Clapoti, Wellness K-Beauty Prancis dari Kisah Adopsi Korea
ORBITINDONESIA.COM – Clapoti, brand wellness K-beauty bernuansa Prancis, lahir dari perjalanan Marie Perruchet yang diadopsi dari Seoul dan besar di Normandy. Ia pulang ke Korea bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menemukan “rumah” yang tak pernah ia kenal.
Perruchet tumbuh tanpa bahasa, tradisi, dan ritual kecantikan Korea, lalu hidup berpindah di 10 negara. Di Prancis, ia jarang melihat dirinya terwakili di majalah, bahkan pernah mendengar stylist mengaku tak paham rambutnya.
Mobilitas global memperlihatkan standar tubuh yang berbeda-beda, dari refleksologi di India sampai keragaman budaya beauty di California. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa tubuh bukan sekadar objek estetika, melainkan peta pengalaman sosial.
Ia pertama kali mengenal jjimjilbang di Amerika Serikat, lalu merasakan versi “aslinya” di Korea. Yang mengejutkan bukan panas dan scrub, melainkan ruang tanpa hierarki cantik ala media.
Di bathhouse, orang dari berbagai usia dan bentuk tubuh berbagi ruang tanpa kompetisi penampilan. “Di situlah saya paham betapa realitas berbeda dari yang media gambarkan,” katanya, sekaligus mengaku belajar menerima diri.
Clapoti didirikan pada 2022 dengan klaim “loved in Paris and perfected by Korean heritage.” Formulanya memadukan inovasi manufaktur Korea, tradisi sensori dan aroma Prancis, serta insting kemasan fungsional ala Amerika.
Benang merahnya adalah pergeseran fokus dari wajah ke tubuh yang sering diabaikan, terutama kaki. Perruchet menyebut kaki sebagai “bagian tubuh yang paling terlupakan,” dan pandemi Covid-19 membuat kekosongan layanan spa makin terasa.
Alih-alih melisensi formula yang sudah jadi, ia menguji puluhan produk pemasok sebelum memilih mitra yang mau meracik dari nol. Ia memakai bahan yang dekat dengan dapur dan wellness Korea seperti green tea, hibiscus, perilla, dan jahe.
Logika jurnalistik ia bawa ke laboratorium: “Sebagai mantan jurnalis, Anda tidak akan copy-paste cerita kolega.” Kalimat itu menegaskan diferensiasi produk sebagai “narasi orisinal,” bukan sekadar label K-beauty tempelan.
Dari sisi bisnis, Clapoti banyak bermain di model B2B lewat retailer premium dan perfumery di Prancis serta Eropa. Produk juga masuk natural grocer di AS, dan disebut sedang menyiapkan peluncuran di department store Jepang.
Tren global mendukung strategi ini, karena K-beauty sudah menjadi bahasa dagang lintas negara, sementara konsumen premium mencari “cerita asal-usul” yang meyakinkan. Namun, cerita saja tidak cukup, sehingga ia menekankan ritual kecil berulang: “Ten minutes, a few times a week.”
Kisah Perruchet memperlihatkan paradoks identitas di era global, ketika “asal” sering lebih kuat sebagai komoditas ketimbang pengalaman hidup. Ia menolak memilih satu label, dan menjawab apakah Clapoti Korea atau Prancis dengan tegas: “It’s both.”
Di satu sisi, ini strategi branding yang cerdas karena memanfaatkan dua reputasi sekaligus, yakni K-beauty yang teknologis dan Prancis yang sensorial. Di sisi lain, ini juga kritik halus terhadap tuntutan publik yang memaksa orang “memilih” identitas tunggal.
Jjimjilbang menjadi metafora yang tajam, karena ruang itu menyingkap tubuh apa adanya, tanpa kurasi kamera dan tanpa filter editorial. Jika media membangun standar sempit, bathhouse justru menunjukkan demokrasi tubuh, dan dari situlah “wellness” menjadi praktik sosial.
Fokus pada kaki juga menggugat bias industri kecantikan yang terlalu wajah-sentris, seolah nilai manusia berhenti di area yang terlihat kamera. Perruchet menawarkan perawatan sebagai perhatian, bukan perbaikan, dengan kalimat yang menolak rasa malu: “Care isn’t about fixing yourself.”
Namun tetap ada pertanyaan kritis: ketika ritual tradisional dibawa ke rak ritel premium, siapa yang paling diuntungkan, dan siapa yang tertinggal. Wellness bisa menjadi jembatan pemulihan diri, tetapi juga bisa berubah menjadi simbol kelas jika aksesnya makin mahal.
Clapoti menunjukkan bahwa K-beauty dan wellness tidak selalu soal tren viral, melainkan soal kebiasaan kecil yang konsisten dan manusiawi. Perruchet merangkum pelajarannya sederhana: ritual mengalahkan intensitas, dan perhatian mengalahkan obsesi.
Di tengah dunia yang gemar menilai tubuh sebagai proyek, kisah ini mengajak kita membaca tubuh sebagai rumah yang layak dihuni dengan lembut. Jika “pulang” bisa berarti menemukan diri, mungkin pertanyaannya kini: bagian mana dari tubuh kita yang selama ini kita tinggalkan?
(Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)