Buku Terbaru Marcus Mietzner Mengulas Jokowi sebagai Figur yang Penuh Ambiguitas, Sulit Dipahami Secara Sederhana

Marcus Mietzner. Ruling Indonesia: Jokowi’s Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition. University of Michigan Press, 2026.

ORBITINDONESIA.COM - Buku Ruling Indonesia: Jokowi’s Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition karya Marcus Mietzner bukan sekadar potret seorang presiden. Ia adalah upaya membaca satu dekade Indonesia melalui sosok yang, dalam banyak hal, justru sulit dipahami secara sederhana.

Di tangan Mietzner, Jokowi tidak ditempatkan sebagai pahlawan, tetapi juga tidak direduksi menjadi perusak demokrasi. Ia hadir sebagai figur yang penuh ambiguitas—dan justru di situlah buku ini menemukan kekuatannya.

Sejak awal, buku ini mengajak pembaca masuk ke perdebatan yang sudah lama mengitari Jokowi: apakah ia “jenius” pembangunan seperti yang dipuji sebagian pengamat, atau justru aktor yang meninggalkan “bau busuk” bagi demokrasi, sebagaimana dikritik media internasional.

Mietzner tidak buru-buru memilih salah satu. Ia justru membedah keduanya, memperlihatkan bagaimana dua narasi itu bisa sama-sama benar—tergantung dari sudut mana kita melihatnya .

Narasi buku ini mengalir seperti cerita tentang seorang pemimpin yang memiliki satu obsesi utama: pembangunan ekonomi. Dalam berbagai kebijakan—dari pembangunan infrastruktur besar-besaran, pengelolaan pandemi, hingga strategi luar negeri—Jokowi tampak konsisten menempatkan ekonomi sebagai kompas utama. Jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga proyek ambisius seperti Ibu Kota Nusantara menjadi simbol dari visi ini. Negara, dalam bayangan Jokowi, adalah mesin pembangunan; presiden adalah manajernya.

Namun di titik inilah paradoks mulai muncul. Ketika energi politik terserap hampir sepenuhnya untuk pembangunan, ruang lain perlahan terabaikan. Demokrasi, yang pada awal reformasi dibayangkan sebagai fondasi utama, dalam praktiknya justru menjadi sesuatu yang “dikelola”, bahkan dikompromikan.

Mietzner menunjukkan bagaimana pelemahan institusi, pembatasan kritik, hingga praktik politik dinasti bukanlah kecelakaan, melainkan konsekuensi dari pilihan prioritas tersebut. Demokrasi tidak dihancurkan secara frontal—ia tetap berdiri—tetapi kualitasnya perlahan tergerus.

Yang menarik, buku ini tidak melihat kondisi itu sebagai kontradiksi personal Jokowi. Sebaliknya, Mietzner justru menunjukkan adanya konsistensi yang jarang disadari. Jokowi bukan pemimpin yang gamang atau plin-plan. Ia justru sangat fokus—bahkan terlalu fokus.

Dalam logika ini, ketika demokrasi dianggap menghambat efisiensi pembangunan, maka ia akan disesuaikan. Ketika politik perlu ditenangkan demi stabilitas ekonomi, maka koalisi diperluas, bahkan hingga merangkul lawan. Apa yang tampak sebagai kompromi politik, dalam perspektif Jokowi, adalah strategi rasional.

Di sinilah potret Jokowi menjadi semakin kompleks. Ia bukan sekadar “orang biasa” yang naik ke puncak kekuasaan. Ia adalah politisi yang sangat pragmatis, dengan insting kekuasaan yang tajam.

Buku ini memperlihatkan bagaimana ia mengelola koalisi besar, mendistribusikan posisi, dan mengamankan dukungan elite—semuanya dengan pendekatan yang nyaris Machiavellian. Popularitas publik menjadi modal utama, tetapi pengelolaan elite adalah kunci bertahannya kekuasaan.

Di sisi lain, Mietzner juga mengingatkan bahwa Jokowi adalah produk zamannya. Ia mencerminkan tren yang lebih luas di dunia Global South, di mana banyak pemimpin mulai menggeser fokus dari demokrasi prosedural menuju pembangunan ekonomi.

Dalam konteks ini, sikap Jokowi terhadap Barat—yang kerap mendorong standar demokrasi liberal—menjadi lebih bisa dipahami. Ia tidak menolak demokrasi, tetapi juga tidak menjadikannya prioritas utama. Yang lebih penting adalah pertumbuhan, stabilitas, dan hasil yang konkret.

Buku ini menjadi penting justru karena ia tidak menawarkan jawaban yang sederhana. Ia tidak memaksa pembaca untuk memilih apakah Jokowi berhasil atau gagal. Sebaliknya, ia mengajak kita memahami bahwa keberhasilan dan kegagalan bisa berjalan beriringan.

Indonesia di bawah Jokowi memang lebih kuat secara ekonomi, lebih percaya diri di panggung global, dan lebih terintegrasi secara infrastruktur. Namun pada saat yang sama, ia juga lebih rapuh secara institusional, lebih pragmatis dalam politik, dan lebih kompromistis terhadap nilai-nilai demokrasi.

Pada akhirnya, Ruling Indonesia bukan hanya tentang Jokowi. Ia adalah cermin tentang bagaimana demokrasi bekerja dalam praktik—bukan dalam idealisasi. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan selalu melibatkan pilihan, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Jokowi memilih pembangunan, dan pilihan itu membentuk wajah Indonesia hari ini.

Membaca buku ini seperti membaca sebuah cerita tentang ambisi, strategi, dan kompromi—tentang seorang pemimpin yang berhasil mengubah banyak hal, tetapi juga meninggalkan pertanyaan besar tentang arah masa depan. Dan mungkin, justru di situlah letak nilai terpentingnya: ia tidak menutup diskusi, tetapi membukanya. 

(Oleh Anick HT) ***