Budaya Kerja Human-Centered Jadi Kunci Produktivitas di Era AI

LODGING Magazine

LODGING Magazine

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja human-centered kembali jadi kata kunci di tengah kerja hybrid dan gelombang AI, menurut laporan baru Hilton berjudul The Hospitality Mindset. Di saat pekerjaan makin digital, para pekerja justru menilai koneksi, kepercayaan, dan rasa memiliki sebagai pendorong produktivitas dan kepuasan yang paling kuat.

Laporan Hilton menggabungkan riset tenaga kerja dari Ipsos dan Morning Consult di Amerika Serikat, lalu diperkaya wawasan pemimpin hotel Hilton berperforma tinggi. Intinya sederhana namun menohok: ketika kerja terasa makin transaksional, kebutuhan manusiawi tidak ikut menghilang.

Data Ipsos menunjukkan hampir 50 persen pekerja awal karier merasa kesepian di tempat kerja. Pada saat yang sama, 77 persen responden mengatakan lebih mungkin bertahan jika pemimpin aktif membangun rasa komunitas.

Laura Fuentes, Chief Human Resources Officer Hilton, menegaskan fondasi itu tidak berubah. “Saat kerja makin digital dan AI membentuk ulang tempat kerja, orang masih menginginkan hal yang sama: koneksi, kepercayaan, dan rasa bahwa mereka berarti,” ujarnya.

Hilton memetakan lima tren yang mengubah cara organisasi memimpin: mutual mentorship, RTO sebagai “return to opportunity”, pergeseran dari AI anxiety ke AI agency, pemimpin sebagai “chief host officer”, dan “meaning multiplier”. Kelimanya mengarah pada satu tesis: budaya adalah infrastruktur kinerja, bukan dekorasi.

Mutual mentorship menolak pola belajar satu arah dari senior ke junior. Ipsos mencatat 74 persen pekerja menganggap kesempatan mentoring itu penting, dan 75 persen lebih mungkin bertahan bila pemimpin fokus mengembangkan mereka sebagai individu.

Tren RTO juga dibaca ulang, bukan sebagai pemaksaan kantor, melainkan peluang merajut relasi. Morning Consult menyebut 94 persen responden merasa kembali ke kantor punya tujuan, dan 96 persen pekerja Gen Z melihat nilai hadir secara fisik.

Di sisi lain, AI memunculkan kecemasan yang nyata dan mudah meledak jadi sinisme. Ipsos menemukan 52 persen pekerja cemas AI berdampak pada pekerjaan mereka, sementara 62 persen percaya AI akan mengubah cara kerja dalam tiga tahun.

Yang menarik, pekerja tidak hanya takut, mereka juga menuntut dukungan konkret. Sebanyak 55 persen responden berharap perusahaan menyediakan keterampilan AI, alat, dan langganan yang relevan, sehingga “transformasi” tidak berhenti sebagai slogan.

Konsep “chief host officer” menggeser fokus dari fasilitas ke kualitas hubungan. Morning Consult mencatat 92 persen pekerja menganggap relasi baik dengan manajer krusial bagi kebahagiaan, dan sekitar 40 persen bertahan karena relasi di tempat kerja.

Terakhir, “meaning multiplier” menempatkan purpose sebagai penstabil di masa perubahan, tetapi tidak cukup bila tanpa belonging dan otonomi. Ipsos menyebut 88 persen mengatakan purpose memengaruhi keputusan karier, sementara 52 persen menilai hari kerja yang baik ditandai rasa tuntas.

Bagian kedua laporan menawarkan “hospitality hacks” yang terdengar sederhana namun menuntut disiplin eksekusi. Contohnya membentuk task force lintas fungsi, menciptakan ruang koneksi yang sengaja, mengganti “performative presence” dengan kehadiran nyata, serta membuat pembelajaran AI terasa menarik.

Di atas kertas, resep Hilton tampak seperti “kembali ke hal dasar”, tetapi justru itu kritiknya pada banyak organisasi modern. Kita terlalu sering mengira budaya bisa dibeli lewat aplikasi engagement, kebijakan fleksibel, atau bonus, padahal yang dicari orang adalah pengalaman dipimpin.

Riset ini juga menyentil paradoks AI: makin canggih sistem, makin rapuh rasa aman psikologis bila manusia tidak diposisikan sebagai pengendali. Jika perusahaan hanya mengejar efisiensi, kerja akan terasa seperti antrean tiket—cepat, rapi, dan dingin.

Namun ada risiko lain yang perlu diwaspadai: “hospitality mindset” bisa berubah jadi kosmetik bila tidak menyentuh beban kerja dan keadilan. Komunitas tidak tumbuh dari slogan, melainkan dari keputusan manajerial yang konsisten, termasuk soal prioritas, kapasitas, dan penghargaan.

RTO pun seharusnya tidak dipakai sebagai alat disiplin, melainkan desain pengalaman kolaborasi. Bila kantor hanya memindahkan rapat Zoom ke ruang rapat, maka “return to opportunity” akan berubah jadi “return to obligation”.

Mutual mentorship terdengar ideal, tetapi hanya mungkin bila organisasi memberi waktu dan struktur. Tanpa itu, mentoring menjadi kerja tambahan yang tidak terlihat, dan akhirnya dibayar dengan kelelahan orang-orang yang paling peduli.

Laporan Hilton mengingatkan bahwa masa depan kerja bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal kualitas hubungan dan rasa bermakna. Di era AI dan hybrid, budaya kerja human-centered justru menjadi keunggulan kompetitif yang paling sulit ditiru.

Pertanyaannya bukan apakah perusahaan punya program budaya, melainkan apakah pemimpin hadir dengan cara yang membuat orang merasa dihargai dan berkembang. Jika manusia tetap ingin koneksi, mungkin tantangan terbesar kita adalah berani memperlambat sejenak, lalu membangun tempat kerja yang benar-benar layak dihuni.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)