Resensi Buku Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2020) Karya Ahmet T. Kuru

Pendahuluan: Mengapa Dunia Muslim Tertinggal?

ORBITINDONESIA.COM- Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2020) karya Ahmet T. Kuru merupakan salah satu buku paling provokatif dan penting dalam diskursus modern tentang dunia Islam. Buku ini berusaha menjawab pertanyaan besar yang selama berabad-abad menghantui dunia Muslim: mengapa banyak negara mayoritas Muslim mengalami ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan, demokrasi, ekonomi, dan kebebasan politik dibandingkan banyak wilayah lain di dunia?

Pertanyaan ini sangat sensitif karena sering kali dijawab secara simplistis. Sebagian kalangan Barat menuduh Islam sebagai penyebab utama kemunduran. Sebaliknya, sebagian umat Islam menyalahkan sepenuhnya kolonialisme Barat dan imperialisme global. Namun Ahmet T. Kuru menolak kedua pendekatan tersebut. Ia tidak melihat problem dunia Islam sebagai akibat ajaran Islam itu sendiri, tetapi sebagai hasil dari struktur historis dan politik tertentu yang berkembang selama berabad-abad.

Kuru — profesor ilmu politik keturunan Turki yang mengajar di Amerika Serikat — menulis buku ini dengan pendekatan historis, sosiologis, dan komparatif yang sangat luas. Ia menelusuri sejarah dunia Islam sejak abad pertengahan hingga era modern, membandingkannya dengan perkembangan Eropa, Asia Timur, dan peradaban lain. Hasilnya adalah tesis yang tajam sekaligus kontroversial: kemunduran dunia Muslim terjadi ketika aliansi antara ulama konservatif dan negara militeristik menghancurkan kelas intelektual independen dan kelas borjuis produktif yang sebelumnya menjadi motor kemajuan Islam.

Buku ini bukan serangan terhadap Islam, melainkan kritik terhadap struktur kekuasaan yang mengatasnamakan Islam. Karena itu, membaca buku ini terasa seperti membuka otopsi panjang atas tubuh politik dan intelektual dunia Muslim modern.

Isi dan Struktur Buku: Dari Keemasan Islam ke Aliansi Ulama-Negara

Struktur buku ini dibangun secara historis dan argumentatif. Ahmet T. Kuru memulai dengan membongkar asumsi umum bahwa dunia Islam sejak awal selalu identik dengan otoritarianisme dan anti-sains. Menurutnya, asumsi itu keliru secara historis.

Pada periode awal hingga abad ke-11, dunia Islam justru merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan keterbukaan intelektual terbesar di dunia. Kota-kota seperti Baghdad, Cordoba, dan Kairo menjadi pusat filsafat, matematika, kedokteran, astronomi, dan perdagangan internasional. Pada masa itu, ilmuwan, pedagang, dan ulama independen memiliki posisi sosial yang relatif kuat.

Kuru menunjukkan bahwa kemajuan Islam klasik lahir dari adanya pluralitas kekuatan sosial. Negara tidak sepenuhnya mengontrol kehidupan intelektual. Para pedagang kaya mendukung perkembangan ilmu, sementara para ilmuwan memiliki ruang relatif bebas untuk berpikir. Tokoh-tokoh seperti Ibn Sina, Al-Farabi, dan Ibn Rushd tumbuh dalam ekosistem intelektual yang hidup dan dinamis.

Namun titik balik besar, menurut Kuru, terjadi sekitar abad ke-11 hingga ke-13 ketika dunia Islam mulai mengalami militerisasi politik akibat perang salib, invasi Mongol, dan konflik internal. Dalam situasi itu muncul aliansi antara negara militer dan ulama ortodoks. Negara membutuhkan legitimasi agama, sementara sebagian ulama memperoleh perlindungan dan posisi sosial dari negara.

Aliansi ini perlahan menyingkirkan filsafat rasional, melemahkan kelas pedagang independen, dan mempersempit ruang berpikir kritis. Ilmu-ilmu rasional mulai dicurigai, sementara budaya taqlid dan konservatisme berkembang semakin kuat.

Kuru tidak mengatakan bahwa agama menyebabkan kemunduran. Sebaliknya, ia berargumen bahwa struktur politik otoriterlah yang membentuk interpretasi agama menjadi semakin konservatif dan anti-kritis.

Analisis Utama: Otoritarianisme sebagai Masalah Historis, Bukan Takdir Islam

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah keberanian Kuru memisahkan antara Islam sebagai agama dan sejarah politik umat Islam.

Ia menunjukkan bahwa tidak ada hubungan otomatis antara Islam dan otoritarianisme. Jika memang Islam secara inheren anti-demokrasi dan anti-ilmu, maka sulit menjelaskan mengapa dunia Islam pernah menjadi pusat sains dunia selama berabad-abad.

