Drama Korea Bullying Sekolah: Teach You a Lesson dan Rekomendasi

CNN Indonesia

CNN Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Drama Korea bullying sekolah kembali jadi bahan obrolan publik setelah Teach You a Lesson menyorot kekerasan antarsiswa, problem guru, dan peran orang tua. Kata kunci seperti drama Korea bullying sekolah dan Teach You a Lesson ramai dicari karena penonton merasa kisahnya dekat dengan realitas pendidikan.

Teach You a Lesson datang dengan modal kuat karena mempertemukan Kim Mu-yeol dan Lee Sung-min bersama sutradara Hong Jong-chan. Kombinasi ini mengingatkan penonton pada Juvenile Justice yang lebih dulu menguliti kejahatan remaja dari sudut pandang hukum.

Drama ini juga berangkat dari webtoon Get Schooled karya Chae Yong-taek dan Han Ga-ram, dengan naskah digarap Lee Nam-kyu, Kim Da-hee, dan Moon Jong-ho. Adaptasi webtoon ke layar sering memicu ekspektasi tinggi karena pembaca menuntut akurasi, sementara penonton umum menuntut relevansi.

Di balik popularitasnya, tema bullying bukan sekadar bumbu cerita, melainkan cermin masalah sosial yang berulang. Sekolah menjadi ruang yang ideal untuk memperlihatkan bagaimana kuasa, status, dan ketakutan bekerja dalam skala kecil namun berdampak panjang.

Juvenile Justice menempatkan kekerasan remaja sebagai perkara sistemik, bukan semata kenakalan individu. Tokoh Cha Tae-joo (Kim Mu-yeol) digambarkan punya sejarah sebagai korban KDRT dan pernah berada di pusat reformasi, sehingga ia percaya pada kesempatan kedua.

Di sisi lain, Shim Eun-seok (Kim Hye-soo) tampil sebagai hakim elite yang dingin dan dikenal tidak menyukai anak-anak. Ketegangan batin Eun-seok ketika harus menyeimbangkan hukuman dan keadilan membuat penonton melihat bahwa “benar-salah” di kasus anak sering tidak sesederhana vonis.

Rangkaian cerita semacam ini sejalan dengan temuan UNESCO bahwa bullying masih menjadi persoalan besar di sekolah dunia. Laporan UNESCO (2019) menyebut sekitar 1 dari 3 siswa pernah mengalami perundungan dalam sebulan terakhir di berbagai negara, dan dampaknya terkait kesehatan mental serta capaian belajar.

Study Group mengambil jalur berbeda dengan menempatkan kekerasan sekolah dalam format yang lebih pop dan berenergi. Drama ini berada dalam semesta yang sama dengan Get Schooled, yakni Blue String Universe buatan YLAB, sehingga tema “anak muda melawan sistem” terasa konsisten.

Yoon Ga-min (Hwang Min-hyun) digambarkan rajin belajar tetapi selalu bernilai rendah, lalu memilih masuk SMK Teknik Yusung demi peluang lulus dan kuliah. Namun sekolah itu justru memaksanya membuka talenta bela diri yang selama ini disembunyikan untuk menghadapi tukang bully.

Dua judul itu memperlihatkan pola yang sama: kekerasan di sekolah jarang berdiri sendiri, dan hampir selalu terhubung dengan rumah, institusi, serta budaya kompetisi. Penonton lalu “dipaksa” bertanya apakah sekolah benar-benar ruang aman, atau sekadar tempat seleksi sosial yang keras.

Ledakan minat pada drama Korea bullying sekolah menunjukkan publik tidak lagi puas dengan cerita romansa yang steril dari realitas. Penonton ingin narasi yang mengakui luka, tetapi juga menawarkan mekanisme pertanggungjawaban yang masuk akal.

Teach You a Lesson dan Juvenile Justice terasa kuat karena menolak jawaban instan, lalu memeriksa peran guru, orang tua, dan otoritas. Ketika orang dewasa absen atau defensif, sekolah berubah menjadi ekosistem yang melanggengkan pelaku sekaligus membungkam korban.

Namun ada risiko ketika kekerasan sekolah diperlakukan sebagai tontonan yang “seru” tanpa konteks pemulihan. Adegan balas dendam yang memuaskan bisa membuat penonton lupa bahwa di dunia nyata, korban memerlukan dukungan psikologis, perlindungan, dan prosedur pelaporan yang aman.

Di titik ini, Study Group menarik sekaligus problematis karena mengandalkan kemampuan fisik tokoh utama sebagai solusi. Pesannya bisa terbaca ganda, yakni keberanian melawan penindasan, tetapi juga normalisasi bahwa kekerasan hanya bisa dituntaskan dengan kekerasan tandingan.

Justru karena itulah drama bertema pendidikan penting dibaca sebagai kritik sosial, bukan sekadar hiburan. Ia membantu publik memetakan siapa yang diuntungkan oleh budaya diam, dan siapa yang selalu diminta “mengalah” demi nama baik institusi.

Jika Teach You a Lesson membuat penonton geram, kemarahan itu seharusnya diarahkan pada pertanyaan yang lebih tajam. Mengapa sistem sering bergerak lambat saat korban meminta perlindungan, tetapi bergerak cepat saat reputasi sekolah terancam.

Rekomendasi seperti Juvenile Justice (Netflix) dan Study Group (Viu) menunjukkan bahwa drama Korea bullying sekolah bisa menjadi ruang belajar publik tentang empati dan akuntabilitas. Pada akhirnya, pelajaran terpenting bukan cara menghukum pelaku, melainkan bagaimana mencegah luka yang sama diwariskan ke angkatan berikutnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 13 Juni 2026)