KF-21 dan Pertarungan Jet Tempur Filipina: “Beri Diskon 10 Persen, Saya Pikirkan”

Jet tempur KF-21 Boramae.

Jet tempur KF-21 Boramae.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Kalimat itu mungkin terdengar seperti lelucon biasa. Tetapi dalam dunia pengadaan senjata, satu kalimat dari seorang pejabat tinggi bisa menyimpan pesan yang jauh lebih serius.

“Beri kami diskon 10 persen, dan saya akan mempertimbangkannya.” Itulah jawaban Menteri Pertahanan Nasional Filipina Gilberto “Gibo” Teodoro Jr. ketika ditanya mengenai kemungkinan kabar baik bagi Korea Selatan dan jet tempur KF-21 Boramae dalam kompetisi Multi-Role Fighter (MRF) Angkatan Udara Filipina.

Jawaban tersebut disampaikan di sela-sela Seoul Defense Dialogue. Sekilas, pernyataan Teodoro dapat ditafsirkan sebagai sinyal positif bagi KF-21. Namun jika dibaca lebih cermat, justru sebaliknya: Filipina belum memutuskan apa pun.

Kalimat “saya akan mempertimbangkannya” bukanlah “kami akan membelinya”.

Dan perbedaan kecil itu sangat penting.

China adalah ancaman utama

Dalam forum yang sama, ketika ditanya media Korea Selatan, JoongAng Ilbo, mengenai ancaman keamanan terbesar bagi Filipina, Teodoro tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. China.

Jawaban itu sejalan dengan semakin kerasnya sikap Manila dalam menghadapi tekanan Beijing di Laut China Selatan.

Teodoro bahkan secara terbuka menanggapi sebuah catatan yang diterimanya dalam forum tersebut yang menyatakan bahwa putusan arbitrase internasional 2016 mengenai Laut China Selatan adalah “ilegal dan tidak sah”.

Bagi Teodoro, pandangan tersebut merupakan upaya untuk mengabaikan atau menginjak-injak UNCLOS, Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

Ia menggambarkan tindakan China di kawasan sebagai bentuk tekanan, intimidasi, dan agresi.

Pesannya jelas. Filipina tidak ingin hanya berbicara tentang menghadapi tekanan.

Manila ingin memiliki kemampuan militer yang memungkinkan negara itu benar-benar menolak tekanan tersebut.

Di sinilah program MRF memperoleh makna strategis.

KF-21 belum menjadi pilihan Filipina

Lalu, di mana sebenarnya posisi KF-21? Teodoro juga cukup jelas mengenai hal ini. Belum ada satu pun platform yang secara resmi dipilih.

Departemen Pertahanan Nasional Filipina masih menyelesaikan persoalan pembiayaan dan struktur pendanaan program tersebut. Setelah arsitektur pembiayaan selesai, barulah Manila dapat menentukan pesawat yang dianggap paling sesuai.

Karena itu, pernyataan “diskon 10 persen” sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai: “Berikan diskon 10 persen dan kami akan membeli KF-21.”

Maknanya bisa justru: “Bahkan jika Anda memberikan diskon 10 persen, kami baru akan mempertimbangkannya.”

Ini menunjukkan satu hal penting: harga pesawat bukan satu-satunya faktor penentu. Filipina harus melihat keseluruhan paket.

Bukan hanya pesawat, tetapi juga persenjataan, sistem pendukung, pelatihan, pembiayaan, jadwal pengiriman, pemeliharaan, kerja sama industri, hingga biaya sepanjang siklus hidup pesawat.

Dengan kata lain, yang sedang dicari Filipina bukan sekadar fighter aircraft, melainkan sebuah combat capability package.

Empat kandidat dalam perlombaan

Jika melihat informasi yang tersedia, persaingan MRF Filipina saat ini dapat dipetakan ke dalam empat kandidat utama: Gripen E/F, KF-21 Boramae, Eurofighter Typhoon, dan F-16 Block 70.

Masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri.

Gripen E/F: efisiensi kekuatan tempur

Gripen E/F dari Swedia dapat menjadi salah satu kandidat paling menarik jika Manila lebih mementingkan jumlah pesawat, tingkat kesiapan operasional, dan biaya operasi jangka panjang.

