Proyek Gas Jackdaw Skotlandia Disetujui, Energi Inggris Dipertaruhkan

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemerintah Inggris menyetujui proyek gas alam Jackdaw di lepas pantai Skotlandia, dengan alasan memperkuat keamanan energi saat transisi menuju energi terbarukan. Keputusan ini memicu kembali debat panas: apakah “gas domestik” benar-benar solusi, atau hanya penundaan mahal menuju target net zero 2050.

Terjemahan akurat artikel sumber: Pemerintah Inggris pada Rabu menyetujui proyek gas alam di lepas pantai Skotlandia meski ditentang kelompok lingkungan, dengan alasan akan meningkatkan keamanan energi ketika negara beralih ke sumber terbarukan. Gas dari ladang Jackdaw di timur Aberdeen, yang sempat tertahan putusan pengadilan pada 2024, diperkirakan mulai mengalir ke jaringan distribusi gas Inggris akhir tahun ini.

Pemerintah menyatakan proyek itu akan mengurangi ketergantungan pada energi asing yang terancam oleh perang Iran dan perang Rusia-Ukraina. Otoritas belum memutuskan proyek Rosebank di barat Kepulauan Shetland, yang diperkirakan terutama menghasilkan minyak mentah.

Perdana Menteri Andy Burnham mengatakan keputusan itu akan “melindungi ratusan pekerjaan dan membantu menjaga jutaan rumah tetap hangat musim dingin ini.” Burnham menegaskan pemerintah ingin memaksimalkan cadangan energi yang ada di Inggris saat masyarakat sedang kesulitan, namun tetap “berkomitmen bergerak menuju energi terbarukan” dan mencapai emisi nol-bersih pada 2050.

Jackdaw dan Rosebank menjadi perdebatan sengit di Inggris dan di luar negeri, termasuk tekanan dari Presiden AS Donald Trump agar Burnham memberi izin. Pada Rabu, Trump menulis di Truth Social bahwa persetujuan Jackdaw adalah “kabar bagus,” dan menyerukan Inggris “tancap gas” mengebor di Laut Utara.

Pendukung berargumen Inggris masih membutuhkan minyak dan gas untuk industri dan pemanas rumah saat negara menambah porsi energi terbarukan seperti angin dan nuklir, serta lebih baik memakai sumber lokal ketimbang bergantung pasokan asing. Pemerintah menyebut Jackdaw memberi kontribusi “kecil namun bermakna” bagi keamanan energi, sekitar 5% produksi gas Inggris selama usia proyek 11 tahun.

Namun pemerintah mengakui Jackdaw tidak akan menghilangkan kebutuhan impor gas atau menurunkan harga, karena harga ditentukan pasar internasional. Aktivis lingkungan dan sebagian anggota Partai Buruh menilai proyek ini bertentangan dengan upaya mengurangi bahan bakar fosil dan memerangi perubahan iklim.

Mereka memperingatkan persetujuan proyek akan melanggar komitmen iklim nasional dan internasional Inggris, menambah emisi karbon, dan memberi manfaat kecil bagi publik. Kate Norgrove dari WWF-UK menyatakan keputusan itu hanya mendukung sedikit pekerjaan, tidak menurunkan harga, dampaknya kecil bagi pertumbuhan, dan merusak kepemimpinan iklim Inggris.

Jackdaw sempat disetujui pemerintahan Konservatif pada 2022, tetapi tertahan gugatan hukum. Court of Session di Edinburgh memutus pada 2025 bahwa persetujuan Jackdaw dan Rosebank melanggar hukum karena pemerintah gagal mempertimbangkan emisi karbon dari pembakaran gas saat menilai dampak lingkungan.

Setelah peninjauan lanjutan, Menteri Energi Miatta Fahnbulleh menyetujui Jackdaw pada Rabu. Fahnbulleh mengatakan keputusan ini mendukung keamanan energi musim dingin dengan gas domestik dan meminimalkan penggunaan bahan bakar impor beremisi lebih tinggi, sambil melanjutkan transisi ke energi terbarukan dan nuklir.

Fahnbulleh menegaskan pemerintah tetap berkomitmen pada target net zero 2050 dan mengakhiri persetujuan lisensi minyak dan gas baru. Jackdaw dan Rosebank dikembangkan Adura, usaha patungan Shell (Inggris) dan Equinor (Norwegia).

CEO Adura Neil McCulloch menyebut keputusan Jackdaw mendesak karena proyek siap beroperasi musim dingin ini. Pemerintah punya lebih banyak waktu memutus Rosebank karena produksi baru mulai tahun depan, dan McCulloch mengatakan mereka mengantisipasi keputusan positif serta melanjutkan pengembangan.

