Perlombaan ke Bulan: Tantangan NASA dan Potensi Luar Angkasa

ORBITINDONESIA.COM – Panggilan agar Amerika Serikat mengirim astronot kembali ke bulan sebelum akhir dekade semakin gencar. Namun, di balik keinginan ini, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi NASA.

Pemerintah dan pendukung sains mendesak NASA untuk mengalahkan China dalam perlombaan ke bulan. Namun, NASA bergantung pada SpaceX Starship, roket terbesar yang pernah dibangun, yang masih dalam tahap pengembangan awal. Sementara itu, China diperkirakan akan mendarat di bulan dalam lima tahun ke depan.

Starship belum berhasil mencapai beberapa tahap pengujian penting. Tantangan teknis yang dihadapi termasuk mengisi bahan bakar di orbit dan menentukan jumlah tanki yang dibutuhkan untuk perjalanan ke bulan. Diperkirakan, bisa memerlukan antara 10 hingga 40 penerbangan pengisian bahan bakar.

Keputusan menggunakan Starship sebagai pendarat bulan dianggap terlalu rumit oleh beberapa pihak. Namun, NASA berharap bahwa program Artemis akan membuka jalan bagi operasi berawak permanen di bulan, meskipun proses ini dianggap sangat kompleks.

Meskipun ada skeptisisme, banyak yang optimis dengan kemampuan SpaceX. Keberhasilan NASA dalam proyek sebelumnya dengan SpaceX menjadi dasar keyakinan bahwa kendala saat ini dapat diatasi. Namun, pertanyaan tetap ada: dapatkah Amerika Serikat mengalahkan China dalam perlombaan ini? (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2025)