Cognition AI Sewa Kantor SoMa, Bayangi Kejatuhan Cruise

San Francisco Chronicle

San Francisco Chronicle

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Cognition AI, start-up kecerdasan buatan bernilai US$26 miliar, menyewa gedung kantor besar di SoMa San Francisco yang dulu menjadi bagian kampus Cruise. Langkah ekspansi ini menegaskan kebangkitan permintaan kantor oleh perusahaan AI, sekaligus memantulkan surutnya era robotaxi Cruise.

Gedung 333 Brannan St seluas sekitar 180.000 kaki persegi sempat masuk pasar sublease setelah Cruise mengerem operasinya. Kini, beberapa sumber real estate menyebut Cognition mengambil alih sublease itu selama lima tahun di gedung milik Kilroy Realty yang dibrokerkan CBRE.

Ekspansi ini membuat jejak kantor Cognition di San Francisco melonjak lebih dari tujuh kali lipat dari ruangnya saat ini sekitar 25.000 kaki persegi di 550 Third St, South Park. SoMa yang dulu padat oleh perusahaan teknologi justru menjadi salah satu wilayah yang paling terpukul oleh penurunan okupansi pasca-2020.

Di sisi lain, Cognition melesat cepat lewat pendanaan besar yang mengangkat valuasinya dari sekitar US$4 miliar pada Maret 2025 menjadi US$26 miliar setelah menggalang lebih dari US$1 miliar pada Mei 2026. Perusahaan yang berdiri pada 2023 ini didukung Founders Fund milik Peter Thiel dan Bain Capital Ventures, serta dilaporkan telah memiliki lebih dari 200 karyawan per Maret.

Namun, reputasi Cognition juga dibayangi cerita budaya kerja ekstrem, termasuk tawaran buyout kepada karyawan yang tidak bersedia melepas work-life balance. Kontras ini penting, karena ekspansi ruang kantor sering dibaca publik sebagai sinyal kesehatan perusahaan, meski realitas internalnya bisa lebih rumit.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)

Sewa kantor besar oleh Cognition AI menandai pola baru: AI occupier kembali berani mengunci ruang fisik dalam skala besar. Derek Daniels dari Colliers menyebut ini sebagai contoh perusahaan AI yang “scaling and committing to a large block of office space,” dengan aktivitas yang makin mendorong ke SoMa.

Jika tren leasing bertahan, Daniels bahkan memperkirakan 2026 bisa menutup tahun dengan rekor volume sewa kantor. Pernyataan ini bukan sekadar optimisme, karena deal semacam 333 Brannan biasanya menandakan keyakinan jangka menengah, bukan sekadar uji coba.

SoMa sendiri adalah cermin paling jelas dari siklus teknologi San Francisco: meledak sebelum pandemi, lalu longgar setelah 2020. Masuknya Cognition memberi narasi baru bahwa “kantor mati” mungkin terlalu cepat disimpulkan, tetapi pemulihannya tidak merata dan lebih selektif.

Di titik ini, kata kuncinya adalah seleksi: perusahaan yang menang bukan hanya yang punya produk, tetapi yang punya modal dan momentum. Valuasi US$26 miliar dan pendanaan lebih dari US$1 miliar memberi Cognition ruang untuk menyerap aset yang ditinggalkan pemain lama, sering kali dengan syarat sublease yang lebih fleksibel.

Kontras paling tajam terlihat pada Cruise, bekas penghuni kawasan Brannan Street. Bisnis robotaxi Cruise runtuh setelah kecelakaan 2023 di San Francisco memicu regulator negara bagian menangguhkan izin uji coba dan operasi tanpa pengemudi, lalu regulator federal menyatakan Cruise tidak melaporkan detail insiden secara utuh.

Setelah itu, General Motors yang memegang saham mayoritas menghentikan pendanaan operasi robotaxi pada 2024 dan mengambil kontrol lebih penuh. GM memangkas sekitar setengah tenaga kerja Cruise dan mengintegrasikan sisa teknologi serta talenta ke program autonomous-driving dan driver-assistance milik GM sendiri.

Warisan fisik Cruise kini menjadi beban yang dijual kembali ke pasar. Cruise juga memasarkan dua gedung lain untuk subtenant, termasuk kantor 110.000 kaki persegi di 345 Brannan St yang dipasarkan pada 2024 dan masih kosong, serta gedung 80.000 kaki persegi di 301 Brannan St yang dipasarkan setidaknya sejak 2021.

Artinya, deal Cognition bukan sekadar kisah satu perusahaan menyewa kantor. Ini adalah pergeseran kapital: dari taruhan robotaxi yang berat regulasi dan keselamatan, menuju AI agent yang lebih cepat diadopsi dan lebih mudah dipasarkan sebagai produktivitas.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)

Ekspansi Cognition AI di SoMa patut dibaca sebagai sinyal kekuatan, tetapi juga sebagai ujian integritas ekosistem AI. Ketika valuasi naik terlalu cepat, kantor besar bisa menjadi panggung legitimasi, bukan hanya kebutuhan operasional.

Produk Cognition yang dikenal lewat “Devin” sebagai autonomous AI agent untuk membantu engineer menulis dan menguji kode, memang selaras dengan kebutuhan industri. Namun publik berhak bertanya: apakah produktivitas yang dijanjikan AI dibayar dengan biaya manusia, terutama bila budaya kerja ekstrem menjadi bagian dari cerita perusahaan.

Di San Francisco, gedung kantor bukan hanya ruang kerja, melainkan indikator psikologis kota. Ketika satu pemain jatuh dan pemain lain masuk, kota terlihat “sembuh,” tetapi yang pulih sering kali hanya segelintir sektor yang sedang disukai pasar modal.

Kejatuhan Cruise menunjukkan betapa rapuhnya inovasi yang berhadapan langsung dengan jalan raya, regulator, dan risiko keselamatan. Kebangkitan AI seperti Cognition menunjukkan betapa cepatnya narasi “masa depan” berpindah, bahkan ketika dampak sosialnya belum sempat dievaluasi dengan tenang.

Maka, pertanyaan tajamnya bukan apakah SoMa akan ramai lagi, melainkan siapa yang diuntungkan dari keramaian itu. Jika kebangkitan kantor dipacu oleh perusahaan AI yang menuntut jam kerja ekstrem, pemulihan ekonomi bisa datang bersamaan dengan kelelahan kolektif.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)

Sewa 333 Brannan oleh Cognition AI merangkum dua cerita San Francisco: ruang kosong yang ditinggalkan kegagalan, dan ruang baru yang diisi euforia. Deal ini mempertegas bahwa AI kini menjadi motor paling bertenaga dalam pasar kantor SoMa.

Namun kota tidak hanya membutuhkan penyewa, melainkan juga masa depan yang layak dihuni. Jika kantor-kantor kembali penuh, publik tetap perlu menagih akuntabilitas: apakah pertumbuhan AI membangun kualitas kerja, atau hanya memindahkan tekanan ke generasi pekerja berikutnya.

Pada akhirnya, gedung-gedung di Brannan Street mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: inovasi selalu punya siklus, tetapi dampaknya tinggal lebih lama dari headline. Yang perlu dijaga adalah agar siklus berikutnya tidak hanya menciptakan valuasi, melainkan juga menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)