Biaya Perang AS-Iran Tembus US$37,5 Miliar, Trump Minta Tambahan
ORBITINDONESIA.COM – Biaya perang AS-Iran disebut sudah mencapai US$37,5 miliar, tetapi Washington justru meminta hampir dua kali lipatnya untuk melanjutkan operasi. Di Senat, Menhan Pete Hegseth dituduh meminta “cek kosong” saat hasil perang dipertanyakan dan harga energi di dalam negeri ikut melonjak.
Pete Hegseth menyampaikan estimasi biaya perang AS-Iran dalam sidang panas Komite Alokasi Anggaran Senat pada Selasa. Ia datang untuk membenarkan permintaan dana tambahan bagi konflik yang sebelumnya diklaim Washington sudah “menang” berbulan-bulan lalu.
Angka baru ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang disampaikan pejabat pemerintahan Trump pada April hingga Juni. Senator Gary Peters menyindir, “meski gagal memenangkan perang ini, Anda kembali meminta hampir US$70 miliar,” sementara Senator John Kennedy menuntut jawaban lugas.
Kesaksian itu muncul saat kesepakatan Juni antara Teheran dan Washington runtuh. AS juga melancarkan 11 malam serangan berturut-turut, sementara stok persenjataan kian menipis dan biaya senjata terus menumpuk.
Hegseth menyebut AS telah menghabiskan US$37,5 miliar sejak perang dimulai pada 28 Februari. Angka ini melampaui estimasi US$25 miliar yang pernah disampaikan Pentagon pada April saat fase awal “Operation Epic Fury”.
Dalam kesaksian sebelumnya, biaya terbesar disebut mengalir ke amunisi, operasi, perawatan, dan penggantian peralatan. Namun hingga kini, rincian terperinci dari pemerintah belum dipublikasikan, sehingga publik hanya melihat angka besar tanpa transparansi memadai.
Sejumlah estimasi independen menempatkan biaya perang sekitar US$1 miliar per hari dan berpotensi menembus US$100 miliar pada pertengahan Juli. Kesenjangan antara klaim resmi dan perkiraan luar memperlihatkan dua hal: perang mahal, dan akuntabilitas anggaran rapuh.
Hegseth juga meminta tambahan US$67 miliar untuk melanjutkan perang, hampir dua kali tagihan saat ini. Profesor Paul Musgrave dari Georgetown University di Qatar menilai permintaan itu masuk akal secara logistik karena amunisi dan platform yang dipakai harus diganti, tetapi ia menekankan perang ini tidak populer dan “tidak diminta” warga.
Gedung Putih meminta tambahan US$87,6 miliar untuk tahun anggaran 2026, dengan US$67,1 miliar dialokasikan ke Departemen Pertahanan. Artinya, perang menjadi mesin utama yang menarik belanja negara ke arah militer, bukan ke stabilitas harga dan pemulihan biaya hidup.
Investigasi menunjukkan stok senjata AS menipis, dan pengisian ulang butuh miliaran dolar serta waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Analisis Center for Strategic and International Studies menyebut persediaan Patriots, THAAD, SM-3, dan PrSM kini di 50 persen atau kurang dibanding level pra-perang.
Permintaan tambahan itu disebut bagian dari proposal anggaran pertahanan US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. Jika disetujui, itu berarti kenaikan 44 persen belanja pertahanan tahunan dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah AS.
Padahal, belanja pertahanan 2026 saja sudah memecahkan rekor di US$1,05 triliun, naik dari US$919,2 miliar pada 2025. Hegseth menyebutnya “investasi generasional” dan memperingatkan risiko kekurangan dana untuk gaji, amunisi, dan operasi global jika Kongres menolak.
Biaya perang tidak berhenti pada pos militer, karena ekonomi domestik ikut menanggung efeknya. Harga bensin melonjak setelah perang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur sekitar seperempat pasokan minyak dunia.
