AI dan Pendidikan: Mengancam atau Membantu Kemajuan?
ORBITINDONESIA.COM – Sejak revolusi digital tahun 1990-an, teknologi terus mengubah wajah pendidikan. Kini, AI seperti ChatGPT memicu perdebatan baru tentang integritas akademik.
Sejak akhir 1990-an, internet menjadi sumber informasi utama, menggantikan buku perpustakaan. Namun, tidak semua sekolah memiliki akses internet saat itu. Saat ini, dengan AI dalam genggaman, pendidikan menghadapi tantangan baru. ChatGPT, misalnya, mampu menyelesaikan ujian medis dan bisnis di universitas AS, memicu kekhawatiran tentang kecurangan akademik.
AI dalam pendidikan menawarkan dua pendekatan: sebagai mentor virtual dan alat pembelajaran efektif. Namun, kekhawatiran akan ketergantungan siswa pada teknologi ini meningkat. Beberapa universitas bahkan mempertimbangkan kembali ke ujian pena dan kertas. Meski AI membantu akses pendidikan di daerah terpencil, integritas akademik tetap menjadi tantangan besar.
Kecanggihan teknologi menuntut moderasi penggunaan. Kasus Klub Luddite di New York menunjukkan usaha melawan ketergantungan teknologi. Namun, masalah bukan pada teknologinya, melainkan cara penggunaannya. Orang tua dan pendidik harus membimbing anak dalam menggunakan teknologi secara bijak, seimbang antara manfaat dan risiko.
Tantangan utama adalah memoderasi penggunaan teknologi dalam pendidikan. Pendidikan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada teknologi, namun juga tidak bisa menolak kemajuan zaman. Pertanyaan yang harus dijawab adalah: bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pendidikan tanpa mengorbankan integritas dan kualitas belajar?
(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2025)