Ali Samudra: Taabbud dan Taaqquli Dalam Spiritual Muslim Modern
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Sepanjang sejarah pemikiran Islam, terdapat dua arus besar yang membentuk karakter keberagamaan: ta‘abbudi (ketaatan ritual yang bersifat penghambaan) dan ta‘aqquli (pendekatan rasional dan intelektual). Kedua arus ini secara keliru sering diposisikan seolah-olah saling bertentangan - seakan-akan semakin seseorang menjadi ta‘abbudi, semakin ia harus menjauhi akal; dan semakin ia menjadi rasional, semakin ia harus meninggalkan sisi penghambaan.
Paradigma ini adalah warisan dikotomi lama yang tidak relevan lagi, terlebih di era modern yang diwarnai sains, teknologi, dan globalisasi arus informasi. Kita memerlukan cara baru - cara yang lebih dewasa dan lebih mendalam - untuk memahami relasi keduanya. Spiritualitas modern menuntut bukan hanya kepatuhan, tetapi juga kesadaran; bukan hanya berpikir, tetapi juga berserah diri.
Definisi Ta‘abbudi dan Ta‘aqquli
Ta‘abbudi: Adalah Ketaatan yang Berakar pada Penghambaan. Ta‘abbudi berasal dari kata ‘ubudiyyah—penghambaan mutlak kepada Allah. Dalam wilayah ta‘abbudi, manusia mempercayakan dirinya kepada ketentuan Tuhan, meskipun tidak selalu memahami secara penuh hikmah di baliknya.
Contohnya: jumlah rakaat sholat, tata cara puasa, tata cara haji; larangan-larangan tertentu yang sifatnya ghayr ma‘qul al-ma‘na (tidak eksplisit rasional). Tetapi ini tidak berarti ta‘abbudi anti-akal.
Dalam Al-Qur’an, perintah taat selalu didahului oleh perintah untuk berpikir. Afala Ta'qilu, Afala Tatafakkarun, Afala Tatadzakkarun. “Tidakkah kalian menggunakan akal?” (QS. Al-Baqarah :44). Ketaatan baru menemukan kedalamannya ketika diiringi kesadaran; tanpa kesadaran, ia mudah berubah menjadi rutinitas yang kehilangan ruh.
Ta‘aqquli berasal dari kata ‘aql - akal. Ini merujuk pada wilayah keagamaan yang terbuka bagi penalaran, ijtihad, kritik, dan pembacaan kontekstual. Contohnya: hukum sosial (mu‘amalah), etika publik, ekonomi dan politik, kebijakan sosial, perkembangan sains dan teknologi. Akal bukan musuh iman. Ia adalah amanah. “Tidakkah mereka mentadabburi AlQuran" (QS. An-Nisa:82) Ta‘aqquli: Adalah Rasionalitas sebagai Amanah Ilahi.
Relasi Keduanya: Bukan Pertentangan, Melainkan saling melengkapi
Dalam spiritualitas modern, ta‘abbudi dan ta‘aqquli bukan dua jalan yang berbeda, tetapi dua fase perjalanan yang harus berjalan bersamaan: ta‘aqquli untuk memahami. ta‘abbudi untuk menyerap dan tunduk. Yang satu tidak bisa meniadakan yang lain. keduanya saling melengkapi.
Keduanya ibarat dua arus yang mengalir dalam satu sungai spiritualitas. Ta‘aqquli menyiapkan ruang kesadaran—membuka cakrawala, menimbang hikmah, menuntun manusia memahami tanda-tanda Tuhan dalam realitas. Ta‘abbudi kemudian menuntun hati untuk merasakan kedalaman makna itu, menjadikannya laku batin, bukan sekadar wacana intelektual.
Bila akal memberikan arah, ibadah memberikan kedalaman; bila akal mengajarkan bagaimana membaca dunia, ibadah mengajarkan bagaimana menghadapi dunia dengan jiwa yang tenang. Dengan demikian, keduanya tidak hanya saling melengkapi, tetapi saling menegakkan - menjadikan manusia mampu berpikir tanpa kehilangan kerendahan hati, dan mampu bersujud tanpa kehilangan kejernihan akal.
Akal bekerja sampai batasnya, lalu hati bersujud
Akal digunakan sejauh mungkin untuk: memahami hikmah syariat, menimbang secara rasional, mengkaji manfaat dan mudarat, membaca konteks sosial, mendialogkan wahyu dengan realitas.
Ketika akal sampai pada batas epistemiknya, maka ta‘abbudi mengambil alih, bukan sebagai pemaksaan, tetapi sebagai bentuk kedewasaan spiritual: pengakuan bahwa manusia tidak mengetahui segalanya.“Tidaklah kalian diberi pengetahuan kecuali sedikit.”(QS. Al-Isra:85)
Ta‘abbudi dalam Ritual Ibadah: Ketaatan yang Menghidupkan Kesadaran
Ritual ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan haji memang berpijak pada ta‘abbudi. Namun interpretasi modern memerlukan penegasan penting: ta‘abbudi bukan sekadar mengikuti aturan ritual, tetapi latihan kesadaran mendalam (tafakur).
