Persaingan Indonesia dan Malaysia Dalam Berburu Teknologi Rudal, Indonesia Unggul
ORBITINDONESIA.COM - Konflik Laut China Selatan meningkat: Berikut perkembangan perburuan sistem pertahanan rudal antara Indonesia dan Malaysia
Langkah Progresif Indonesia: Diversifikasi dan Transfer Teknologi
Indonesia secara agresif mengamankan sistem senjata strategis dari berbagai poros untuk memperkuat postur pertahanan "aktif dan defensif", dengan fokus pada pencegahan.
Rudal Balistik KHAN (Turki)
Indonesia telah berhasil memperoleh rudal balistik taktis buatan Roketsan ini. Dengan jangkauan presisi hingga 280 km, militer Indonesia telah mengerahkan sistem rudal ini di Kalimantan Timur (dekat ibu kota Sabah dan Sarawak) sejak Agustus 2025.
Posisi ini dianggap strategis untuk merespons ancaman dari timur laut dengan cepat, termasuk Laut China Selatan.
Rudal Jelajah Çakır (Turki)
Melalui kesepakatan bersejarah di pameran IDEF pada Juli 2025, Indonesia tidak hanya membeli tetapi juga mendirikan usaha patungan (PT Republik Roketsan Indonesia) untuk memproduksi rudal jelajah Çakır secara lokal di bawah skema transfer teknologi.
Rudal canggih, sangat lincah, dan siluman ini diproyeksikan untuk melengkapi armada terbaru Kapal Rudal Cepat (KCR) siluman Angkatan Laut Indonesia.
Rudal Supersonik BrahMos (India)
Indonesia juga baru-baru ini menyepakati kesepakatan senilai $300 juta dengan India untuk baterai pantai rudal BrahMos.
Mampu mencapai kecepatan hingga Mach 3, pengadaan ini menjadikan Indonesia negara Asia Tenggara kedua (setelah Filipina) yang mengoperasikan rudal jelajah tercepat di dunia, yang akan secara drastis memperkuat pertahanan pantai dan maritim nasional.
Hambatan Strategis Malaysia: Pembatalan Kontrak NSM
Sementara itu, upaya Malaysia untuk memperkuat serangan angkatan lautnya baru-baru ini menemui jalan buntu yang serius.
Pada pertengahan Mei 2026, pemerintah Norwegia tiba-tiba mencabut izin ekspor untuk sistem Rudal Serang Angkatan Laut (NSM), yang awalnya dikontrak untuk Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN).
Norwegia berpendapat bahwa langkah ini semata-mata karena pengetatan peraturan pengendalian ekspor terkait dengan perubahan lanskap keamanan global di Eropa dan secara global.
Keputusan sepihak ini memicu perselisihan diplomatik. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sangat memprotes dan mengecam tindakan Oslo. Ia menegaskan bahwa pembatalan sepihak tanpa hukuman ini merusak reputasi produsen pertahanan Eropa sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan.
Dampak Geopolitik di Kawasan
Dinamika ini telah menciptakan polarisasi kesiapan militer antara kedua negara tetangga. Akuisisi KHAN, Çakır, dan BrahMos memberi Indonesia kemampuan serangan balasan dan radius payung pertahanan yang dapat menjangkau wilayah sengketa di Laut Cina Selatan. Keberhasilan transfer teknologi dengan Turki juga menjamin kemandirian logistik jangka panjang.
Sebaliknya, kegagalan Malaysia untuk memperoleh NSM menunda modernisasi armada tempur angkatan lautnya, menciptakan kesenjangan operasional sementara yang memaksa Kuala Lumpur untuk segera mencari senjata alternatif atau mengambil tindakan hukum di tengah ketegangan regional yang menuntut kesiapan militer yang cepat.
(Sumber: ASEAN Military Defense Review) ***