Ketika Sang Ateis/Materialis Mengira Robot Memiliki Jiwa: Catatan Filosofis tentang AI dan Kesadaran Manusia

Oleh Berthold Damshäuser

ORBITINDONESIA.COM - Dalam beberapa dekade terakhir, nama Richard Dawkins dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu pemikir sains paling radikal. Sebagai seorang ahli biologi evolusi dari Inggris, Dawkins adalah tokoh utama dalam gerakan "Atheisme Baru".

Melalui buku-buku terkenalnya seperti The Selfish Gene (Gen yang Egois) dan The God Delusion (Akal Sehat versus Tuhan), ia selalu mempertahankan pandangan materialisme ekstrem: bahwa Tuhan itu tidak ada, dan manusia hanyalah sebuah "mesin biologis" yang dikendalikan oleh materi dan genetika semata. Baginya, tidak ada yang namanya jiwa atau dunia spiritual.

Namun, sebuah peristiwa menarik baru-baru ini terjadi. Ketika Dawkins mencoba Claude, model kecerdasan buatan (AI) terbaru buatan perusahaan Anthropic, sang ilmuwan skeptis ini justru terkejut. Dalam sebuah kolom artikelnya, Dawkins mengaku sangat terpukau oleh kemampuan bahasa AI tersebut. Ia menulis:

“Claude’s responses are so human, so nuanced, so tailored to the prompt, that it’s hard to escape the illusion of a mind.” (“Jawaban Claude begitu manusiawi, begitu bernuansa, dan sangat sesuai dengan perintah, sehingga sulit untuk menghindari ilusi adanya sebuah pikiran/kesadaran.”)

Lebih jauh lagi, Dawkins bahkan menyimpulkan bahwa AI tersebut seolah-olah memiliki "kehendak sendiri" (own will). Sungguh sebuah ironi yang besar: seorang tokoh yang sepanjang hidupnya menolak adanya jiwa pada manusia, kini justru melihat seolah-olah ada "jiwa" dan kesadaran di dalam sebuah program komputer.

Terjebak dalam Teori Sendiri: Efek "Meme"

Mengapa seorang pemikir besar seperti Dawkins bisa terjebak dalam ilusi ini? Jawabannya sebenarnya ada dalam teorinya sendiri. Pada tahun 1976, Dawkins menciptakan istilah "Meme" (bukan sekadar gambar lucu di internet, melainkan unit informasi budaya yang menyebar dari satu pikiran manusia ke pikiran lainnya).

AI seperti Claude sebenarnya adalah pengumpul "meme" raksasa. AI tidak bisa berpikir, tidak punya perasaan, dan tidak memiliki kesadaran. Ia hanya membaca miliaran teks buatan manusia, mempelajari polanya, dan memprediksi kata berikutnya secara matematika. Ketika AI berkata, "Saya rasa kita harus melihat masalah ini dengan bijak," ia tidak sedang berpikir. Ia hanya memantulkan kembali cara manusia berbicara.

Dawkins melihat pantulan budaya manusia di dalam komputer, dan ia mengira itu adalah sebuah kesadaran baru. Sang pencipta teori telah terinfeksi oleh teorinya sendiri.

Ketenangan kalangan berpandangan spiritual dan teistik dalam menghadapi AI

Di sinilah kita melihat sebuah pemandangan filosofis yang terbalik. Selama ini, orang-orang yang percaya pada hal spiritual, religius, atau pandangan Platonis sering dianggap kuno oleh kaum materialis. Namun, dalam menghadapi era kecerdasan buatan, kaum spiritualis justru menjadi pihak yang paling rasional dan tenang. Why?

Masyarakat yang memiliki pandangan teologis dan spiritual tahu bahwa manusia bukanlah sekadar mesin daging dan tulang. Manusia memiliki ruh, sebuah percikan suci yang berasal dari alam spiritual dan akan kembali ke sana.

Dalam pandangan ini, otak fisik manusia bukanlah pencipta pikiran, melainkan hanyalah alat pemantul atau antena yang menangkap kesadaran spiritual tersebut. Jiwa dan batin manusia tetap ada dan berpikir, bahkan tanpa ketergantungan mutlak pada materi fisik.

Karena landasan berpikir ini, masyarakat yang religius dan spiritual tidak akan mudah tertipu oleh kehebatan AI. Bagi mereka, secanggih apa pun sebuah komputer:

· Ia tetaplah sebuah alat, tidak berbeda dengan mesin ketik atau televisi yang sangat pintar.

· Ia bisa meniru bahasa manusia dengan sempurna, tetapi di dalamnya kosong—tidak ada "Aku", tidak ada kesadaran, dan tidak ada ruh.

· AI adalah simulasi, bukan duplikasi dari manusia.

Kesimpulan: Jebakan Kaum Materialis

Dawkins terjebak karena sudut pandangnya sendiri yang sempit. Jika seseorang percaya bahwa manusia hanyalah robot biologis yang terbuat dari daging, maka secara logis ia akan mudah percaya bahwa robot yang terbuat dari silikon dan listrik juga bisa menjadi manusia.

Kisah Dawkins dan Claude ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ini membuktikan bahwa tanpa pengakuan terhadap dimensi spiritual dan non-materi pada manusia, sains modern akan kehilangan arah.

Pada akhirnya, skeptisisme radikal yang menolak Tuhan atau Keillahian justru berakhir menjadi bentuk "kepercayaan baru" yang memuja mesin digital. Manusia seutuhnya hanya bisa dipahami jika kita mengakui adanya jiwa yang ditiupkan oleh Sang Pencipta, sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh algoritma komputer mana pun.

-------------------------

Berthold Damshäuser, akrab dipanggil “Pak Trum”, lahir pada tahun 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 hingga 2023, ia mengabdikan dirinya sebagai pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn. Ia adalah koeditor Orientierungen, jurnal bergengsi yang mengkaji kebudayaan Asia. Damshäuser dikenal luas sebagai penerjemah puisi—mengalihkan karya-karya Jerman ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya—serta beberapa kali dipercaya menjadi penerjemah Presiden Suharto dalam kunjungan kenegaraan. Bersama Agus R. Sarjono, ia menyunting Seri Puisi Jerman yang diterbitkan sejak 2003. Pada 2010, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menunjuknya sebagai Presidential Friend of Indonesia. Pada 2014 dan 2015, ia diundang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Esai-esainya dalam bahasa Indonesia telah menghiasi halaman Majalah Tempo, Jurnal Sajak, dan berbagai media terkemuka. Karya-karya tulisnya dihimpun dalam buku Ini dan Itu Indonesia – Pandangan Seorang Jerman. Salah satu karya terbarunya, Eksegesis Pancasila: Membaca Ulang Lima Sila. Amatan Seorang Jerman, diterbitkan di Jakarta pada tahun 2025. Sejak 2023, ia menjadi anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Ia menetap di Bonn, Jerman. ***