Amidhan Shaberah: Indonesia Maju Bila Meneladani Muhammadiyah
Oleh Dr. KH Amidhan Shaberah, Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007.
ORBITINDONESIA.COM - Bayangkan sebuah organisasi yang lahir dari sebuah sekolah kecil di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1912 — hanya bermodal niat tulus dan keyakinan bahwa agama harus menjadi rahmat yang nyata, bukan sekadar ritual. Lebih dari satu abad kemudian, organisasi itu telah menjelma menjadi salah satu kekuatan sipil terbesar di dunia: Muhammadiyah,
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menyampaikan kekagumannya saat menghadiri Silaturahmi Idul Fitri 1447 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta di SM Tower Malioboro, Ahad, 5 April 2026. Ia menegaskan bahwa sejak hari pertama berdirinya, Muhammadiyah tidak pernah bergeser dari tiga pilar utama: pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan kaum mustadh'afin — anak yatim, fakir miskin, dan kelompok yang termarjinalkan.
"Kalau kesadaran bangsa Indonesia dalam membangun bangsa, dalam membangun negara, seperti halnya dicontohkan oleh Tuan-tuan Muhammadiyah, Indonesia akan semakin kuat. Indonesia akan semakin maju, dan Indonesia akan semakin jaya," tegas Muzani.
Bukan Retorika, Ini Angkanya
Apa yang membuat Muzani "terbelalak" bukan sekadar semangat organisasi. Ini adalah fakta yang bisa dihitung, diverifikasi, dan dirasakan oleh jutaan rakyat Indonesia setiap harinya.
Berdasarkan data resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (per 2024–2025), berikut potret amal usaha Muhammadiyah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, bahkan hingga mancanegara:
Pendidikan Tinggi
Muhammadiyah mengelola total 172 perguruan tinggi, yang terdiri dari 83 universitas, 28 institut, 54 sekolah tinggi, 6 politeknik, dan 1 akademi.
Ini menjadikan Muhammadiyah sebagai pengelola jaringan perguruan tinggi swasta terbesar di Indonesia, bahkan di dunia Islam.
Pendidikan Dasar dan Menengah
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, Muhammadiyah mengelola sebanyak 5.345 sekolah atau madrasah, serta 440 pondok pesantren Muhammadiyah. Sedsnhkan Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah, secara mandiri mengelola lebih dari 20.000 TK/PAUD yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Kesehatan
Berdasarkan catatan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum PP Muhammadiyah, pada tahun 2025 terdapat 141 rumah sakit milik Muhammadiyah di seluruh Indonesia, termasuk yang sedang dalam tahap pembangunan. Selain itu, terdapat 231 klinik yang tersebar di seluruh wilayah tanah air.
Pelayanan Sosial
Amal usaha sosial Muhammadiyah mencakup 1.012 unit, termasuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) atau yang dikenal sebagai panti asuhan.
Aset Wakaf
Aset wakaf Muhammadiyah mencapai 20.465 lokasi dengan total luas tanah sebesar 214.742.677 m², setara dengan lebih dari 20 ribu hektar tanah yang telah diwakafkan demi kemaslahatan umat.
Jika dijumlahkan seluruh amal usahanya — dari klinik, panti asuhan, TK, PAUD, Baituttamwil, minimarket, hingga lembaga-lembaga lainnya — totalnya lebih dari 30 ribu unit.
Yang membuat semua ini luar biasa bukan sekadar angkanya. Muhammadiyah membangun semua ini tanpa APBN, tanpa subsidi negara yang masif, dan tanpa motif keuntungan pribadi. Seluruh amal usaha itu dikelola oleh persyarikatan — milik umat, untuk umat.
Pengurusnya bisa silih berganti, namun amal usaha tetap berjalan. Tidak ada dividen yang dibagi kepada anggota dari hasil pengelolaan ribuan lembaga itu. Justru sebaliknya, tugas anggota adalah menyokong amal usaha — dengan uang, tenaga, waktu, dan apa pun yang bisa mereka berikan.
Inilah yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai "filantropi terorganisir" yang paling konsisten dan paling berdampak dalam sejarah Indonesia. KH. Ahmad Dahlan memulai bukan dengan visi membangun "kerajaan bisnis," melainkan dengan pertanyaan sederhana: bagaimana agar agama menjadi gerakan nyata yang mengangkat derajat manusia?
Teladan bagi Bangsa: Dari Civil Society ke Peradaban
Ahmad Muzani benar. Jika semangat Muhammadiyah — membangun dengan tulus, beramal tanpa pamrih, dan menjadikan umat sebagai tujuan — bisa menjadi etos bangsa secara luas, Indonesia tidak hanya akan maju secara ekonomi. Indonesia akan kuat secara peradaban.
Kiprah kemanusiaan Muhammadiyah bahkan telah melampaui batas negara, dengan misi aktif di Palestina, Filipina, Rohingya-Myanmar, Pakistan, Bangladesh, Maroko, Turki, Nepal, Sudan, Libya, Yordania, dan Lebanon. Ini bukan organisasi yang berpikir sempit tentang satu kelompok atau satu bangsa — ini adalah gerakan kemanusiaan universal yang berakar pada nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Di usia 112 tahun, Muhammadiyah telah hadir di setiap sendi kehidupan masyarakat dan memberikan dampak signifikan di berbagai bidang.
Penutup: Bukan Memuji, tapi Meniru
Mengagumi Muhammadiyah adalah mudah. Yang sulit adalah "meniru semangatnya" -- seperti mendirikan sekolah satu per satu, membangun rumah sakit dari wakaf umat, mengasuh anak yatim dengan tangan sendiri, tanpa menunggu perintah negara dan tanpa menghitung untung rugi.
Bila para elite politik, pejabat negara, pengusaha, dan intelektual bangsa ini mau mengambil satu pelajaran dari Muhammadiyah — bahwa kekuatan bangsa dibangun dari amal nyata, bukan dari retorika — maka janji Indonesia Emas bukan mimpi.
Indonesia maju, bukan karena pemimpinnya hebat. Tapi karena rakyatnya berani bergerak seperti Muhammadiyah.***