DECEMBER 9, 2022
Ekonomi Bisnis

Ekonom ISED Ryan Kiryanto: Komitmen Pertamina untuk Jaga Ketahanan Energi Adalah Keputusan Tepat dan Bijak

image
konom dan Co-Founder Dewan Pakar Institute of Social, Economics, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

ORBITINDONESIA.COM - Ekonom senior Institute for Social, Economic, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto menilai, optimisme dan komitmen Pertamina untuk terus menjaga ketahanan energi nasional dan mendukung stabilitas perekonomian merupakan keputusan yang tepat dan bijak.

"Di tengah kondisi geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah, yang berpotensi membuat harga crude oil (minyak mentah) terus melesat, sikap tersebut sebagai wujud kehadiran negara melalui Pertamina," kata Ryan Kiryanto melalui sambungan telepon di Jakarta, Minggu, 28 April 2024.

Dalam keadaan apa pun negara melalui Pertamina, kata Ryan Kiryanto, harus hadir. Bentuk kehadiran negara tersebut ikut menstabilkan harga di pasar, yang menjadi konsumsi masyarakat banyak, termasuk Pertamina terus memelihara pasokan BBM guna menjaga ketahanan energi.

Baca Juga: Wiko Migantoro Diangkat Jadi Wakil Dirut Pertamina, Ahmad Siddik Badruddin Jadi Direktur Manajemen Risiko

Menurut Ryan, optimisme dan komitmen Pertamina tersebut sangat penting, terutama dalam kondisi saat ini. Apalagi melesatnya harga minyak dunia akibat kondisi geopolitik sangat berpengaruh pada perekonomian nasional, terlebih dibarengi dengan melemahnya nilai tukar mata uang.

Jika dalam situasi geopolitik seperti sekarang, Pertamina menaikkan harga BBM misalnya, menurut dia, efek spiralnya ke mana-mana. Ada yang namanya first round effect yaitu pembeli BBM akan langsung terpukul karena harga tiba-tiba menjadi lebih mahal.

Hal yang membahayakan, lanjut dia, adalah second round effect yakni harga barang-barang akan mengikuti kenaikan harga BBM tersebut.

Baca Juga: Dukung Ganjar-Mahfud, Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok Mundur dari Komisaris Utama Pertamina: Merdeka!

"Ujungnya, kalau harga barang kelompok barang pokok naik, yang terjadi adalah inflasi," kata dia

Selain kenaikan harga barang di dalam negeri, kata Ryan Kiryanto??????, kenaikan harga barang di luar negeri juga membuat makin berat. Kondisi demikian disebut sebagai imported inflation yakni kenaikan harga akibat tingginya harga barang dari luar negeri.

"Indonesia akan terkena double inflation factorcausa prima-nya adalah risiko geopolitik yang meningkat," katanya.

Baca Juga: Pertamina EP Zona 7: Temuan Cadangan Migas di Jawa Barat Masih Dalam Evaluasi Teknis

Jika itu terjadi, tentu sangat memberatkan masyarakat. Oleh karena itu, Pertamina sebagai BUMN di tengah situasi yang sedang hangat secara geopolitik, tentu dari sisi timing, pilihan terbaik adalah tidak menyesuaikan harga BBM dahulu sambil terus menjaga ketahanan energi.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, Pertamina akan terus meningkatkan upaya mitigasi risiko untuk mengurangi potensi dampak dari dinamika situasi ekonomi dan geopolitik, termasuk pengendalian biaya, pemilihan komposisi crude yang optimal, pengelolaan inventory yang efektif, peningkatan produksi high-yield products dan efisiensi di semua lini operasional

Terus meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, memicu kenaikan harga minyak dunia. Pada hari Jumat, 26 April 2024, misalnya, harga minyak WTI naik 0,39 persen ke 83,90 dolar AS per barel.

Baca Juga: Kabar Baik: Pertamina Tegaskan Harga Pertamax Series dan Dex Series Tidak Naik pada April Ini

Sementara itu, jenis brent naik 0,38 persen ke 89,35 dolar AS per barel. Dalam sepekan, harga minyak WTI menguat 2,04 persen. Pada periode yang sama, harga minyak brent menguat 2,36 persen.

Meski demikian, Pertamina menyatakan optimistis dan terus berkomitmen untuk selalu menjaga ketahanan energi nasional dan mendukung stabilitas perekonomian. ***

Sumber: Antara

Berita Terkait