Pameran Karya Nasirun di Galeri Nasional: Warisan Wayang Spiritual

ORBITINDONESIA.COM – Pameran karya Nasirun di Galeri Nasional Indonesia direncanakan digelar untuk memperingati 40 hari wafatnya sang maestro seni rupa. Kementerian Kebudayaan menyebut pameran ini sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Nasirun bagi perjalanan seni rupa Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan rencana pameran itu saat melayat ke rumah duka keluarga Nasirun di Yogyakarta pada Sabtu, 29 Agustus. Ia menilai kepergian Nasirun sebagai kehilangan besar bagi keluarga, seniman, kolega, pencinta seni, dan masyarakat.

Nasirun wafat pada 1 Agustus 2026, dan momentum 40 hari menjadi penanda kultural yang sering dipakai keluarga dan komunitas untuk mengenang. Di titik ini, negara masuk sebagai penyelenggara ruang ingatan melalui pameran di institusi publik.

Fadli menggambarkan Nasirun sebagai pribadi hangat, terbuka, dan mudah bergaul, serta menjadikan rumah dan galerinya ruang temu yang hidup. Karakter sosial itu, menurutnya, sejalan dengan karya Nasirun yang kuat oleh tradisi dan spiritualitas.

Wayang, tradisi, dan nilai spiritual disebut sebagai unsur penting dalam ekspresi artistiknya. Fadli menegaskan, karya Nasirun terasa menyatu dengan spirit dan jiwanya, sehingga publik tidak hanya melihat objek seni tetapi juga jejak batin pembuatnya.

Rencana pameran ini juga memiliki konteks institusional karena disebut akan menjadi salah satu pameran terakhir sebelum Galeri Nasional Indonesia memasuki fase renovasi. Artinya, pameran Nasirun berpotensi menjadi “penutup bab” bagi satu periode ruang pamer negara, sekaligus pembuka diskusi tentang arah pengelolaan warisan seni setelah renovasi.

Dalam praktik kebudayaan, pameran peringatan sering menjadi mekanisme kanonisasi, yakni meneguhkan siapa yang dianggap penting dalam sejarah seni. Karena itu, kurasi, pemilihan periode karya, dan narasi pameran akan menentukan apakah Nasirun dibaca sekadar sebagai pelukis tradisi, atau sebagai pengolah tradisi yang relevan bagi publik kontemporer.

Apresiasi negara patut dibaca sebagai sinyal bahwa seni rupa tidak hanya urusan pasar dan kolektor, tetapi juga urusan memori publik. Namun penghormatan tidak cukup berhenti pada seremoni 40 hari dan pidato kehilangan.

Pameran akan bermakna jika menghadirkan konteks, termasuk proses kreatif, jaringan komunitas, dan pengaruh Nasirun pada generasi setelahnya. Tanpa itu, publik hanya mendapat nostalgia, bukan pengetahuan yang memperluas cara pandang tentang tradisi dan spiritualitas dalam seni rupa Indonesia.

Ucapan Supartilah, istri Nasirun, menekankan harapan agar karya dan spirit almarhum terus memberi warna dan mendorong orang mencintai seni. Harapan ini menuntut tindak lanjut, seperti program edukasi, arsip digital, dan akses yang lebih luas agar warisan Nasirun tidak terkunci di ruang pamer sesaat.

Pameran karya Nasirun di Galeri Nasional Indonesia dapat menjadi ruang temu antara duka, penghormatan, dan pembacaan ulang tradisi. Ia juga bisa menjadi momen menguji keseriusan negara dalam merawat ingatan seni rupa, bukan hanya merayakannya ketika tokoh telah tiada.

Pertanyaannya, setelah lampu pameran padam dan gedung memasuki renovasi, siapa yang memastikan karya dan gagasan Nasirun tetap hidup di benak publik. Jika warisan budaya adalah napas panjang, maka pameran ini seharusnya menjadi awal, bukan akhir. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)