan bermartabat.
Penutup: Kesiapan Umat Memasuki Fase Kematangan Baru
Kalender hijriah global bukan sekadar wacana teknis. Ia adalah simbol kesiapan umat Islam memasuki fase kematangan baru - fase di mana ilmu dan iman berjalan beriringan.
Rukyah dan hisab bukan musuh. Mereka adalah dua cara membaca tanda-tanda Allah di langit.
Pertanyaannya bukan lagi “mana yang benar”, tetapi: Mana yang paling maslahat untuk umat hari ini?
Jika persatuan adalah cita-cita, jika ilmu adalah amanah, dan jika syariat datang untuk membawa rahmat, maka kalender hijriah global berbasis hisab presisi layak dipertimbangkan sebagai langkah peradaban.
Dan mungkin, suatu hari nanti, seluruh umat Islam akan menyambut hilal Ramadhan dalam satu tarikan nafas yang sama - tanpa kehilangan ruh syariat, tanpa mengorbankan ilmu Astronomi Modern. ***
Pondok Kelapa, 17 Februari 2026/ 29 Sya'ban 1447H ***