Tak Harus Jadi Kopi Premium Barat, Fore Membuktikan Kekuatan Brand Lokal
Banyak orang rela mengeluarkan uang lebih untuk duduk di Starbucks, memesan segelas latte atau frappuccino, lalu mengunggahnya ke media sosial. Pada masanya, Starbucks tidak sekadar menjual kopi. Brand asal Amerika Serikat itu menjadi bagian dari citra modern, urban, dan prestisius yang diidamkan banyak anak muda maupun pekerja kantoran di kota-kota besar.
Ketika Starbucks membuka gerai pertamanya di Plaza Indonesia pada 2002, konsep coffee shop modern belum seramai sekarang. Kehadirannya ikut membentuk kebiasaan baru. Minum kopi tidak lagi hanya dilakukan di warung kopi atau di rumah. Ngopi perlahan berubah menjadi bagian dari gaya hidup.
Namun seperti banyak industri lainnya, pasar kopi juga berubah.
Generasi yang hari ini memenuhi coffee shop bukan lagi generasi yang sama seperti dua dekade lalu. Mereka tetap menyukai kopi, tetapi cara mereka menikmati kopi mulai berbeda. Mereka lebih terbiasa memesan lewat aplikasi daripada mengantre di kasir. Mereka tetap menyukai tempat yang nyaman, tetapi tidak selalu membutuhkan ruang besar untuk duduk berjam-jam. Mereka juga lebih kritis soal harga tanpa harus mengorbankan kualitas. Di tengah perubahan itulah Fore Coffee muncul.
Ketika didirikan pada 2018, Fore masuk ke pasar yang sudah penuh pemain besar. Di satu sisi ada Starbucks yang kuat di segmen premium. Di sisi lain bermunculan berbagai merek kopi lokal yang bersaing lewat harga murah. Fore tidak memilih keduanya.
Mereka mengambil posisi yang cukup unik: premium, tetapi tetap terjangkau.
Strategi ini dikenal dengan istilah premium affordable. Fore menawarkan kopi berbahan biji Arabika lokal berkualitas seperti Gayo dan Toraja, menghadirkan gerai yang modern dan estetik, namun dengan harga yang masih masuk akal bagi kelas menengah perkotaan.
Posisi ini membuat Fore tidak perlu terjebak perang harga dengan pemain kopi murah. Pada saat yang sama, mereka juga memberi alternatif bagi konsumen yang menginginkan kualitas kopi premium tanpa harus membayar semahal brand internasional.
Namun kekuatan Fore bukan hanya soal harga. Sejak awal, perusahaan ini dibangun sebagai bisnis yang dekat dengan teknologi.
Ketika banyak coffee shop masih mengandalkan pelanggan yang datang langsung ke gerai, Fore sudah mendorong penggunaan aplikasi sebagai bagian utama dari pengalaman pelanggan. Lewat aplikasi tersebut, pelanggan bisa memesan lebih dulu, melakukan pembayaran secara digital, lalu tinggal mengambil pesanan. Bagi konsumen, prosesnya lebih praktis. Bagi Fore, aplikasi itu memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: data.
Data kebiasaan pelanggan membantu mereka memahami menu favorit, waktu pembelian, hingga pola konsumsi yang kemudian digunakan untuk membuat promosi lebih tepat sasaran. Strategi ini membuat biaya pemasaran menjadi lebih efisien dibanding hanya mengandalkan iklan konvensional. Model gerainya pun dirancang berbeda.
Jika Starbucks dikenal dengan konsep third place, yaitu ruang untuk bekerja, rapat, atau menghabiskan waktu cukup lama, Fore tidak selalu membutuhkan format seperti itu. Selain gerai utama, mereka juga mengembangkan gerai dengan ukuran lebih ringkas yang fokus pada layanan cepat dan pesanan bawa pulang. Konsep ini membuat biaya sewa dan operasional lebih terkendali. Uang yang biasanya habis untuk ruang besar dapat dialihkan ke pengembangan produk, teknologi, dan ekspansi gerai.
Selain itu, yang juga menarik adalah cara Fore membaca selera pasar Indonesia. Ketika tren kopi susu mulai berkembang, Fore tidak sekadar menjual latte atau cappuccino seperti yang lazim ditemukan di coffee shop Barat. Mereka menghadirkan menu yang lebih dekat dengan lidah lokal, mulai dari Aren Latte hingga berbagai varian minuman yang memadukan cita rasa populer di Indonesia.
Bagi sebagian konsumen muda, menu-menu tersebut terasa lebih akrab dibanding minuman kopi klasik yang selama ini mendominasi pasar premium.
Kombinasi strategi itulah yang membuat Fore tumbuh secara bertahap.
Mereka tidak melakukan ekspansi besar-besaran tanpa arah. Mereka tidak menghamburkan biaya promosi untuk mengejar pertumbuhan sesaat. Sebaliknya, Fore membangun bisnisnya dengan pendekatan yang lebih terukur: memperkuat teknologi, menjaga efisiensi operasional, memahami perilaku pelanggan, dan terus berinovasi pada produk. Ketika dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan konsumen untuk lebih melirik produk lokal, Fore sudah berada dalam posisi yang siap menyambut perubahan itu.
Pada akhirnya, kisah Fore bukan semata tentang kopi.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah brand lokal menemukan celah di pasar yang selama bertahun-tahun didominasi pemain global. Mereka tidak tumbuh dengan meniru Starbucks. Fore memilih jalan yang berbeda. Mereka membaca perubahan perilaku konsumen lebih cepat, lalu membangun bisnis yang sesuai dengan perubahan tersebut.