Indra Pirmana: Sesungguhnya, Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah
Oleh Indra Pirmana
ORBITINDONESIA.COM - Karakter, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Namun sesungguhnya, karakter bukan sekadar definisi dalam kamus. Ia adalah fondasi yang menentukan arah hidup seseorang—bagaimana ia berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Banyak ahli menegaskan pentingnya karakter dalam perjalanan hidup manusia. John C. Maxwell, misalnya, menekankan bahwa karakter bukan hanya soal baik atau buruk. Karakter adalah pilihan. Ia menentukan apakah seseorang mampu bertahan dalam proses belajar, menghadapi tantangan, dan pada akhirnya mencapai keberhasilan.
Sementara Gulo W melihat karakter sebagai cerminan kepribadian yang berakar pada nilai moral—kejujuran, kesopanan, tanggung jawab—yang ditanamkan terutama oleh keluarga. Artinya, karakter bukanlah warisan genetik semata, melainkan hasil didikan dan keteladanan.
Di sinilah rumah mengambil peran yang tak tergantikan. Rumah adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Sejak usia dini, anak belajar bukan dari ceramah panjang, melainkan dari apa yang ia lihat dan rasakan setiap hari. Cara orang tua berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, bahkan memperlakukan orang lain, semuanya direkam dan ditiru oleh anak.
Karena itu, pendidikan karakter sejatinya dimulai dari rumah. Komunikasi sederhana antara orang tua dan anak—menanyakan kabar di sekolah, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar berbincang sebelum tidur—memiliki makna besar. Begitu pula dengan pengawasan terhadap penggunaan gawai. Di era digital yang serba cepat ini, kontrol dan pendampingan menjadi kunci agar teknologi memberi manfaat, bukan mudarat.
Salah satu langkah sederhana dalam membangun karakter dari rumah adalah membiasakan pola hidup teratur sebagaimana tercermin dalam Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang disampaikan Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, ia membentuk disiplin, tanggung jawab, dan keseimbangan hidup.
Di rumah, anak dapat dilatih untuk berbicara dengan sopan, bersikap jujur, beribadah tepat waktu, membantu orang tua, disiplin mengatur waktu, mengerjakan tugas sekolah, membatasi waktu bermain dan penggunaan gawai, serta menjaga kebersihan lingkungan. Semua itu bukan sekadar aturan, melainkan proses pembiasaan yang perlahan membentuk kepribadian.
Ketika anak melangkah ke sekolah, nilai-nilai itu seharusnya berlanjut. Datang tepat waktu, tidak bolos, menghormati guru dan pegawai, mengenakan seragam sesuai aturan, berbicara santun, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, menjaga fasilitas sekolah, hingga membudayakan antre dan membuang sampah pada tempatnya—semua adalah wujud nyata karakter dalam tindakan. Bahkan kebiasaan memanfaatkan perpustakaan atau pojok literasi saat waktu luang pun merupakan bagian dari pembentukan budaya belajar.
Jika kebiasaan baik di rumah selaras dengan budaya disiplin di sekolah, proses belajar akan berjalan lebih terarah. Lingkungan kelas menjadi nyaman, materi pelajaran lebih mudah dipahami, dan tujuan pendidikan menjadi nyata. Terlebih saat ini terdapat Tes Kemampuan Akademik (TKA) dari jenjang Sekolah Dasar hingga Menengah yang menjadi tolok ukur kemampuan siswa, khususnya di kelas akhir. Namun perlu diingat, keberhasilan akademik tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh karakter—kejujuran saat mengerjakan soal, disiplin dalam belajar, dan tanggung jawab terhadap tugas.
Guru memang memiliki peran besar dalam memahami perbedaan karakter setiap murid. Namun tanpa kolaborasi yang kuat dari orang tua, pembentukan karakter yang kokoh akan sulit terwujud. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan kerja sama antara rumah dan lembaga pendidikan.
Murid yang berkarakter baik akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka lebih siap meraih prestasi, baik di bidang akademik seperti OSN maupun di bidang seni dan budaya seperti FLS3N. Prestasi itu bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama sekolah dan daerah, bahkan hingga tingkat nasional.
Di era digital, tantangan pendidikan semakin kompleks. Media sosial dan gawai menghadirkan peluang sekaligus risiko. Tanpa pengawasan dan pembiasaan nilai yang kuat, anak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai moral. Karena itu, penanaman karakter sejak dini menjadi benteng utama.
Pada akhirnya, pendidikan karakter bukanlah proyek sesaat, melainkan proses panjang yang dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah. Jika di rumah tertanam kejujuran dan disiplin, maka di sekolah nilai itu akan tumbuh dan berkembang. Dari situlah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang pintar, melainkan oleh pribadi-pribadi berkarakter.
(Penulis adalah Guru di SMP Negeri 5 Payung.) ***