Gletser Thwaites Meleleh Cepat, Ancaman Kenaikan Muka Laut

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gletser Thwaites di Antarktika Barat, yang dijuluki “Doomsday Glacier”, dilaporkan meleleh jauh lebih cepat dan berpotensi menaikkan muka laut global hingga 30 mm pada 2100. Riset baru di Nature Communications menyebut kontribusinya bisa dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya, bahkan tanpa percepatan pemanasan global.

Terjemahan akurat artikel sumber: Gletser terbesar di dunia mencair jauh lebih cepat dan dapat menambah kenaikan permukaan laut global dua kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya selama satu abad ke depan. Riset baru tim ahli gletser menemukan gletser Thwaites di Antarktika Barat kehilangan massa cepat karena air laut hangat menyusup di bawahnya dan melelehkan inti, yang bisa menambah 1,2 inci (30 mm) pada ketinggian air bahkan jika pemanasan global tidak meningkat seperti prediksi.

Temuan di Nature Communications menambah bukti bahwa gletser yang mundur selama beberapa dekade ini kini kehilangan massa lebih cepat dari perkiraan ilmuwan. Penelitian dilakukan kolaborasi University of California dengan NASA Jet Propulsion Laboratory, dan merangkum sejumlah poin kunci yang mengubah cara kita membaca risiko.

Thwaites dijuluki “Doomsday Glacier” karena ukurannya raksasa, sekitar 192.000 km persegi, kira-kira seluas Senegal dan lebih besar dari Florida. Lokasinya di Walgreen Coast, Marie Byrd Land, Antarktika Barat yang terpencil, dan menjadi bagian dari West Antarctic ice sheet yang totalnya 14 kali ukuran Thwaites.

Gletser ini dipetakan pertama kali pada 1947 dan dinamai Fredrik T Thwaites, ahli gletser Amerika yang tak pernah mengunjunginya. Sejak 1980-an, ilmuwan mengetahui Thwaites mencair cepat dan memantaunya karena kekhawatiran terus meningkat.

Keruntuhan Thwaites akan menaikkan permukaan laut global secara tajam, meski peneliti tidak memproyeksikannya terjadi dalam puluhan tahun, bahkan mungkin baru beberapa abad. Bersama gletser lain seperti Pine Island, Thwaites bertindak sebagai “pengganjal” yang menahan lapisan es Antarktika Barat yang besar dan rentan.

Saat ini, kehilangan es Thwaites menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan muka laut global. Studi menghitung gletser ini telah kehilangan lebih dari 1.000 miliar ton es sejak 2000 dan terus kehilangan sekitar 50 miliar ton per tahun.

Pendorong utama pencairan adalah air laut hangat yang aktif melelehkan Thwaites dari bawah, menurut sejumlah studi. Pemanasan laut dipicu perubahan iklim akibat aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil.

Studi 2019 dari NASA Jet Propulsion Laboratory menemukan rongga raksasa di bawah Thwaites, luasnya dua pertiga Manhattan, yang diduga mempercepat penipisan es. Sementara itu, European Space Agency mencatat kenaikan suhu telah membuat gletser kehilangan sekitar 5 persen esnya sejak 2000.

Riset terbaru menyimpulkan Thwaites bisa menambah hingga 1,2 inci (30 mm) pada muka laut pada 2100, dua kali estimasi saat ini, bahkan tanpa pemanasan global tambahan. Para peneliti memakai model komputer baru untuk memotret lebih jelas aktivitas lelehan di garis landas (grounding line), batas saat es beralih dari bertumpu pada batuan dasar menjadi mengapung sebagai landas es.

Alih-alih menganggap grounding line bersifat tetap, ilmuwan memperkenalkan konsep “zona landas” yang lebih lebar. Dalam skenario ini, air laut mengangkat-menurunkan es lewat proses “pemompaan pasang surut” sehingga air hangat bisa mencapai jauh di bawah lapisan es dan memicu lelehan kuat, kata penulis utama Mattia Poinelli dari UCLA.

Proses itu mempercepat “terlepasnya” Thwaites dari Mouginot Ridge, punggungan batuan bawah laut yang kini membantu menstabilkan gletser dari bawah. Studi menyatakan ada peluang 60 persen Thwaites terlepas dari punggungan itu sebelum akhir abad.

Namun para ahli menilai studi lanjutan diperlukan untuk memprediksi volume kehilangan es secara lebih akurat. Temuan terpisah dari British Antarctic Survey menyimpulkan Thwaites akan terus kehilangan es setidaknya 150 tahun ke depan, bahkan dalam kondisi pendinginan laut paling ekstrem yang bisa dibayangkan.

Dalam konteks publik, kata kunci “Gletser Thwaites” dan “kenaikan muka laut” makin sering muncul karena keduanya terkait langsung dengan nasib kota-kota pesisir. Dari Jakarta hingga Miami, dari Semarang hingga Rotterdam, kenaikan beberapa sentimeter saja dapat memperbesar risiko banjir rob, intrusi air asin, dan kerugian ekonomi yang menahun.

Riset tentang Gletser Thwaites menegaskan satu hal: ancaman kenaikan muka laut bukan hanya soal suhu udara, tetapi juga dinamika laut yang bekerja diam-diam di bawah es. Air laut hangat yang menyusup ke bawah gletser adalah “api” yang membakar dari fondasi, dan itu sulit ditangkap oleh narasi iklim yang terlalu berpusat pada atmosfer.