Filosofi Gripen memang berbeda dengan pendekatan yang sekadar mengejar platform paling mahal dan paling canggih.

Pesawat ini dirancang dengan perhatian besar pada biaya operasi, fleksibilitas penggunaan dan kemampuan beroperasi dari pangkalan yang tersebar.

Jika Filipina ingin membangun kekuatan udara yang tidak hanya terdiri dari pesawat tempur, tetapi juga mencakup AEW&C, tanker, persenjataan, dukungan logistik dan infrastruktur, faktor ekonomi keseluruhan menjadi sangat penting.

Dalam skenario seperti itu, Gripen bisa memperoleh keunggulan.

Perkiraan analisis yang beredar menempatkan Gripen E/F pada kisaran 30–35 persen peluang, meskipun angka semacam ini tentu bukan keputusan resmi Manila.

KF-21 Boramae: teknologi dan hubungan strategis

KF-21 memiliki sesuatu yang tidak mudah ditandingi: daya tarik strategis dan industri.

Filipina dan Korea Selatan sudah memiliki hubungan pertahanan yang semakin erat. Seoul juga memiliki kepentingan besar untuk memperluas kerja sama industri pertahanan dengan Manila.

KF-21 memberikan peluang bagi hubungan itu untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun justru karena itu, ucapan Teodoro mengenai diskon 10 persen patut dibaca secara serius.

Korea Selatan tidak cukup hanya menawarkan pesawat yang menarik.

Seoul harus membuat keseluruhan paket menjadi menarik: pembiayaan, senjata, pelatihan, pemeliharaan, kerja sama industri, transfer teknologi dan jadwal pengiriman.

Jika semua komponen itu dapat disusun secara kompetitif, KF-21 bisa bergerak naik dengan cepat.

Untuk saat ini, bagaimanapun, posisi KF-21 masih berada pada tahap dipertimbangkan, bukan dipastikan.

Eurofighter Typhoon: kandidat yang jangan diremehkan

Eurofighter Typhoon mungkin merupakan kandidat yang paling mudah terlewatkan dalam perdebatan publik.

Masalah utamanya jelas: harga.

Eurofighter bukan pilihan yang kemungkinan akan menjadi solusi termurah, terutama jika seluruh paket dihitung.

Tetapi ada sisi lain yang juga penting. Eurofighter memiliki basis produksi multinasional yang sudah mapan, dengan jalur produksi akhir di Italia, Jerman, Spanyol, dan Inggris.

Kemampuan produksi semacam ini memiliki arti strategis karena persoalan dalam pengadaan jet tempur bukan hanya apakah pesawat tersebut bagus, melainkan kapan pesawat itu benar-benar tiba dan berapa banyak yang dapat dioperasikan. Bagi Filipina, waktu sangat penting.

Negara tersebut sedang berusaha memperkuat daya tangkalnya dengan cepat. Pesawat yang sangat bagus tetapi datang terlambat dalam jumlah terbatas belum tentu memberikan efek strategis sebesar pesawat yang mampu membentuk kekuatan tempur efektif lebih cepat. Karena itu, Eurofighter layak dipandang sebagai alternatif kelas atas yang serius, meskipun biaya menjadi hambatan utamanya.

F-16 Block 70: terbukti, tetapi mahal dan antre

F-16 Block 70 memiliki keunggulan yang sangat jelas: rekam jejak dan ekosistem Amerika Serikat. Filipina akan mendapatkan akses ke jaringan persenjataan, pelatihan, interoperabilitas dan dukungan Amerika yang sangat luas.

Tetapi dua persoalan besar tetap menghantuinya: harga dan waktu pengiriman.

Paket F-16 untuk Filipina yang telah disetujui Amerika Serikat diperkirakan bernilai sekitar US$5,58 miliar untuk 20 pesawat, termasuk berbagai peralatan pendukung, persenjataan, mesin, dukungan dan pelatihan. Angka tersebut membuat F-16 menjadi investasi yang sangat besar.

