IHSG Anjlok Usai Reshuffle Kabinet Prabowo, Asing Melepas Saham

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – IHSG anjlok lebih dari 1% saat reshuffle kabinet Prabowo berlangsung, dan pasar membaca pergantian menteri sebagai sinyal risiko kebijakan. Di tengah koreksi itu, investor asing mencatat net sell ratusan miliar rupiah, menambah tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Perdagangan Kamis (1/10/2026) menunjukkan IHSG terkoreksi 1,02% ke 6.009,11 pada pukul 14.30 WIB, dengan nilai transaksi Rp6,63 triliun. Momentum pelemahan bertepatan dengan pelantikan menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa periode 2024-2029 oleh Presiden Prabowo Subianto. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Dalam reshuffle itu, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan, sementara posisi Kapolri diisi Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Perubahan lain yang disorot pasar ialah Bahlil Lahadalia yang bergeser dari Menteri ESDM menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Data perdagangan memperlihatkan breadth negatif, karena 438 saham melemah dan hanya 205 menguat, sementara 145 stagnan. Volume mencapai 237,06 juta lot dengan frekuensi 1,11 juta kali, yang menandakan aksi jual cukup merata dan bukan sekadar koreksi teknikal sempit. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Dari sisi sektoral, pelemahan dipimpin teknologi yang turun 1,9%, disusul utilities -1,7% dan konsumer kritikal -1,6%. Ini memberi petunjuk bahwa tekanan terjadi pada sektor yang sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan, tarif, serta ketidakpastian regulasi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Daftar pemberat indeks menegaskan arah itu, karena GOTO, DCII, TLKM, UNTR, dan AMMN disebut ikut menekan IHSG. Kombinasi saham teknologi, telekomunikasi, komoditas, dan alat berat mengindikasikan pelaku pasar tidak memilih satu tema saja, melainkan menurunkan eksposur risiko secara umum. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Namun ada kantong-kantong penguatan yang menjadi penopang, seperti DSSA, ENRG, VKTR, AADI, dan GEMS. Penguatan ini menunjukkan rotasi defensif dan selektif ke emiten energi atau komoditas tertentu, terutama yang dianggap diuntungkan oleh agenda hilirisasi atau siklus harga global. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Arus dana asing memperkuat cerita risk-off, karena pada penutupan sesi I tercatat net foreign sell Rp204,30 miliar menurut Stockbit. Total pembelian asing Rp1,70 triliun kalah oleh penjualan Rp1,90 triliun, sehingga sentimen domestik yang rapuh mudah tersulut. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Rincian net sell asing memperlihatkan GOTO dilepas Rp62,77 miliar dengan volume 2,24 miliar saham, diikuti CUAN Rp29,52 miliar dan AMMN Rp24,55 miliar. BBRI turut dijual Rp19,80 miliar dan MDKA Rp19,54 miliar, yang berarti tekanan juga menyentuh bank besar dan emiten tambang. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Di luar reshuffle kabinet, pasar juga menimbang sentimen domestik lain seperti PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi. Kombinasi indikator makro dan perubahan pejabat membuat investor menunggu kepastian arah kebijakan fiskal, energi, dan industrialisasi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Dari eksternal, ketidakpastian perang masih membayangi, meski ada penyeimbang berupa manufaktur China yang menguat. Tambahan sentimen datang dari inflasi PCE AS yang lebih rendah dari ekspektasi serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS, yang bisa mengubah proyeksi suku bunga dan arus modal. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

IHSG anjlok saat reshuffle kabinet bukan semata reaksi emosional, melainkan respons atas premi ketidakpastian yang naik mendadak. Pasar biasanya tidak menilai nama per nama dalam hitungan jam, tetapi membaca risiko koordinasi kebijakan, prioritas anggaran, dan konsistensi regulasi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Penunjukan Listyo Sigit sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan pergeseran portofolio Bahlil ke hilirisasi-energi memberi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mempercepat eksekusi agenda strategis. Namun percepatan tanpa kejelasan peta jalan dapat memunculkan kekhawatiran baru, terutama bagi sektor yang sensitif terhadap izin, tarif, dan kepastian kontrak. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Net sell asing pada saham-saham besar seperti GOTO, BBRI, dan AMMN menunjukkan investor global memilih menepi ketika sinyal politik bercampur dengan risiko global. Di titik ini, narasi “stabilitas” tidak cukup, karena pasar menuntut indikator yang lebih terukur seperti target, jadwal, dan mekanisme pengambilan keputusan yang transparan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Koreksi juga mengingatkan bahwa pasar modal Indonesia masih rentan pada kejutan kebijakan, terutama ketika komunikasi publik tidak seragam. Jika pemerintah ingin IHSG menjadi cermin optimisme ekonomi, maka konsistensi pesan dan kepastian aturan harus diperlakukan sebagai infrastruktur yang sama pentingnya dengan jalan dan pelabuhan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

IHSG anjlok hari ini memperlihatkan satu pelajaran sederhana, bahwa reshuffle kabinet bisa menjadi katalis yang mempercepat penilaian ulang risiko. Data sektor, daftar pemberat, serta net sell asing menegaskan bahwa pelaku pasar sedang mencari pegangan yang lebih pasti di tengah perubahan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)

Pertanyaannya kini bukan apakah pasar akan pulih, melainkan seberapa cepat pemerintah mampu mengubah “kejutan politik” menjadi “kepastian kebijakan.” Jika reshuffle adalah alat memperkuat eksekusi, maka transparansi target dan disiplin komunikasi publik adalah ujian pertamanya. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)