Sastri Bakry: Membaca, Mitos atau Realitas?
Oleh Sastri Bakry
ORBITINDONESIA.COM - Beberapa hari yang lalu, saya menikmati suasana di Perpustakaan Jakarta. Cuaca panas Jakarta tak lagi terasa ketika saya sudah berada di dalam gedung yang sejuk dan indah ini. Biasanya, saya hanya akrab dengan perpustakaan dan dokumentasi PDS H.B. Jassin.
Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin terletak di lantai 4 bagian belakang Gedung Panjang, sedangkan Perpustakaan Jakarta sendiri terletak di bagian depan bangunan tersebut.
Sejak kehadiran Rano Karno, mantan Wakil Gubernur yang gencar mempromosikan literasi malam, saya jadi semakin sering mengunjungi Perpustakaan Jakarta. Entah sudah ke berapa kalinya saya mendatangi perpustakaan di area Taman Ismail Marzuki ini.
Beragam kegiatan saya lakukan di sana; mulai dari membaca buku, hingga membahas dan mendiskusikan karya sendiri maupun karya sastrawan lain di PDS H.B. Jassin. Terkadang, saya hanya sekadar nongkrong, mengopi, dan saling bercerita dengan sesama seniman. Selalu ada kebanggaan tersendiri yang muncul di hati.
Sebagai pegiat literasi yang senantiasa mendorong orang untuk membaca dan menulis, mencintai dunia perbukuan tentu harus dimulai dari diri sendiri. Jika ada waktu luang, saya tidak akan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan dan kemauan membaca orang Indonesia rendah. Namun, apa yang sebenarnya terjadi ketika kita melangkah masuk ke Perpustakaan Jakarta?
Di sana, terlihat banyak sekali orang yang sedang membaca, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Yang paling mendominasi adalah remaja dan anak muda. Mereka antusias menelusuri rak-rak buku dan menikmati waktu bersama buku-buku favorit mereka.
Bahkan, ada yang duduk bersila di dekat rak buku karena kehabisan tempat duduk. Saya merasa bangga melihat anak-anak muda yang begitu tekun membaca. Ketika waktu salat tiba, mereka bergantian menuju ruang salat.
Suasana yang ditawarkan pun sangat nyaman. Tersedia berbagai pilihan tempat duduk, mulai dari area santai untuk membaca sambil rebahan, hingga tempat duduk konvensional yang lebih formal dan kaku.
Saya menelusuri fasilitasnya satu per satu. Ada ruang baca terbuka, ruang privasi, ruang bermain anak, ruang membaca bagi disabilitas, area multimedia, ruang siniar (podcast), ruang komunitas, hingga area koleksi. Bahkan, tersedia pula studio jika pengunjung ingin berfoto. Cukup membayar menggunakan QRIS, foto Anda akan langsung tercetak dengan latar yang unik.
Perpustakaan Jakarta benar-benar menawarkan berbagai fasilitas, koleksi buku yang lengkap, serta kegiatan yang menarik. Kita tinggal memantau informasi digital untuk memilih kegiatan yang ingin dihadiri.
Tentu hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dengan beragam minat dan kesukaan. Segala jenis buku tersedia di sini. Segala fasilitas yang dibutuhkan manusia sepanjang hari pun ada; tempat salat, toilet yang bersih, tempat makan, ruang rapat, ruang santai, dan lainnya. Hampir tidak ada sudut yang kosong.
Fenomena ini membuat kita mempertanyakan kembali: apakah benar kemampuan membaca orang Indonesia serendah itu? Atau mungkin, kita hanya melihatnya dari sudut pandang yang keliru?
Saya bercerita kepada Soni Drestiana, Wakil Ketua Panitia Festival Literasi Internasional Minangkabau, betapa luasnya Perpustakaan Jakarta dan betapa banyaknya anak muda yang membaca di sana, baik pada hari kerja maupun hari libur.
"Biasanya, orang yang mengatakan orang lain tidak suka membaca adalah karena dia sendiri tidak akrab dengan dunia membaca, sehingga tidak melihat banyak orang yang sedang membaca," ujar Soni dengan yakin.
Saya tertegun. Saya teringat cerita Buya Hamka saat menjawab seseorang yang secara sinis mengatakan bahwa di kota suci Makkah banyak terdapat praktik pelacuran.
"Saya tidak tahu dan tidak melihatnya. Yang tahu bahwa di Jeddah bahkan Makkah ada pelacuran adalah mereka yang memang sengaja pergi ke tempat itu," sebuah jawaban yang tajam dan telak dari seorang ulama besar asal Minang.
Antara mitos dan realitas ini seolah menjadi beban sejarah. Data dan fakta berkelindan dalam pikiran saya. Menurut data dari UNESCO, tingkat literasi membaca Indonesia memang masih rendah, yakni peringkat ke-60 dari 61 negara. Namun, data ini tidak mencerminkan gambaran secara keseluruhan. Banyak faktor ekosistem yang memengaruhi kemampuan membaca, seperti akses terhadap buku, kualitas pendidikan, dan lingkungan, termasuk faktor ekonomi.
Perpustakaan Jakarta adalah contoh nyata bahwa banyak orang Indonesia yang memiliki kemauan dan kemampuan membaca yang tinggi. Mereka datang ke perpustakaan untuk membaca, menulis, belajar, dan mengembangkan diri.
Jadi, mari kita ubah sudut pandang kita tentang literasi membaca di Indonesia. Mari kita dukung dan promosikan budaya membaca agar kita dapat meningkatkan kemampuan diri dan mencapai potensi maksimal. Lebih jauh lagi, mari kita ubah mitos yang tertanam dalam dokumen penelitian UNESCO.
Kita sebenarnya suka membaca. Terlebih lagi, era dunia digital memudahkan kita untuk membaca di mana saja dan kapan saja, meski tidak sempat berkunjung ke perpustakaan. Tantangannya tinggal bagaimana kita memilih kualitas bacaan tersebut.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi dasar Anda? Adakah gerakan membaca yang dimulai dari diri sendiri setiap harinya? Membangun budaya membaca dan menulis harus dimulai bersama-sama, dari diri kita masing-masing.
*Sastri Bakry, sastrawan Indonesia, Pegiat Literasi, Koordinator Jaringan Sastra BRICS Indonesia.***