Jejak Kebaikan Sepasang Alumni ITB: Rumah Gratis bagi Para Mahasiswa Perantau

Perjuangan mahasiswa di perantauan sambil menuntut ilmu bukanlah hal yang mudah, banyak dari mahasiswa yang orangtuanya memiliki keterbatasan harus mengubur mimpi mereka, namun dengan adanya Rumah Anak Bangsa yang didirikan oleh pasangan alumni Institut Teknologi Bandung, satu per satu mimpi anak bangsa untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi kembali menemukan jalannya.

Di balik rumah sederhana itu, berdiri dua sosok yang memilih memberi dukungan tanpa banyak suara: Doddy Rahadi dan Ariati Arismunandar. Mereka bukan tokoh publik yang kerap tampil di panggung besar. Tidak ada gemerlap penghargaan yang mengiringi langkah mereka. Namun justru dalam kesunyian itulah, nilai dari apa yang mereka lakukan terasa begitu dalam.

Bagi banyak orang, rumah adalah aset. Investasi. Simbol pencapaian. Namun bagi Doddy Rahadi dan Ariati Arismunandar, rumah dimaknai sebagai ruang berbagi. Tempat di mana mimpi anak bangsa bisa dijaga dan diperjuangkan bersama. Mereka mengubah fungsi dasar sebuah bangunan menjadi sesuatu yang lebih berarti: tempat untuk memberi harapan.

Keputusan membuka Rumah Anak Bangsa bukanlah langkah instan. Ia lahir dari kesadaran panjang, bahwa perjalanan mereka hingga berhasil menempuh pendidikan tidak lepas dari berbagai dukungan. Ketika kesempatan itu datang, mereka tidak memilih untuk berhenti pada rasa syukur, tetapi melanjutkannya menjadi aksi nyata.

Di kota Bandung, yang sejak lama dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia, masih banyak mahasiswa perantau yang tertinggal, bukan karena kurang mampu secara akademik, melainkan karena keterbatasan ekonomi untuk bertahan. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya harus kembali ke kampung halaman, mengubur mimpi, setelah dihadapkan pada kenyataan bahwa biaya menuntut ilmu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Dari realitas itulah, Doddy Rahadi dan Ariati Arismunandar tergerak untuk mengambil peran. Mereka membuka pintu rumahnya, memberi ruang bagi mahasiswa untuk tetap bertahan dan melanjutkan pendidikan yang nyaris terhenti.

Tidak ada sistem rumit. Tidak ada seleksi yang kaku. Yang mereka lihat adalah kesungguhan. Mereka menerima mahasiswa yang benar-benar membutuhkan, lalu memperlakukan mereka bukan sebagai “penerima bantuan”, melainkan sebagai bagian dari keluarga. Di meja makan yang sama, di ruang belajar yang sama, tumbuh nilai-nilai yang tidak diajarkan di ruang kuliah: empati, tanggung jawab, dan ikatan kebersamaan.

Doddy dan Ariati tidak hanya menyediakan tempat tinggal. Mereka hadir sebagai figur yang menguatkan. Mereka bersikap selayaknya orang tua yang sedang merawat anaknya. Mereka memahami bahwa bertahan di perantauan bukan hanya soal finansial, tetapi juga soal mental.

Sudah lebih dari satu dekade mereka menjaga komitmen ini. Tanpa publikasi besar, tanpa ambisi untuk dikenal luas. Namun dari rumah itu, telah lahir puluhan kisah, mahasiswa yang berhasil lulus, yang melanjutkan hidup dengan lebih percaya diri, dan yang membawa semangat untuk suatu hari melakukan hal serupa bagi orang lain.

Apa yang dilakukan Doddy dan Ariati mungkin tampak sederhana. Hanya membuka sebuah rumah harapan bagi anak bangsa. Namun di tengah realitas yang sering kali menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya, pilihan mereka menjadi sesuatu yang langka. Sebuah kebaikan berharga yang memberi nilai bagi sesama.

Mereka mengajarkan bahwa memberi tidak selalu harus menunggu berlebih. Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang hanya cukup dengan hati yang tulus dan rasa empati yang tinggi untuk mau peduli.