Bunga Setan Thailand Thismia daemona: Tanpa Fotosintesis, Terancam Punah

Tirto.id

Tirto.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Bunga Setan Thailand, Thismia daemona, ditemukan di Taman Nasional Thong Pha Phum pada 2025 dan langsung memantik rasa takjub sekaligus cemas. Spesies baru ini tidak berfotosintesis, hidup dari jamur tanah, dan kini diklasifikasikan sangat terancam punah karena populasinya amat kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Penemuan Thismia daemona datang dari survei botani Universitas Chulalongkorn dan Universitas Prince of Songkla di Thailand bagian barat. Temuan itu kemudian dipublikasikan dalam jurnal PhytoKeys dan ramai diberitakan media sains seperti Science Daily serta Science Alert. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Spesies ini masuk genus Thismia yang kerap dijuluki “Lentera Peri” karena bentuk bunganya yang unik dan kemunculannya yang singkat. Banyak anggota genus ini jarang terlihat karena lebih sering tersembunyi di bawah serasah dan hanya muncul saat berbunga atau berbuah. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Nama “daemona” dipilih karena penampilannya yang gelap dan terasa “mengintimidasi” bagi mata awam. Mahkotanya memiliki tiga tonjolan panjang hitam pekat seperti tanduk, dengan bercak merah-oranye yang kerap diibaratkan sepasang mata menyala. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Para peneliti menyebut gaya hidupnya yang tersembunyi membuat kesan misterius itu makin kuat. “Tim kami sepakat bahwa penamaan Thismia daemona sangat tepat menggambarkan esensinya yang penuh teka-teki dan seperti iblis,” kata Sahut Chantanaorrapint, dikutip Science Daily. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Keunikan kunci Bunga Setan Thailand adalah ketiadaan klorofil, sehingga ia tidak mengandalkan cahaya matahari untuk membuat makanan. Ini membuatnya termasuk tumbuhan mikotrof, lebih tepatnya mycoheterotroph, yang “meminjam” karbon dan nutrisi melalui jamur tanah. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Dalam ekologi hutan, strategi ini bukan sekadar anomali, melainkan bentuk ketergantungan yang ekstrem. Jika jaringan jamur terganggu, maka rantai pasok energi Thismia daemona ikut runtuh, sekalipun habitat terlihat masih “hijau” di permukaan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Deskripsi morfologi yang dikutip dari laporan ilmiah menyebut akar berbentuk karang, bunga kehitaman, dan kelopak luar merah jingga yang berdaging. Ada pula benang sari biru transparan dengan ujung melengkung, detail yang menegaskan bahwa keanehan bukan sekadar sensasi, melainkan data taksonomi. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Analisis filogenetik menempatkannya pada Thismia sect. Geomitra dan berkerabat dekat dengan Thismia betung-kerihunensis. Ini penting karena menunjukkan “Bunga Setan” bukan makhluk terpisah, melainkan bagian dari garis evolusi yang sudah lama beradaptasi pada hidup minim cahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Yang mengejutkan, populasi ditemukan di hutan evergreen pegunungan musiman pada ketinggian hampir 1.000 meter. Padahal banyak Thismia lazimnya dilaporkan di hutan hujan dataran rendah yang selalu lembap, sehingga lokasi ini memperluas dugaan rentang ekologinya. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Data lapangan menunjukkan ia bisa tumbuh hingga sekitar 12,5 sentimeter dan ditemukan pada elevasi sekitar 930–970 meter di atas permukaan laut. Namun “toleransi lingkungan yang lebih luas” tidak otomatis berarti aman, karena kebutuhan utamanya adalah jejaring jamur yang stabil dan lantai hutan yang tidak terganggu. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Di Thailand, peneliti mencatat sekitar 16 spesies Thismia, termasuk T. daemona. Sebelumnya, kelompok kerabat dekatnya lebih sering tercatat di Semenanjung Malaysia, Borneo, dan Sumatra, sehingga penemuan ini juga menambah peta sebaran yang selama ini bolong. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Status “Sangat Terancam Punah” diberikan sementara mengikuti kriteria IUCN karena baru diketahui satu populasi. Populasi itu disebut kurang dari 50 individu dan menempati area lebih kecil dari lapangan sepak bola, angka yang secara konservasi sudah masuk zona merah. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Ironinya, lokasinya berada di taman nasional yang dilindungi, tetapi justru rentan oleh hal sepele: langkah kaki wisatawan. Untuk tumbuhan yang hanya muncul sesaat di permukaan, satu musim terinjak dapat berarti satu generasi hilang tanpa sempat tercatat. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Label “Bunga Setan” memang menjual, tetapi sekaligus berisiko menyederhanakan masalah. Publik bisa berhenti pada rasa ngeri dan takjub, lalu lupa bahwa ini adalah indikator rapuhnya ekosistem lantai hutan dan jejaring jamur yang tak terlihat. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Dalam banyak kasus, konservasi kalah cepat dari viralitas, karena perhatian tidak otomatis berubah menjadi perlindungan. Jika pengelola kawasan hanya menambah promosi wisata tanpa protokol jalur pijak, pembatasan akses musiman, dan edukasi, maka “ketenaran” menjadi ancaman baru. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Temuan ini juga menantang cara kita menilai kelimpahan hayati dengan mata telanjang. Spesies seperti Thismia daemona menunjukkan bahwa “yang tidak terlihat” bisa menjadi inti kesehatan hutan, dan kerusakannya sering baru disadari setelah terlambat. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Karena bergantung pada jamur, perlindungan tidak cukup hanya menyelamatkan bunga saat mekar. Yang harus dijaga adalah lantai hutan, serasah, kelembapan mikro, serta gangguan tanah, karena di sanalah sistem pendukung hidupnya bekerja. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Bunga Setan Thailand, Thismia daemona, memperlihatkan bahwa alam masih menyimpan “aturan lain” di balik buku pelajaran fotosintesis. Ia hidup tanpa cahaya, tetapi justru paling rentan oleh jejak manusia yang sering tak terasa. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Jika satu populasi kecil di area sempit bisa hilang hanya karena terinjak, maka pertanyaannya bukan lagi seberapa unik ia, melainkan seberapa disiplin kita menjaga ruang hidup yang tak kasatmata. Mungkin pelajaran terpenting dari bunga ini adalah bahwa misteri alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dipahami dan dilindungi sebelum lenyap. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)