Masalah berikutnya adalah antrean produksi. Dengan banyak pelanggan F-16 Block 70 yang juga menunggu pengiriman, Manila harus mempertimbangkan pertanyaan yang lebih fundamental:

Kapan Filipina benar-benar akan memiliki jumlah F-16 yang cukup untuk menciptakan kemampuan tempur yang berarti?

Bagi negara yang sedang berusaha mempercepat pembangunan daya tangkal, waktu bukan persoalan sekunder.

Pesawat yang datang terlalu lambat atau dalam jumlah yang terlalu kecil bisa kehilangan sebagian nilai strategisnya.

Bukan soal mencari pesawat terbaik

Pada akhirnya, kompetisi MRF Filipina seharusnya tidak disederhanakan menjadi pertanyaan: “Pesawat mana yang paling bagus?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Pemasok mana yang dapat memberikan kemampuan tempur paling kredibel, dalam jumlah yang dibutuhkan Filipina, dengan pembiayaan dan jadwal pengiriman yang mampu dipertahankan Manila?”

Ini adalah persoalan yang jauh lebih kompleks. Filipina membutuhkan pesawat tempur, tetapi pesawat itu tidak bisa bekerja sendirian.

Ia membutuhkan rudal, radar, sistem komunikasi, pangkalan udara, pelatihan pilot, simulator, suku cadang, pemeliharaan, dukungan intelijen, sistem komando dan kendali, serta kemampuan pengisian bahan bakar di udara.

Karena itu, jumlah pesawat dan tingkat kesiapan operasional bisa menjadi sama pentingnya dengan spesifikasi teknis pesawat itu sendiri.

Teodoro sendiri telah mengingatkan bahwa Filipina membutuhkan armada MRF yang cukup besar, bukan membeli dalam jumlah kecil yang kemudian justru semakin mahal ketika ekspansi dilakukan di masa depan. Di sinilah empat kandidat tersebut menawarkan daya tarik yang berbeda.

Gripen E/F menawarkan ekonomi kekuatan dan fleksibilitas operasi.

KF-21 Boramae menawarkan teknologi baru sekaligus hubungan strategis dan industri Korea Selatan.

Eurofighter Typhoon menawarkan kemampuan tempur kelas atas dengan basis produksi multinasional yang telah mapan.

Sementara F-16 Block 70 menawarkan platform yang telah terbukti serta ekosistem persenjataan dan interoperabilitas Amerika Serikat, tetapi dengan persoalan biaya dan antrean produksi.

“Beri kami diskon 10 persen”

Karena itu, kalimat Teodoro mengenai diskon 10 persen menjadi menarik. Bisa saja itu sekadar humor seorang pejabat yang sedang berada di Seoul. Tetapi dalam konteks kompetisi MRF, kalimat itu juga dapat dibaca sebagai pesan negosiasi: Filipina belum memilih.

Dan kepada semua pemasok, pesannya kurang lebih sama: Jangan hanya menjual pesawat. Tawarkan kepada kami kemampuan tempur yang paling masuk akal.

Khusus kepada Korea Selatan, pesannya bahkan lebih tajam. KF-21 memang menarik. Hubungan Manila-Seoul juga kuat. Tetapi kedekatan politik dan teknologi tidak otomatis memenangkan kontrak. Korea Selatan masih harus meyakinkan Filipina.

Maka, “beri kami diskon 10 persen” mungkin bukan berarti: “Kami menginginkan KF-21.” Melainkan: “Yakinkan kami.”

Pada akhirnya, pemenang kompetisi MRF Filipina mungkin bukan pesawat tempur yang memiliki spesifikasi paling mengesankan.

Pemenangnya bisa jadi adalah negara yang mampu menawarkan sistem tempur terbaik dengan harga yang sanggup dibayar Filipina, jumlah yang benar-benar dibutuhkan, waktu pengiriman yang masuk akal, serta dukungan jangka panjang yang dapat menjaga pesawat tetap siap tempur.

Dan dalam konteks meningkatnya ketegangan Filipina-China di Laut China Selatan, itulah yang sebenarnya sedang dipertaruhkan Manila. Bukan sekadar membeli pesawat. Filipina sedang membeli daya tangkal. ***