Parasocial Relationship di Media Sosial: Mengapa Fans Terlalu Terikat
ORBITINDONESIA.COM – Kata kunci “parasocial relationship” makin sering muncul saat artis menikah, idol hiatus, atau influencer menangis di kamera. Kolom komentar mendadak seperti ruang duka, padahal banyak penggemar tak pernah bertemu sang figur. Di era media sosial, kedekatan semu terasa nyata, dan emosi publik ikut terseret.
Fenomena ini bukan sekadar “bucin artis” atau lelucon patah hati massal. Ia menunjukkan cara baru manusia membangun ikatan emosional melalui layar, dibantu algoritma dan konten harian. Sub-keyword seperti “media sosial” dan “psikologi” penting karena masalahnya bukan pada figur publik, melainkan pada pola relasi yang dibentuk.
Donald Horton dan Richard Wohl memperkenalkan istilah parasocial relationship pada 1956 untuk menjelaskan kedekatan penonton dengan tokoh TV. Dulu relasi itu terbatas pada jadwal tayang dan citra media massa. Kini, Instagram Story, TikTok, live streaming, dan vlog membuat “kehadiran” figur publik terasa nyaris setiap jam.
Secara psikologis, paparan berulang memicu mere exposure effect, yaitu kecenderungan menyukai sesuatu karena sering melihatnya. Media sosial mempercepat efek ini karena pengikut menerima potongan hidup figur publik secara rutin. Otak lalu menafsirkan familiar sebagai dekat, meski relasinya satu arah.
Rasa dekat itu diperkuat oleh strategi “autentisitas” yang kini menjadi mata uang perhatian. Banyak kreator membagikan rutinitas, keluarga, hewan peliharaan, dan momen rapuh agar terlihat manusiawi. Namun informasi itu disiarkan serentak ke jutaan orang, sehingga personalitas yang tampak intim sebenarnya bersifat massal.
Data global menunjukkan skala paparan ini makin besar, dan itu relevan untuk memahami keterikatan. Laporan DataReportal 2025 mencatat pengguna media sosial dunia melampaui 5 miliar, dengan rata-rata waktu penggunaan harian sekitar 2 jam lebih. Waktu sebanyak itu cukup untuk membangun “kebiasaan emosional” terhadap figur yang terus muncul di feed.
Penelitian juga menegaskan bahwa hubungan parasosial tidak selalu negatif. Studi dalam Journal of Social and Personal Relationships (misalnya ulasan tentang parasocial interaction pada era digital) mencatat relasi semu dapat memberi rasa ditemani dan menurunkan kesepian pada sebagian orang. Figur publik bahkan bisa menjadi pemicu perilaku positif, seperti olahraga, membaca, atau belajar.
Masalah muncul ketika relasi itu berubah menjadi rasa memiliki dan kontrol. Penggemar mulai menuntut akses, merasa berhak atas keputusan asmara, atau menganggap kritik pada idol sebagai serangan pribadi. Pada titik ini, emosi tidak lagi proporsional terhadap realitas hubungan.
Algoritma memperparahnya karena ia mengutamakan konten yang memicu reaksi kuat. Tangisan influencer, konflik fandom, dan rumor pernikahan sering mendapat jangkauan lebih besar karena memantik komentar dan share. Akhirnya, platform memberi insentif pada drama, dan pengguna terjebak dalam siklus keterlibatan emosional.
Kita perlu jujur bahwa parasocial relationship adalah produk sampingan dari ekonomi perhatian. Figur publik menjual kedekatan sebagai “pengalaman”, sementara audiens membayar dengan waktu, emosi, dan data. Di tengah kesepian urban dan hubungan sosial yang rapuh, kedekatan semu menjadi pengganti yang praktis.
Namun kedekatan semu punya harga yang sering tak terlihat. Ia menguras energi psikologis, memicu perbandingan hidup, dan mengganggu relasi nyata di rumah atau pertemanan. Ia juga mendorong budaya pengawasan, di mana privasi figur publik dianggap barang publik.
Di sisi lain, menyalahkan penggemar semata juga terlalu sederhana. Platform dirancang untuk membuat pengguna bertahan, dan kreator didorong untuk terus membuka diri agar relevan. Dalam ekosistem seperti ini, batas sehat harus dibangun secara sadar, bukan dibiarkan terbentuk oleh feed.
Batas itu bisa sesederhana mengurangi notifikasi, membatasi jam konsumsi konten, dan menilai ulang sumber emosi kita. Jika kabar pernikahan artis merusak hari, itu sinyal bahwa relasi sudah melampaui fungsi hiburan. Jika kita marah karena idol dikritik, mungkin yang terluka adalah identitas diri yang menumpang pada figur tersebut.
Mengagumi artis, idol, atlet, podcaster, atau tokoh agama bukan dosa sosial. Relasi parasosial bahkan bisa menjadi jembatan inspirasi, selama ia tidak menggantikan relasi yang timbal balik. Kuncinya adalah mengingat bahwa yang tampak dekat di layar tetaplah jarak, dan jarak itu sehat.
Pertanyaannya bukan “apakah kita boleh menyukai figur publik,” melainkan “seberapa besar hidup kita dipimpin oleh mereka.” Saat layar ponsel menjadi cermin emosi, kita perlu bertanya siapa yang sebenarnya mengendalikan perhatian kita. Barangkali kedewasaan digital dimulai dari satu keputusan kecil, yakni kembali merawat hubungan yang benar-benar mengenal kita. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Juli 2026)