Karhutla 2026 hingga November: Menhut Soroti Pola Akhir Pekan

nasional.kompas.com

nasional.kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 diprediksi masih menghantui Indonesia sampai Oktober atau awal November 2026. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut pola mencurigakan: titik api cenderung naik di akhir pekan, ketika pengawasan sering longgar.

Di Gedung DPR, Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa karhutla akan “bersama kita” selama puncak kemarau dan El Nino yang ia sebut sangat kuat. Ia meminta partisipasi masyarakat agar pemadaman tidak berubah menjadi pekerjaan tanpa ujung.

Raja menyorot beban petugas gabungan, dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, hingga BPBD, yang terus berjibaku di lapangan. Ia mengaku kasihan karena setelah satu titik padam, api kerap muncul lagi di lokasi lain.

Pernyataan “tren naik di Jumat, Sabtu, Minggu” adalah petunjuk penting tentang kemungkinan faktor manusia dalam karhutla. Jika benar, maka sebagian kejadian bukan semata akibat cuaca kering, melainkan keputusan sadar untuk membakar.

Dalam konteks El Nino, sedikit api bisa berubah menjadi bencana karena vegetasi mudah menyala dan angin mempercepat rambatan. Karena itu, operasi-modifikasi cuaca (OMC), water bombing, dan satgas darat hanya mengurangi dampak, bukan menghapus sumber masalah.

Raja menegaskan penegakan hukum harus berjalan, sebab pemadaman akan sia-sia bila pembakaran untuk land clearing terus terjadi. Ia juga menyebut pelaku bisa dari skala kecil sampai korporasi, sehingga pencegahan tidak cukup hanya dengan imbauan moral.

Pola akhir pekan patut dibaca sebagai celah tata kelola, bukan sekadar kebetulan statistik. Bila pengawasan lapangan, patroli, dan respons cepat melemah saat hari libur, maka sistem memberi ruang bagi pembakar untuk “mengatur waktu.”

Seruan partisipasi masyarakat terdengar wajar, tetapi berisiko menjadi cara halus untuk memindahkan beban negara kepada warga. Partisipasi penting, namun tidak bisa menggantikan kontrol, penindakan, dan transparansi penanganan.

Jika titik api berulang muncul setelah dipadamkan, maka masalahnya bukan hanya api, melainkan insentif ekonomi di belakang pembakaran. Selama pembukaan lahan murah dengan api lebih menguntungkan daripada cara mekanis, selalu ada yang “bermain api.”

Karena itu, penegakan hukum harus menyasar pelaku, rantai komando, dan penerima manfaat, bukan berhenti pada pelaku lapangan. Publik juga berhak tahu peta kerawanan, jam-jam patroli, serta progres penindakan agar peringatan akhir pekan tidak sekadar retorika.

Karhutla 2026 sampai Oktober atau awal November bukan sekadar ramalan musim, melainkan ujian disiplin sosial dan ketegasan negara. Ketika Raja Juli berkata kasihan pada petugas, pesan tersiratnya jelas: pemadaman tidak akan menang melawan pembakaran yang disengaja.

Pertanyaannya tinggal satu, siapa yang berani memutus siklus ini dari sumbernya, bukan dari asapnya. Jika akhir pekan menjadi “musim kecil” bagi titik api, maka akhir pekan juga harus menjadi waktu paling keras untuk pengawasan dan penindakan.

(Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)