Golongan Darah B Lebih Rentan Diabetes Tipe 2?

detikHealth

detikHealth

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Risiko diabetes tipe 2 kembali jadi sorotan setelah riset ilmiah terbaru menyebut golongan darah B lebih rentan. Klaim ini cepat menyebar karena terdengar sederhana, seolah-olah satu huruf pada kartu donor darah bisa meramal masa depan kesehatan.

Diabetes tipe 2 meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia, didorong pola makan tinggi kalori dan minim aktivitas. Publik lalu mencari penjelasan yang praktis, dan golongan darah tampak seperti jawaban instan.

Namun, penyakit metabolik jarang punya satu penyebab tunggal yang berdiri sendiri. Karena itu, temuan tentang golongan darah B perlu dibaca sebagai sinyal risiko, bukan vonis.

Secara ilmiah, hubungan golongan darah dan penyakit biasanya diteliti lewat studi kohort besar yang membandingkan kejadian penyakit antar kelompok ABO. Beberapa riset populasi memang pernah menemukan variasi risiko diabetes tipe 2 menurut golongan darah, meski besarnya efek cenderung kecil.

Salah satu rujukan yang sering dikutip adalah studi kohort di Prancis yang melaporkan perbedaan risiko diabetes tipe 2 antar golongan ABO pada perempuan, dengan kelompok tertentu tampak lebih tinggi dibanding O. Ada juga kajian observasional lain yang mengaitkan ABO dengan inflamasi dan faktor pembekuan, yang secara tidak langsung bisa bersinggungan dengan resistensi insulin.

Penjelasan biologis yang masuk akal biasanya bergerak pada tiga jalur, yakni inflamasi kronis, profil lipid, dan fungsi endotel pembuluh darah. Antigen ABO dapat memengaruhi kadar beberapa biomarker, seperti von Willebrand factor dan faktor VIII, yang terkait kesehatan vaskular.

Diabetes tipe 2 sendiri bukan hanya soal gula, melainkan kerusakan sistem metabolik yang panjang. Resistensi insulin, penumpukan lemak visceral, dan peradangan tingkat rendah adalah “mesin” yang bekerja diam-diam selama bertahun-tahun.

Karena itu, jika golongan darah B terlihat lebih rentan pada satu studi, yang mungkin terjadi adalah ia menjadi penanda dari jaringan faktor lain. Faktor itu bisa berupa variasi genetik yang berdekatan, kebiasaan makan yang berbeda dalam suatu populasi, atau perbedaan akses layanan kesehatan.

Masalah terbesar dari berita “golongan darah B lebih rentan” adalah risiko salah tafsir sebab-akibat. Studi observasional hanya menunjukkan korelasi, dan korelasi tidak otomatis berarti golongan darah menyebabkan diabetes.

Ada pula isu perancu, seperti indeks massa tubuh, riwayat keluarga, pola tidur, stres, merokok, dan konsumsi minuman manis. Jika variabel ini tidak dikendalikan secara ketat, efek golongan darah bisa tampak lebih besar daripada kenyataannya.

Di sisi lain, temuan semacam ini tetap berguna sebagai peta risiko populasi. Jika konsisten di banyak studi dan banyak etnis, ia dapat membantu skrining dan edukasi lebih dini.

Namun konsistensi lintas populasi justru sering menjadi titik lemah penelitian golongan darah dan diabetes. Efek yang muncul di satu negara bisa mengecil atau hilang di negara lain, karena latar genetik dan gaya hidup berbeda.

Dalam praktik klinis, pedoman internasional pencegahan diabetes tetap menempatkan faktor klasik sebagai pusat perhatian. Kelebihan berat badan, lingkar perut, kurang olahraga, dan riwayat keluarga jauh lebih kuat sebagai prediktor dibanding golongan darah.

Artinya, golongan darah B tidak perlu panik, dan golongan darah lain tidak boleh lengah. Kartu identitas ABO tidak mengalahkan pengaruh pola makan harian dan kebiasaan bergerak.

Ledakan minat pada golongan darah sering mencerminkan hasrat manusia untuk menemukan kepastian yang cepat. Kita ingin variabel tunggal yang mudah dipahami, padahal diabetes tipe 2 adalah produk dari pilihan hidup, lingkungan, dan genetika yang saling bertaut.

Di ruang publik, narasi “lebih rentan” mudah berubah menjadi stigma yang tidak perlu. Orang bergolongan darah B bisa merasa sudah “ditakdirkan”, lalu menyerah sebelum berjuang.

Padahal yang paling berbahaya adalah rasa aman palsu pada mereka yang bukan golongan darah B. Jika seseorang bergolongan darah O tetapi obesitas dan jarang bergerak, risikonya tetap tinggi.

Temuan ilmiah seharusnya mendorong kebijakan kesehatan yang lebih presisi, bukan sekadar judul sensasional. Jika benar ada perbedaan risiko, langkah logisnya adalah memperkuat edukasi gaya hidup dan skrining gula darah pada kelompok yang lebih sering luput.

Kita juga perlu menuntut transparansi dari riset yang dikutip media, seperti ukuran sampel, rentang usia, dan apakah faktor perancu sudah dikontrol. Tanpa itu, publik hanya mendapat kesimpulan tanpa peta jalan.

Yang lebih penting, diskusi ini mengingatkan bahwa pencegahan diabetes bukan urusan individu semata. Harga makanan sehat, ruang berjalan kaki, jam kerja panjang, dan iklan minuman manis ikut membentuk risiko metabolik masyarakat.

Jika golongan darah B memang sedikit lebih rentan diabetes tipe 2, itu seharusnya dibaca sebagai alarm halus, bukan cap permanen. Risiko terbesar tetap datang dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih mendesak bukan “golongan darah apa Anda”, melainkan “kebiasaan apa yang Anda pertahankan”. Di titik itu, sains tidak sedang meramal nasib, melainkan mengajak kita mengambil kendali. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Oktober 2026)