Dalam tradisi Islam, Nabi pernah memperingatkan bahaya ibadah yang kehilangan ruhnya. Beliau bersabda: “Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga; dan betapa banyak orang yang shalat malam, namun tidak memperoleh apa-apa selain lelah.” (HR. Ibn Mājah No. 1690)
Hadits ini bukan kritik terhadap ibadah, tetapi kritik terhadap ibadah yang kehilangan kesadaran—ibadah tanpa hati, tanpa makna, tanpa kehadiran jiwa.
Ta‘aqquli dalam Kehidupan Modern: Rasionalitas yang Dipandu Nilai
Ta‘aqquli bukan sekadar kebutuhan intelektual, tetapi kewajiban moral bagi Muslim modern. Dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan peradaban sebelumnya - keputusan etis dalam teknologi kesehatan, kebijakan mengenai data dan privasi, dampak kecerdasan buatan terhadap pekerjaan manusia, hingga dilema moral dalam rekayasa genetika - semuanya menuntut kejernihan akal yang selaras dengan nilai-nilai wahyu.
Tanpa keberanian menggunakan akal secara kritis dan bertanggung jawab, umat akan tertinggal, bahkan dapat terjebak dalam keberagamaan simbolik yang tidak mampu menjawab persoalan nyata manusia modern. Dengan demikian, ta‘aqquli menjadi jembatan yang memungkinkan ajaran Islam hadir relevan, solutif, dan membimbing arah masa depan.
Krisis Modern: Ketika Ketaatan Kehilangan Kesadaran dan Akal Kehilangan Etika
Era modern melahirkan dua ekstrem: Ekstrem pertama: Ritualisme tanpa makna. Ibadah ada, tetapi kosong. Sholat dijalankan, tetapi tidak mencegah kezaliman. Puasa dipraktikkan, tetapi tidak mengubah karakter. Ini akibat ta‘abbudi yang tidak ditemani ta‘aqquli dan tafakur.
Ekstrem kedua: Ilmu berkembang, tetapi kehilangan arah moral. Teknologi maju, tetapi melukai kemanusiaan. Ini akibat ta‘aqquli yang tidak dipandu ta‘abbudi dan nilai spiritual.
Muslim modern bukan manusia ritualistik, bukan pula rasionalistik murni. Ia adalah manusia: yang berpikir, yang merenung, yang taat, yang kreatif, yang etis, yang produktif, yang sadar. Dalam istilah Al-Qur’an, ia menjadi ulul albab - manusia yang akalnya tajam, spiritualitasnya mendalam “Sesungguhnya pada hal itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki inti akal.” (QS. Az-Zumar:21)
Legitimasi Nabawi untuk Ta‘aqquli
Nabi bersabda: "Antum 'anglamu bi umuri dunyakum" Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian. (HR. Muslim no 2363)
Ini adalah deklarasi besar dalam sejarah rasionalitas Islam: dunia manusia harus dikelola dengan akal manusia. Termasuk: ekonomi digital, tata kelola pemerintahan, sains dan inovasi sistem pendidikan modern.
Hadits tersebut bukan sekadar penegasan teknis, tetapi fondasi epistemologis bahwa Islam membuka ruang luas bagi kreativitas intelektual manusia. Nabi tidak membatasi umat pada pola pikir stagnan; beliau justru meneguhkan bahwa wilayah duniawi adalah arena ijtihad, inovasi, dan keberanian berpikir. Namun kebebasan ini bukan bebas nilai. Akal harus bergerak dalam orbit wahyu - agar kemajuan tidak berubah menjadi kerusakan, agar inovasi tidak meniadakan kemanusiaan, dan agar sains tidak kehilangan etika.
Dengan demikian, rasionalitas Islam bukan hanya rasionalitas yang cerdas, tetapi rasionalitas yang bernurani - menghasilkan keputusan yang bukan hanya tepat secara teknis, tetapi juga benar secara moral dan selaras dengan tujuan besar syariat: Rahmat, Maslahat, dan Keadilan.
Penutup: Manusia yang Bersujud dan Berpikir
Ta‘abbudi dan ta‘aqquli bukan dua aliran, bukan dua jalan, bukan dua mazhab. Keduanya adalah dua gerakan dalam satu napas spiritual. Spiritualitas modern yang matang adalah spiritualitas yang: taat namun sadar, rasional namun rendah hati, beribadah namun berpikir, berpikir namun bersujud.
Muslim modern adalah manusia yang memadukan akal yang tajam dengan hati yang tunduk. Ia tidak meninggalkan dunia demi Tuhan, dan tidak meninggalkan Tuhan demi dunia. Ia berjalan di atas rel spiritualitas yang utuh - ta‘abbudi yang tercerahkan dan ta‘aqquli yang bermoral.***
Bekasi, 23 Januari 2026
(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jumat, 23 Januari 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin