DECEMBER 9, 2022
Kolom

Yudi Latif: Pendidikan Harapan

image
Yudi Latif tentang pendidikan harapan (Foto: Antara)

ORBITINDONESIA.COM - Saudaraku, pendidikan itu benih harapan. Manakala suatu bangsa dilanda kegelapan, kekacauan dan keterpurukan, sedang tiada tahu kunci jawabnya, maka sandaran pamungkasnya adalah pendidikan.

Tugas pendidikan bukanlah memaksakan sesuatu pada peserta didik, melainkan menuntun mengeluarkan potensinya bertumbuh.

Adapun potensi yg harus diaktifkan adalah budi-pekerti. Budi mengandung arti “pikiran, perasaan dan kemauan” (aspek batin); pekerti artinya “tenaga” atau daya" (aspek lahir).

Baca Juga: Yudi Latif: Tata Ulang Negara

Pendidikan budi-pekerti mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan kemauan manusia, melalui olah pikir, olah rasa, olah olah karsa, dan olah raga demi menghasilkan tenaga yang dpt mendorong karya penciptaan dan perbuatan yg baik, benar dan indah.

Peserta didik yang dikehendaki itu ibarat pohon berkah. Pohon berkah itu hendaknya berakar dalam, berbatang tinggi, bercabang-ranting rapi, berdaun rindang, berbuah lebat.

Akarnya akhlak-karakter mulia; batangnya wawasan ketinggian pengetahuan; cabang-rantingnya keterampilan dan kecakapan tata kelola; daunnya kerukunan-kolaboratif; buahnya kreativitas inovasi.

Baca Juga: Yudi Latif: Kekuatan Mitos

Ke dalam, pendidikan harus memberi wahana pada peserta didik utk mengenali kekhasan potensi dirinya sekaligus tujuan moral hidupnya.

Ke luar, memberi wahana pada peserta didik utk mengenali dan mengembangkan kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan dan sistem perilaku bersama. Bibit unggul individualitas harus tumbuh di atas tanah sosialitas Pancasila yg subur. 

Alhasil, peserta didik harus memiliki wawasan generalis dengan keahlian spesifik. Ibarat pohon yang memiliki jaringan pembuluh yang meluas (floem) dan meninggi (xilem).

Baca Juga: Yudi Latif: Iman Emansipasi

Tak cukup dibekali keahlian khusus, explicit knowledge dan keterampilan teknis, tetapi juga memiliki wawasan holistik. Kapabilitas yang ditumbuhkan pun harus memperhatikan keberfungsiannya secara efektif, yang dapat diaktualisasikan individu dalam turut memecahkan masalah konkret kehidupan masyarakat.

Peserta didik juga harus dapat melampaui jangkauan teknologi dan data dengan memberikan wawasan kemanusiaan dan kebijaksanaan. Dengan teknologi, anak-anak masa depan masih bisa menemukan "rumah" sakinah, bukan menjerumuskannya ke "pengasingan".

(Oleh: Yudi Latif, pengamat kebangsaan) ***

Sumber: instagram@yudilatifofficial

Berita Terkait