Nostalgia Ramadhan di Teluk Gong

Oleh : Irwan Riduan SP

Kisah ini aku alami saat menginjak kelas 6 SD sekitar Tahun 1980an , mungkin sudah tidak relevan buat kaum milenial. Namun saya percaya bahwa sesuatu yang inspiratif tentu masih ada yang ingin diketahui. 

Bulan Ramadhan tahun 1980 memang sangat berbeda dengan kondisi saat ini, walaupun aku tinggal di jakarta utara tepatnya di daerah Teluk Gong Kelurahan Pejagalan. 

Hari itu mungkin hari yang kesekian puasa di bulan Ramadhan, teman sebaya ku semuanya saat itu memang berpuasa, Katanya. 

Kami asyik bermain sambil menebeng kendaraan bak terbuka, entah sudah berapa kendaraan yang kami tumpangi, baik di lampu merah ataupun tikungan. 

Dan saat matahari mulai meninggi, mulailah rasa haus melanda. Ada sebagian teman yang mulai menggoda dengan menunjuk tukang es pikul yang sedang berjalan. " Tuh tukang es pake lewat depan kita" Kata temanku bergurau. 

"Ah jangan tergoda, kita kan berpuasa, nanti dosa" Kata temanku yang lain. 

"Ya jangan tergoda, sayang udah tengah hari" Jawab ku juga

Kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan genit, sebutan sebuah jembatan di jalan pangeran tubagus angke. Sampai ujung jembatan ada kendaraan bak terbuka yang melambat untuk berbelok ke kiri menuju arah kampung gusti, sebuah perkampungan juga masih di jalan tubagus angke. Yang sudah mendekati jalan teluk Gong Raya yang banyak lubang nya. Kami lompat dari kendaraan bak terbuka tanpa meminta berhenti kepada supir (saat itu memang mau menampilkan kemahiran saat mobil berjalan) ya itulah salah satu kenakalan yang kami lalui, bukan sesuatu yang menggangu orang lain, tapi juga mengandung resiko yang tidak ringan. Apabila kami jatuh bisa menimbulkan luka yang cukup serius, bahkan bisa patah kaki, atau geger otak. 

Setelah lompat dijalan raya teluk Gong, sambil bercerita betapa hebatnya kami saat lompat dari kendaraan bak terbuka, tanpa mengalami luka yang serius, karena ada yang terjatuh saat mendarat di aspal jalan. 

Disinilah yang menjadi kenangan yang tidak bisa aku lupakan sampai saat ini, karena teman temanku, ternyata membeli es mambo, dengan alasan ada yang terluka dan mengeluarkan darah, jadi sudah batal puasanya. 

Aku yang lompat dengan gagah dan tidak terjatuh masih tetap mempertahankan puasa, walaupun sempat di goda dengan es mambo yang mereka hisap dengan mulut nya dihadapanku. 

"Ayo donk, batalin puasa loe" Ucap temanku sambil terus menggoda dengan suara kecupan es mambo. "Ya loe mah ngak setia kawan" Ucap temanku lagi sambil menggoda terus. 

Singkat cerita, akhirnya mereka memegang tangan ku, bahkan sebagian memegang tubuh ku yang kecil, dan mulai memegang kepala agar tidak melarikan diri dari mereka, aku berusaha berontak, namun apa daya karena 6 orang melawan satu orang yang berbadan kecil, jelas aku tidak bisa bergerak lagi. 

Disitulah teman ku yang membawa es mambo mulai memasukkan es kedalam mulut ku, sampai benar benar masuk kedalam mulut, untuk waktu yang lama. Setelah aku sudah mulai menelan es Mambo tersebut barulah mereka melepaskan ku, sambil berucap. " Gitu dong, namanya solider" Ucap salah satu temanku. "Ia udah nelen es mambo kan? " Kata temnaku lagi. 

Dalam hati ku sebenernya menangis, karena tidak mampu melawan teman teman ku yang berusaha untuk membatalkan puasa ku. Walaupun sudah menelan es mambo yang membuat rasa segar di mulut dan tenggorokan ku, aku tetap berusaha untuk melanjutkan puasa ku sampai maghrib nanti. 

Saat sedang berjalan menuju ke kampung ku, jalan 19 teluk Gong kavling, aku bertemu tetangga yang agak cemas, bertanya kepadaku. "Wan ayahmu kecelakaan di daerah ancol, cepet kamu pulang, tunggu dirumah ya" Ucap tetangga ku sambil bergegas cepat menuju lokasi kecelakaan ayahku. 

Disinilah rasa menyesal dan sangat marah kepada teman teman ku yang berusaha membatalkan puasa ku. "Jangan jangan karena aku batal puasa jadi ayahku kecelakaan di jalan raya bintang mas ancol" Gimana ku dalam hati. 

Sejak bertemu denga tetangga ku, dan melihat banyak kerabat ayahku yang mnunggu di rumah, rasa sesal ku tidak pernah pudar, sampai ayahku tiba dirumah dengan dibawa ambulan, rasa bersalah itu terus menghantui ku. 

Sejak itulah aku berjanji kepada diriku sendiri, untuk tidak akan sekali lagi membatalkan puasa ku. alhamdulillah sampai awal tarawih ramadhan tahun 2026 ini aku belum pernah membatalkan puasa ku. 

Kenangan ini aku bagikan untuk mereka yang tidak meyakini puasa adalah ibadah yang sangat diharuskan bagi semua muslim. 

Berpuasa lah kamu, seperti yang telah dilakukan oleh orang orang sebelum kamu.