Menurut Kuru, problem utamanya terletak pada dominasi “negara ulama” yang berkembang setelah abad pertengahan. Ketika ulama menjadi terlalu dekat dengan kekuasaan politik, kebebasan intelektual melemah. Agama berubah dari sumber etika menjadi alat legitimasi negara.

Dalam konteks ini, Kuru juga mengkritik warisan kolonialisme dan imperialisme Barat, tetapi ia menolak menjadikannya satu-satunya kambing hitam. Ia berargumen bahwa banyak masalah internal dunia Muslim sudah muncul jauh sebelum kolonialisme modern datang.

Yang menarik, Kuru juga melakukan perbandingan dengan Eropa. Ia menunjukkan bahwa kemajuan Eropa bukan semata karena “budaya Barat lebih unggul”, tetapi karena munculnya kelas borjuis independen, universitas otonom, dan pembatasan kekuasaan gereja serta negara.

Dengan kata lain, kemajuan lahir ketika pengetahuan, ekonomi, dan kekuasaan tidak dimonopoli satu kelompok.

Gaya Penulisan dan Pendekatan Intelektual

Ahmet T. Kuru menulis dengan gaya akademik tetapi tetap mudah diikuti. Ia menggunakan data statistik, sejarah politik, teori sosiologi, dan perbandingan lintas peradaban secara sistematis. Namun berbeda dari banyak akademisi yang dingin dan abstrak, tulisan Kuru terasa hidup karena selalu terkait dengan pertanyaan nyata tentang kondisi dunia Islam hari ini.

Nada bukunya kritis tetapi tidak sinis. Ia tidak menyerang Islam sebagai keyakinan spiritual. Sebaliknya, ia justru ingin menunjukkan bahwa tradisi Islam memiliki potensi besar untuk melahirkan peradaban maju jika terbebas dari struktur politik yang menindas kebebasan berpikir.

Kuru juga berani mengkritik romantisme sejarah Islam. Ia menolak nostalgia kosong tentang “kejayaan Islam” tanpa keberanian mengakui problem internal yang nyata. Dalam pandangannya, kebangkitan Islam modern tidak bisa dibangun hanya dengan slogan identitas, tetapi harus dimulai dari reformasi pendidikan, kebebasan intelektual, dan pembatasan kekuasaan negara.

Konteks Global dan Relevansi bagi Dunia Muslim Kontemporer

Buku ini sangat relevan dibaca di tengah krisis dunia Muslim modern: perang saudara, radikalisme agama, pemerintahan otoriter, dan ketertinggalan pendidikan yang masih meluas di banyak negara mayoritas Muslim.

Kuru menunjukkan bahwa problem tersebut bukan sekadar akibat konspirasi asing atau kemerosotan moral individu, melainkan hasil sejarah panjang hubungan antara agama dan kekuasaan politik.

Dalam konteks Indonesia, buku ini terasa sangat penting. Indonesia sering dipandang sebagai salah satu contoh demokrasi Muslim yang relatif moderat, tetapi tetap menghadapi tantangan populisme agama, politisasi identitas, dan anti-intelektualisme.

Kuru secara tidak langsung mengingatkan bahwa masa depan dunia Islam tidak akan ditentukan oleh seberapa keras slogan keagamaannya, tetapi oleh seberapa besar keberanian umat Islam membangun tradisi ilmu, kebebasan berpikir, dan institusi yang mandiri dari kontrol kekuasaan.

Penutup: Membongkar Mitos, Mencari Jalan Kebangkitan

Melalui Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Ahmet T. Kuru menghadirkan sebuah kritik yang tajam sekaligus reflektif terhadap sejarah dunia Muslim modern. Ia menunjukkan bahwa kemunduran bukanlah takdir teologis, melainkan hasil dari struktur kekuasaan historis yang membatasi kebebasan intelektual dan perkembangan sosial.

Buku ini penting karena menolak dua ekstrem sekaligus: islamofobia Barat yang menyalahkan Islam secara esensial, dan romantisme internal umat Islam yang menolak kritik sejarah.

Kuru mengajak pembaca melihat bahwa peradaban Islam pernah maju justru ketika ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kebebasan berpikir berkembang secara mandiri dari dominasi negara militeristik.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya analisis sejarah, tetapi juga seruan intelektual. Sebuah seruan bahwa kebangkitan dunia Islam tidak cukup dibangun dengan nostalgia kejayaan masa lalu atau retorika identitas, melainkan dengan keberanian membuka ruang bagi akal, kritik, ilmu, dan kebebasan manusia.

Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan adalah bacaan penting bagi siapa pun yang ingin memahami dunia Islam secara lebih jujur, historis, dan mendalam — bukan melalui slogan, tetapi melalui refleksi kritis atas perjalanan panjang peradaban manusia.***