Budaya Kerja Beracun di Ola: Tantangan dan Tragedi
ORBITINDONESIA.COM – Tragedi bunuh diri mantan karyawan Ola mengungkapkan sisi gelap dari budaya kerja yang dianggap beracun, memicu kekhawatiran publik.
Kematian tragis K Aravind, mantan insinyur Ola, menyusul bunuh diri serupa dalam empat bulan, mengangkat kembali isu budaya kerja beracun di perusahaan tersebut. Aravind meninggalkan catatan 28 halaman yang menuduh pelecehan di tempat kerja dan pelanggaran oleh manajemen senior. Hal ini menyusul kematian Nikhil Somwanshi, yang juga diduga akibat lingkungan kerja yang tidak sehat.
Mantan karyawan menggambarkan lingkungan kerja di Ola sebagai tempat yang memaksa kerja berlebih, dengan tenggat waktu yang tidak realistis dan pelecehan verbal. Mereka menyoroti pengelolaan proyek yang buruk dan perlakuan kasar dari CEO Bhavish Aggarwal. Laporan sebelumnya juga menunjukkan tingginya tingkat pengunduran diri eksekutif senior akibat tekanan ini.
Kritik terhadap gaya manajemen Ola mencerminkan kebutuhan mendesak untuk perbaikan budaya kerja di sektor teknologi. Sementara perusahaan mengklaim tidak semua orang cocok dengan budaya mereka, insiden ini menegaskan pentingnya keseimbangan kerja-hidup dan lingkungan kerja yang suportif. Keberlanjutan perusahaan mungkin tergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dan berubah.
Tragedi yang terjadi di Ola memaksa kita merenungkan kembali nilai-nilai perusahaan dalam memperlakukan karyawannya. Apakah kita siap mengorbankan kesejahteraan manusia untuk mengejar kesuksesan? Pertanyaan ini harus menjadi pusat perhatian dalam diskusi mengenai masa depan dunia kerja.
(Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2025)