Sebelum perang, harga bensin sekitar US$2,98 per liter, sementara beberapa negara bagian seperti California mengalami kenaikan hampir 100 persen. Brown University melalui Iran War Energy Cost Tracker memperkirakan hingga 22 Juli warga AS membayar lebih dari US$72 miliar biaya ekstra bensin dan diesel, setara US$549 per rumah tangga.
Harga minyak yang volatil mendorong inflasi ke level tertinggi dalam tiga tahun dan suku bunga ikut naik, menurut Center for American Progress. Indeks harga konsumen naik sekitar 4,2 persen pada Mei, dan rumah tangga diperkirakan menanggung tambahan US$4,6 miliar pembayaran bunga.
Dari sisi korban, setidaknya 18 personel militer AS tewas dan sekitar 500 terluka. Di luar angka, reputasi Washington sebagai kekuatan global ikut tergerus ketika “kemenangan” yang diklaim tidak sejalan dengan kebutuhan dana baru yang membengkak.
Masalah inti perang AS-Iran bukan sekadar mahal, melainkan kontradiksi politiknya yang telanjang. Jika perang sudah “menang” berbulan-bulan lalu, mengapa Kongres diminta menandatangani cek baru senilai puluhan miliar dolar?
Sidang Senat memperlihatkan kegagalan komunikasi strategis: pemerintah meminta kepercayaan, tetapi menahan rincian. Dalam demokrasi, angka tanpa transparansi adalah undangan bagi sinisme, dan sinisme cepat berubah menjadi krisis legitimasi.
Permintaan US$67 miliar juga menandai pergeseran dari perang sebagai operasi terbatas menjadi perang sebagai siklus industri. Ketika stok Patriot dan THAAD menipis, logika berikutnya adalah produksi, kontrak, dan pembelian, sehingga perang memperpanjang dirinya sendiri melalui kebutuhan penggantian.
Lebih berbahaya lagi, biaya energi yang melonjak membuat warga membayar “pajak perang” yang tidak pernah dipungut secara resmi. Mekanismenya bukan lewat pajak, tetapi lewat harga bensin, inflasi, dan cicilan bunga, sehingga terasa lebih senyap namun lebih luas dampaknya.
Perbandingan dengan perang-perang besar AS memperlihatkan pola yang berulang: perang modern dibiayai utang sehingga dampak langsungnya tampak samar. Namun ketika totalnya menumpuk, seperti “perang melawan teror” yang diperkirakan US$8 triliun (2001-2026), beban akhirnya kembali ke generasi berikutnya.
Di titik ini, pertanyaan publik seharusnya bukan hanya “berapa biayanya,” tetapi “apa indikator selesai.” Tanpa definisi kemenangan yang terukur, setiap tambahan dana hanya memperpanjang ketidakpastian dan memperbesar biaya sosial yang tak tercantum di neraca.
Perang AS-Iran kini terlihat sebagai persilangan antara strategi militer, politik anggaran, dan tekanan biaya hidup. Angka US$37,5 miliar yang sudah keluar dan permintaan tambahan US$67 miliar menegaskan bahwa perang bukan episode singkat, melainkan komitmen panjang dengan tagihan yang terus membengkak.
Ketika bensin naik, inflasi mengeras, dan stok senjata menipis, publik dipaksa menanggung konsekuensi tanpa peta jalan yang jelas. Jika perang dibiarkan berjalan dengan logika “isi ulang persenjataan,” maka yang benar-benar menang bukanlah stabilitas, melainkan kebiasaan membayar perang itu sendiri.
Pada akhirnya, pertaruhan terbesar ada pada satu hal sederhana: apakah negara mampu mengatakan “cukup” sebelum angka-angka mengubah krisis luar negeri menjadi krisis kepercayaan di dalam negeri. Pertanyaan itu layak dijawab dengan data, transparansi, dan keberanian politik, bukan sekadar permintaan cek kosong.
(Orbit dari berbagai sumber, 2 Agustus 2026)