Persetujuan proyek gas Jackdaw menempatkan keamanan energi Inggris dan kebijakan iklim dalam satu bingkai yang saling menekan. Pemerintah menyebut kontribusinya sekitar 5% produksi gas nasional selama 11 tahun, angka yang terdengar signifikan tetapi tetap terbatas.

Di sisi lain, pemerintah juga mengakui Jackdaw tidak akan menurunkan harga energi karena harga mengikuti pasar global. Ini membuat klaim “membantu rakyat” lebih kuat sebagai narasi politik ketimbang dampak ekonomi langsung.

Argumen keamanan energi memperoleh amunisi dari ketidakpastian geopolitik, mulai dari Rusia-Ukraina hingga perang Iran yang disebut dalam pernyataan pemerintah. Namun ketergantungan Inggris pada impor tidak otomatis hilang hanya dengan tambahan pasokan yang “kecil namun bermakna.”

Fakta pentingnya ada pada putusan Court of Session di Edinburgh yang menilai persetujuan sebelumnya melanggar hukum karena emisi dari pembakaran gas tidak dihitung. Ini bukan sekadar prosedur, melainkan inti dari akuntabilitas iklim: emisi “hilir” sering menjadi bagian terbesar dari jejak karbon.

Dengan persetujuan baru setelah peninjauan, pemerintah seolah ingin menunjukkan kepatuhan hukum dan keluwesan kebijakan. Tetapi ruang kritik tetap terbuka karena logika transisi energi sering berubah menjadi “tambal sulam” antara kebutuhan jangka pendek dan janji jangka panjang.

Tekanan politik eksternal juga menambah lapisan cerita, terutama komentar Donald Trump yang mendorong Inggris “go full blast” di Laut Utara. Ketika pemimpin asing ikut mengarahkan wacana, keputusan energi domestik mudah terseret menjadi simbol ideologis, bukan evaluasi biaya-manfaat.

Di kubu penentang, WWF-UK menilai manfaat publiknya minim dan merusak kepemimpinan iklim Inggris. Kritik ini menyorot paradoks: proyek yang dijual sebagai pelindung pekerjaan dan rumah tangga, tetapi diakui tidak menurunkan harga dan hanya menyokong “ratusan pekerjaan.”

Rosebank menjadi bab berikutnya yang lebih sulit karena fokusnya pada minyak mentah, bukan gas untuk pemanas. Jika Jackdaw saja sudah memicu kontroversi, Rosebank berpotensi memperlebar jurang antara retorika net zero dan realitas eksplorasi hidrokarbon.

Keputusan menyetujui Jackdaw tampak seperti pilihan “yang paling mungkin dilakukan” saat pemerintah ingin terlihat sigap menghadapi musim dingin. Tetapi kebijakan energi yang baik bukan hanya soal menambah pasokan, melainkan soal mengurangi kerentanan sistemik.

Jika harga tidak turun karena pasar global, maka manfaat langsung bagi rumah tangga rentan menjadi terbatas. Ini mengubah proyek menjadi instrumen stabilitas pasokan, bukan instrumen keadilan energi.

Masalahnya, stabilitas pasokan fosil sering menciptakan “ketergantungan baru” pada infrastruktur lama. Ketika proyek berumur 11 tahun, ia berpotensi mengunci kebijakan pada horizon yang melampaui banyak target transisi jangka menengah.

Pemerintah menyatakan tetap berkomitmen menghentikan persetujuan lisensi minyak dan gas baru, tetapi persetujuan proyek besar yang sudah berjalan tetap memberi sinyal ganda. Sinyal ganda ini bisa melemahkan kepastian investasi energi bersih, karena pasar membaca bahwa fosil masih akan selalu punya jalur keluar.

Di titik ini, pertanyaan tajamnya bukan “gas atau terbarukan,” melainkan “seberapa cepat dan seberapa konsisten.” Tanpa percepatan efisiensi energi, elektrifikasi pemanas, dan perluasan energi terbarukan, gas domestik hanya menjadi jeda yang mahal.

Jackdaw menunjukkan bagaimana negara bisa mengklaim dua hal sekaligus: menjaga rumah tetap hangat dan tetap menuju net zero 2050. Namun ketika manfaat harga diakui tidak ada dan kontribusi pasokan hanya sebagian kecil, publik berhak meminta ukuran keberhasilan yang lebih jujur.

Keputusan energi selalu memantulkan pilihan moral: siapa yang dilindungi hari ini, dan siapa yang menanggung risikonya besok. Jika Inggris ingin memimpin iklim, pertanyaannya sederhana tetapi tidak nyaman: berapa banyak “pengecualian” fosil yang masih bisa ditoleransi sebelum target net zero tinggal slogan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Oktober 2026)