Ali Samudra: Menjadi Muslim Modern Abad 21
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Abad ke-21 merupakan era perubahan yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan internet, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), bioteknologi, neurosains, robotika, dan globalisasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan cara berpikir mengalami transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tengah perubahan tersebut, umat Islam menghadapi pertanyaan penting: bagaimana menjadi Muslim yang tetap setia kepada ajaran agamanya tanpa terasing dari perkembangan zaman?
Sebagian orang menganggap bahwa untuk menjadi modern, agama harus disingkirkan dari kehidupan. Sebaliknya, sebagian lainnya memandang segala bentuk perubahan sebagai ancaman terhadap agama.
Kedua pandangan ini sama-sama keliru. Menjadi Muslim modern bukan berarti meninggalkan Islam demi mengikuti zaman, dan bukan pula menolak modernitas atas nama agama. Menjadi Muslim modern adalah kemampuan memadukan kesetiaan kepada nilai-nilai Islam dengan keberanian menghadapi tantangan dunia kontemporer.
-000-
Islam sejak awal sesungguhnya merupakan agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca: Iqra’. Perintah ini menunjukkan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari ilmu. Islam tidak dibangun di atas kebodohan, melainkan di atas pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran.
Karena itu, Muslim modern adalah Muslim yang membaca dua kitab sekaligus: kitab wahyu dan kitab alam semesta. Ia membaca Al-Qur’an untuk memahami petunjuk Allah, dan membaca realitas untuk memahami hukum-hukum kehidupan yang Allah ciptakan. Ia menyadari bahwa iman dan ilmu bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua kekuatan yang saling melengkapi.
-000-
Ketika peradaban Islam mencapai masa kejayaannya antara abad ke 8 -14, para ulama dan ilmuwan tidak mempertentangkan wahyu dan akal. Mereka mempelajari tafsir, hadis, filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, dan berbagai cabang ilmu lainnya secara bersamaan. Tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Haytham menjadi bukti bahwa keimanan dapat berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Muslim modern harus berani menguasai sains dan teknologi tanpa kehilangan spiritualitasnya: Ia dapat menjadi ilmuwan yang mencintai Al-Qur’an, pengusaha yang menjunjung tinggi kejujuran, dokter yang penuh empati, atau pemimpin yang memegang amanah. Kemajuan dan keimanan tidak perlu dipertentangkan.
-000-
Fondasi utama seorang Muslim modern tetaplah Tauhid. Tauhid bukan sekadar keyakinan bahwa Allah itu satu, melainkan cara pandang terhadap kehidupan. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat orientasi hidup manusia.
Di era modern, manusia sering kali menjadikan uang, jabatan, popularitas, teknologi, bahkan opini publik sebagai pusat kehidupannya. Tauhid membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan tersebut.
Seorang Muslim modern memahami bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Kekayaan hanyalah sarana, bukan ukuran kemuliaan. Jabatan hanyalah amanah, bukan identitas diri.
-000-
Banyak orang memandang shalat hanya sebagai kewajiban ritual yang dilakukan lima kali sehari. Bagi muslim modern shalat memiliki makna yang jauh lebih dalam. Shalat adalah proses penyelarasan kembali antara manusia dengan Tuhannya. Ia menjadi momen ketika manusia berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk mengingat kembali tujuan hidupnya.
Kehidupan modern sering kali dipenuhi tekanan, kompetisi, dan banjir informasi. Dalam situasi seperti ini, shalat menghadirkan ketenangan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas, shalat mengajarkan keheningan. Di tengah ambisi duniawi, shalat mengingatkan manusia akan hakikat dirinya.
Lebih dari itu, shalat membentuk disiplin waktu, kesadaran diri, pengendalian emosi, dan integritas moral. Karena itu, shalat tidak boleh dipahami sebagai aktivitas yang terpisah dari kehidupan profesional dan sosial. Justru shalat seharusnya menjadi sumber energi yang menghidupkan seluruh aktivitas manusia.
