Menelisik Tren Soft Life di Tengah Gejolak Ekonomi Global

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah gejolak ekonomi yang meresahkan, tren soft life tetap menjadi idaman generasi muda. Namun, bisakah gaya hidup ini bertahan ketika biaya hidup terus melonjak?

Soft life, tren yang mengutamakan kenyamanan dan kesejahteraan mental, semakin populer di kalangan generasi muda. Namun, dengan harga kebutuhan pokok yang naik dan gaji yang stagnan, banyak yang meragukan relevansinya. Dari asalnya sebagai bentuk perlawanan budaya hingga menjadi simbol gaya hidup kelas menengah atas, konsep ini menghadapi tekanan baru di era ekonomi yang serba sulit.

Awalnya, soft life berasal dari komunitas Afrika diaspora sebagai respons terhadap glorifikasi kerja keras. Kini, di media sosial, ia tampil sebagai gaya hidup yang mewah dan estetis. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa banyak anak muda merasa tertekan untuk mengikuti standar ini, meskipun kondisi keuangan mereka tidak mendukung. Studi menunjukkan peningkatan stres di kalangan milenial akibat tekanan sosial untuk mengejar gaya hidup ini.

Memahami soft life dari sudut pandang yang lebih dalam, ini bukan sekadar tren konsumtif. Ini adalah seruan untuk menilai ulang prioritas dan kesejahteraan diri. Namun, disalahartikan sebagai kemewahan wajib, banyak yang terjebak dalam spiral FOMO. Penting untuk kembali ke akar konsep ini: mencari kedamaian dalam keseharian tanpa tekanan membebani diri sendiri secara finansial.

Soft life, dalam esensinya, menawarkan pelajaran berharga tentang keseimbangan hidup. Namun, dalam praktiknya, kita perlu menyesuaikannya dengan realitas ekonomi masing-masing. Mampukah kita menemukan arti soft life yang sejati tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial? Refleksi ini penting untuk memastikan kita tidak kehilangan tujuan sebenarnya: hidup yang lebih tenang dan bermakna.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2025)