Angka 30 mm pada 2100 terlihat kecil bagi pembaca awam, tetapi ia adalah tambahan global yang merata di seluruh lautan. Dalam perencanaan pesisir, tambahan beberapa sentimeter dapat menjadi pembeda antara tanggul yang “cukup” dan tanggul yang gagal saat badai, pasang ekstrem, atau penurunan muka tanah terjadi bersamaan.

Yang membuat studi ini penting adalah perubahan cara memodelkan titik paling rapuh, yakni grounding line. Ketika model lama menganggap batas itu statis, studi ini memperlakukan area tersebut sebagai “zona” yang bergerak, naik-turun mengikuti pasang surut.

Konsep “tidal pumping” mengubah logika risiko karena pasang surut adalah mesin yang bekerja setiap hari, bukan kejadian sesekali. Jika mesin itu membuka jalan bagi air hangat untuk masuk lebih dalam, maka pencairan dapat berlangsung lebih agresif daripada yang diasumsikan model yang terlalu kaku.

Ancaman “unpinning” dari Mouginot Ridge adalah titik balik yang layak diawasi. Jika gletser kehilangan penyangga bawah lautnya, laju aliran es ke laut dapat meningkat, dan efeknya tidak berhenti di Thwaites saja.

Thwaites dan Pine Island berperan seperti pintu gerbang yang menahan lapisan es Antarktika Barat. Saat pintu itu melemah, risiko “membuka” cadangan es yang jauh lebih besar meningkat, dan ini yang membuat para ilmuwan menyebut wilayah tersebut sebagai sistem yang rentan terhadap ketidakstabilan.

Data kehilangan lebih dari 1.000 miliar ton sejak 2000 dan laju 50 miliar ton per tahun memberi gambaran bahwa ini bukan tren kecil. Kontribusi 4 persen terhadap kenaikan muka laut global juga menunjukkan Thwaites sudah menjadi pemain utama, bukan ancaman hipotetis.

Namun, ada batas penting yang perlu dibaca publik: studi ini berbicara tentang probabilitas dan skenario, bukan kepastian tunggal. Peluang 60 persen terlepas dari punggungan sebelum akhir abad adalah peringatan keras, tetapi tetap membutuhkan pemutakhiran data lapangan, observasi satelit, dan penyempurnaan model.

Temuan British Antarctic Survey menambah lapisan kegelisahan karena menyiratkan inersia sistem yang besar. Jika Thwaites tetap kehilangan es selama 150 tahun bahkan dalam pendinginan laut ekstrem, maka “rem darurat” iklim mungkin tidak langsung menghentikan dampak yang sudah terlanjur dipicu.

Di sinilah isu menjadi politis sekaligus praktis: kebijakan emisi adalah syarat perlu, tetapi adaptasi pesisir adalah syarat yang tak bisa ditunda. Kota-kota yang menunggu kepastian absolut dari sains berisiko membayar lebih mahal saat kepastian itu datang terlambat.

Publik sering dipaksa memilih dua ekstrem: panik atau menyangkal, dan keduanya sama-sama tidak produktif. Label “Doomsday Glacier” memang efektif sebagai alarm, tetapi ia juga berisiko menyederhanakan persoalan menjadi sensasi, padahal yang dibutuhkan adalah disiplin kebijakan.

Yang lebih menakutkan dari kiamat mendadak adalah kerusakan yang datang sebagai kebiasaan, pelan namun konsisten. Thwaites menunjukkan bagaimana krisis iklim bekerja lewat mekanisme yang tidak kasatmata, seperti air hangat yang merambat lewat rongga bawah laut dan pasang surut yang memompa panas ke inti sistem.

Riset ini juga mengungkap kelemahan cara kita bernegosiasi dengan angka. Ketika ilmuwan mengatakan “30 mm”, pembaca bisa menganggapnya remeh, padahal dampaknya terakumulasi dengan kenaikan lain, penurunan tanah, dan cuaca ekstrem yang makin sering.

Indonesia punya alasan khusus untuk memperhatikan kata kunci “Gletser Thwaites” dan “kenaikan muka laut”. Negara kepulauan dengan kota pesisir padat, kawasan industri pantai, dan ketergantungan logistik laut tidak punya kemewahan untuk menunda adaptasi sampai 2090-an.

Kritik utama yang perlu diarahkan bukan pada sainsnya, melainkan pada jeda antara peringatan ilmiah dan respons kebijakan. Jika studi-studi seperti ini terus menambah bukti, maka kegagalan bertindak akan semakin sulit dibela sebagai “kurang data”.

Gletser Thwaites adalah pengingat bahwa batas-batas geografis tidak berlaku bagi laut, dan keputusan energi di satu benua bisa menenggelamkan jalan di benua lain. Ketika air hangat menemukan jalan di bawah es, ia juga menemukan jalan ke meja rapat para pembuat kebijakan yang selama ini menunda.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kenaikan muka laut akan terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapi laju yang ternyata bisa lebih cepat dari dugaan. Jika sains sudah memberi sinyal, beranikah kita mengubah kebiasaan sebelum garis pantai yang berubah memaksa kita berubah? (Orbit dari berbagai sumber, 21 Oktober 2026)