Seorang Muslim yang memahami makna shalat akan membawa nilai-nilai shalat ke dalam pekerjaannya. Ia akan bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan penuh kesungguhan. Hubungannya dengan Allah akan tercermin dalam hubungannya dengan sesama manusia.
-000-
Selain spiritualitas, salah satu karakter penting Muslim modern adalah budaya berpikir kritis. Kita hidup pada zaman ketika informasi dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Namun derasnya informasi tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kualitas pengetahuan. Hoaks, propaganda, manipulasi data, dan polarisasi opini menjadi bagian dari realitas sehari-hari.
Karena itu, seorang Muslim modern tidak boleh mudah percaya terhadap setiap informasi yang diterimanya. Ia harus membiasakan diri memeriksa fakta, menguji argumentasi, dan menggunakan akal sehat. Berpikir kritis bukanlah ancaman bagi keimanan. Justru Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, mengamati, dan mengambil pelajaran.
Tradisi intelektual Islam yang besar lahir dari keberanian untuk bertanya dan mencari jawaban. Peradaban tidak dibangun oleh masyarakat yang takut berpikir, melainkan oleh masyarakat yang mencintai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kebiasaan membaca, berdiskusi, meneliti, dan belajar sepanjang hayat harus menjadi bagian dari identitas Muslim abad ke-21.
Sikap kritis juga harus diimbangi dengan moderasi. Salah satu tantangan terbesar masyarakat modern adalah kecenderungan untuk melihat segala sesuatu secara ekstrem. Dalam kehidupan beragama, ekstremisme sering melahirkan fanatisme, kebencian, dan konflik yang tidak produktif.
-000-
Islam sejak awal dikenal sebagai agama yang mengajarkan jalan tengah (wasathiyah). Muslim modern memahami pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara akal dan wahyu, antara kebebasan dan tanggung jawab, serta antara tradisi dan inovasi.
Keterbukaan bukan berarti kehilangan prinsip. Seorang Muslim dapat belajar dari siapa saja tanpa harus kehilangan identitasnya. Muslim modern tidak takut belajar dari Barat dalam bidang teknologi, manajemen, sains atau filsafat. Namun pada saat yang sama ia tetap menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kompas moral dalam menentukan arah kemajuan.
-000-
Karakter penting lainnya adalah profesionalisme. Salah satu faktor yang sering menghambat kemajuan umat adalah rendahnya budaya kerja yang berkualitas. Tidak sedikit orang yang berharap hasil besar tanpa usaha yang maksimal. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan ikhtiar.
Muslim modern memahami bahwa kualitas kerja juga merupakan bagian dari ibadah. Ia menghargai waktu, menjaga disiplin, menyelesaikan tugas dengan baik, serta menolak segala bentuk korupsi dan penyalahgunaan amanah. Ia sadar bahwa integritas adalah manifestasi nyata dari keimanan.
-000-
Pada akhirnya, menjadi Muslim modern bukan sekadar soal mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Tujuan yang lebih besar adalah membangun peradaban yang memberi manfaat bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai khairu ummah karena misinya menghadirkan kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia.
Muslim modern adalah Muslim yang membangun masa depan. Ia menghadirkan pendidikan yang berkualitas, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperjuangkan keadilan, menjaga lingkungan, membantu kaum lemah, dan menciptakan manfaat bagi sesama. Ia tidak menjadikan agama sebagai pelarian dari realitas, tetapi sebagai kekuatan untuk memperbaiki realitas.
Menjadi Muslim modern di abad ke-21 bukan berarti menjadi Muslim yang lebih sedikit agamanya, melainkan menjadi Muslim yang lebih luas cakrawala berpikirnya. Ia memiliki hati yang terhubung kepada Allah, pikiran yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan tangan yang bekerja untuk kemajuan masyarakat.***
Pondok Kelapa, 19 Juni 2026
(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jumat, 19 Juni 2026, Masjid Baitul Muhajirin -Pondok Kelapa - Jakarta Timur)
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **