Budaya Kerja 996: Tren Baru atau Eksploitasi Modern?

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah hiruk-pikuk San Francisco, budaya kerja 996 menyusup ke startup, mengaburkan batas antara kerja dan kehidupan.

Budaya kerja 996, sembilan pagi hingga sembilan malam enam hari seminggu, menjadi norma di Silicon Valley. Banyak startup mengadopsi kebijakan ini, mengklaim sebagai jalan menuju kesuksesan. Namun, ini menimbulkan pertanyaan tentang kesejahteraan karyawan.

Pergeseran ekonomi, termasuk kenaikan suku bunga dan pengurangan tenaga kerja, mempengaruhi dinamika kekuasaan di industri teknologi. Investor menuntut hasil nyata, memaksa perusahaan untuk memeras lebih banyak waktu dari karyawan. Tren ini mirip dengan ledakan internet akhir 90-an, tetapi kali ini didorong oleh ketakutan kehilangan pekerjaan.

Budaya kerja 996 di Barat mencerminkan sistem yang sebelumnya dikecam di Timur. Di China, model ini dianggap eksploitasi, tetapi di San Francisco, itu dilihat sebagai kebanggaan. Ini menunjukkan pergeseran nilai dalam industri teknologi yang lebih mementingkan output daripada kesejahteraan pekerja.

Penerapan budaya kerja 996 memaksa kita bertanya: apakah kita melayani teknologi, atau teknologi melayani kita? Saat kita merenungkan masa depan pekerjaan, penting untuk menyeimbangkan produktivitas dengan kesejahteraan. Demi kemajuan, apakah kita siap mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi kita?

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2025)