Kesetaraan Kadang Sesederhana Lepas Sepatu

Oleh _Mila Muzakkar_

(Founder Generasi Literat)

 

Di masa kuliah dulu, setiap pihak fakultas atau jurusan mengadakan acara—seminar, diskusi, atau forum ilmiah—di aula atau ruang pertemuan besar, bagian depan pintu selalu dipenuhi tumpukan sepatu. Sebagian tertata rapi, sisanya berhamburan entah di mana pasangannya.

“Alas kaki dilepas.” Begitu tulisan di pintu masuk. Semua mahasiswa pun memasuki ruangan tanpa sepatu.

Dekan, kepala jurusan beserta jajarannya, dosen, dan narasumber acara pun datang memasuki ruangan—lengkap dengan sepatu mereka. Mereka disambut ramah oleh mahasiswa: dari cium tangan sampai minta selfie.

Nggak ada yang merasa itu aneh. Nggak ada yang bertanya, apalagi protes: “Kenapa mereka nggak lepas sepatu?”

Padahal siapa yang bisa memastikan sepatu mereka benar-benar bersih? Bebas debu, becek, atau kotoran yang bisa mengotori satu ruangan?

Tapi waktu itu, sebagai mahasiswa, kami nggak mempermasalahkannya. Bagi kami, pemandangan seperti itu terasa normal. Wajar. Karena yang dianggap “guru” dan “pemimpin” adalah mereka: dosen, Dekan, dan narasumber.

Setelah dewasa, membaca banyak buku, mengikuti berbagai forum diskusi, dan ditempa oleh pengalaman hidup, hati kecilku mulai terusik. Aku mulai melihat kejanggalan-kejanggalan yang dulu dianggap biasa saja.

Sampai akhirnya aku sadar: ada banyak hal yang sebenarnya nggak normal, tetapi terus dinormalisasi oleh keadaan—dan diterima begitu saja oleh manusia.

***

Siang itu, aku kembali ke kampus. Ke ruangan yang sama, tempat dulu aku duduk manis bersama mahasiswa lainnya.

Tapi kali ini aku datang dengan dua perbedaan. Pertama, aku bukan lagi pendengar. Aku hadir sebagai narasumber.

Kedua, aku memasuki ruangan TANPA SEPATU. Sama seperti mahasiswa lainnya.

Aku duduk di barisan depan kursi teater. Lalu, Sang Dekan datang—seperti biasa disambut ramah oleh mahasiswa. Aku pun berdiri menyambutnya. Ia adalah dosen yang dulu pernah mengajarku. Salah satu dosen favoritku. 

“Eh, kok nggak pakai sepatu?” tegurnya.

“Iya, nggak apa-apa, Pak. Teman-teman yang lain juga buka sepatu di depan,” jawabku santai.

Sambil tersenyum, sang Dekan ikut membuka sepatunya, lalu menyimpannya di samping kursi. “Kalau gitu saya buka sepatu juga,” katanya.

Jujur, aku agak kaget. Tapi di saat yang sama, aku kagum pada sikapnya.

Bagiku, itu bukan sekadar soal sepatu. Itu adalah bentuk komunikasi interpersonal yang sehat. Sebuah komunikasi yang mengedepankan kesetaraan.

(Baca: Joseph A. DeVito)

DeVito menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif dibangun di atas lima sikap utama.

Pertama, keterbukaan (openness): kemauan untuk bersikap jujur, terbuka, dan merespons orang lain dengan tulus.

Kedua, empati (empathy): kemampuan memahami perasaan orang lain dan melihat situasi dari sudut pandang mereka.

Ketiga, sikap mendukung (supportiveness): menghadirkan komunikasi yang membangun, tidak menghakimi, dan tidak mengintimidasi.

Keempat, sikap positif (positiveness): menghargai diri sendiri dan orang lain melalui kata-kata maupun sikap yang menyenangkan.

Dan kelima, kesetaraan (equality): pengakuan bahwa setiap manusia sama-sama bernilai, terlepas dari status sosial, jabatan, atau posisi.

Lalu, apa hubungan sepatu dengan kesetaraan?

Mungkin secara langsung nggak ada.

Tapi hal-hal kecil seperti itulah yang sering menjadi cermin: apakah kita benar-benar mempraktikkan kesetaraan, atau hanya pandai membicarakannya.

Karena kesetaraan nggak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dibudayakan.

Kesetaraan bukan sekadar kata sifat. Ia adalah kata kerja. Ia harus dipraktikkan. Diperlihatkan. Dan dinormalisasi, termasuk dalam hal-hal yang terlihat sepele.

Sebab ketika kesetaraan sudah menjadi mindset sekaligus lifestyle, kita mungkin nggak perlu lagi menghabiskan puluhan tahun berbusa-busa memperjuangkan pengakuan bahwa semua manusia memang sama-sama layak dihargai.

***

Seminggu lalu, aku memberi training tentang kesehatan mental di salah satu kampus di Tangerang. Di antara sepatu yang bertebaran di depan pintu aula, ada sepasang sepatuku. 

Lalu sang Dekan datang. Memasuki aula, lengkap dengan sepatunya. Staf fakultas menyusul datang, lengkap dengan sepatunya. 

Lalu kita sibuk berbicara tentang kesetaraan, tapi bahkan dalam hal sesederhana sepatu pun, kita masih menciptakan jarak.

Lalu kita heran kenapa kesetaraan begitu sulit tumbuh?

 

9 Mei 2026