Teleskop Euclid Temukan Quasar Tertua, Misteri Lubang Hitam Membesar
ORBITINDONESIA.COM – Teleskop luar angkasa Euclid menemukan quasar tertua yang pernah teramati, yakni dua objek superterang dari saat alam semesta baru berusia sekitar 670 juta tahun. Temuan quasar tertua ini bukan sekadar rekor, melainkan mempertegas teka-teki: bagaimana lubang hitam supermasif bisa tumbuh begitu cepat pada masa bayi kosmos.
Quasar adalah “mercusuar” kosmik yang ditenagai lubang hitam supermasif di pusat galaksi awal. Saat lubang hitam melahap materi di sekitarnya, piringan akresi memancar sangat terang, bahkan bisa triliunan kali lebih terang daripada Matahari.
Karena cahaya butuh waktu untuk menempuh jarak, melihat jauh ke angkasa berarti menengok jauh ke masa lalu. Itulah sebabnya para astronom memburu quasar purba untuk membaca bab-bab awal alam semesta yang masih minim dipahami.
Dalam studi yang terbit Senin di Astronomy & Astrophysics, tim astronom internasional mengumumkan penemuan 31 quasar dengan Teleskop Euclid milik ESA. Dua di antaranya adalah yang tertua yang pernah diamati, dan cahayanya berasal dari era ketika alam semesta baru sekitar 5 persen dari usia sekarang, 13,8 miliar tahun.
Rekor ini melampaui penemuan tim yang sama pada 2021 sekitar 20 juta tahun. Secara astronomis, selisih itu kecil, tetapi secara kosmologi itu berarti kita semakin dekat ke masa ketika struktur pertama baru mulai menyala.
Euclid diluncurkan pada 2023 dan ditempatkan di titik stabil sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi. Lokasi ini memungkinkan pengamatan luas dan stabil, serta pemetaan langit dalam skala yang sulit ditandingi teleskop darat.
Penemuan quasar-quasar baru ini berasal dari masa yang disebut epoch of reionization, saat bintang dan galaksi pertama terbentuk dan mengakhiri “zaman kegelapan kosmik”. Daming Yang, penulis utama studi, menyebut quasar bisa dipakai sebagai “mercusuar” untuk memetakan gas di antara kita dan quasar, sehingga jejak reionisasi dapat dilacak.
Secara teknis, kekuatan Euclid ada pada survei area langit yang sangat luas dengan sensitivitas tinggi terhadap cahaya redup. Yang mengatakan peluncuran Euclid “mengubah bidang ini”, dan dalam dua tahun Euclid telah menggandakan jumlah quasar purba yang diketahui sains.
Di masa sebelum Euclid, perburuan quasar tua banyak mengandalkan teleskop berbasis darat. Konsekuensinya, yang tertangkap umumnya hanya “segelintir” quasar paling terang, sementara populasi yang lebih redup dan lebih umum cenderung luput.
Di sinilah dampak ilmiahnya menjadi tajam untuk publik: semakin banyak quasar purba ditemukan, semakin sulit menghindari pertanyaan tentang pertumbuhan lubang hitam supermasif. Joseph Hennawi, salah satu penulis, menegaskan paradoksnya: “monster” bermassa miliaran kali Matahari “entah bagaimana” sudah ada saat alam semesta masih bayi, dan kita belum punya pemahaman yang baik bagaimana mereka bisa sebesar itu secepat itu.
Jika lubang hitam bermula dari sisa bintang pertama, lalu tumbuh lewat akresi biasa, waktu 670 juta tahun terdengar terlalu singkat untuk mencapai miliaran massa Matahari tanpa skenario pertumbuhan ekstrem. Temuan Euclid mempersempit ruang “jalan pintas” teoretis, karena data baru menambah contoh konkret yang harus dijelaskan, bukan sekadar satu-dua anomali.
Tim juga menargetkan quasar yang lebih tua lagi, dan Teleskop James Webb disebut telah mengamati quasar yang baru diumumkan ini. Data Webb akan disisir untuk membangun “kronik quasar” pada satu miliar tahun pertama, sebuah upaya yang berpotensi mengikat observasi Euclid yang luas dengan detail spektral yang lebih dalam.
Di luar quasar, Euclid memang dirancang untuk misi kosmik besar: memetakan sepertiga langit demi menguak misteri materi gelap dan energi gelap. Dalam misi enam tahun, observatorium ini akan memotret langit sekitar Bima Sakti dan memantau galaksi serta gugus galaksi hingga 10 miliar tahun ke belakang.
Catatan publiknya juga mengesankan, dan ESA menyebut Euclid memotret citra terbesar dan paling detail dari jantung galaksi kita yang padat, berisi 60 juta bintang. Sebelumnya, Euclid juga menangkap citra gugus galaksi Abell 2390 yang berjarak 2,7 miliar tahun cahaya dan mencakup lebih dari 50.000 galaksi, serta tampilan lebar gugus Perseus dengan setidaknya 1.000 galaksi terikat gravitasi.
Temuan quasar tertua Euclid terasa seperti berita rekor, tetapi nilai utamanya adalah tekanan baru pada teori pembentukan struktur awal. Kita sering mengira sains kosmologi bergerak dari “misteri” menuju “jawaban”, padahal seringnya justru dari “jawaban sementara” menuju “misteri yang lebih rapi dan lebih sulit dibantah”.
Ketika teleskop makin kuat, alam semesta awal tampak tidak “kecil dan lambat”, melainkan agresif, efisien, dan produktif. Jika galaksi dan lubang hitam raksasa sudah muncul begitu dini, maka asumsi tentang laju akresi, tabrakan awal, atau bahkan mekanisme “benih” lubang hitam perlu diuji ulang dengan disiplin yang lebih keras.
Namun ada juga pelajaran metodologis yang jarang dibahas di ruang publik: kemajuan datang dari survei sistematis, bukan hanya gambar spektakuler. Euclid menunjukkan bahwa memetakan langit secara luas dan konsisten bisa mengubah statistik, dan statistik yang berubah bisa menggoyang teori yang sudah terasa mapan.
Di titik ini, quasar bukan sekadar objek jauh yang indah, melainkan alat ukur sejarah kosmik. Ia menguji apakah kita memahami bagaimana cahaya pertama menyalakan ulang alam semesta, dan apakah kita punya model yang masuk akal untuk pertumbuhan “monster” gravitasi pada waktu yang nyaris mustahil.
Euclid menambah 31 quasar purba, termasuk dua quasar tertua dari usia alam semesta sekitar 670 juta tahun, dan setiap penambahan data membuat teka-teki pertumbuhan lubang hitam supermasif makin menantang. Kita mendapat peta yang lebih luas, tetapi juga pertanyaan yang lebih tajam tentang bagaimana kosmos membangun raksasa-raksasa pertamanya.
Jika quasar adalah mercusuar, maka cahaya yang mereka kirim bukan hanya menerangi masa lalu, tetapi juga menyorot keterbatasan pengetahuan kita hari ini. Barangkali pencerahan terbesar dari temuan ini bukan pada rekor jarak, melainkan pada keberanian untuk mengakui: alam semesta awal masih menyimpan mekanisme yang belum kita pahami, dan justru di sanalah sains terus hidup.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)