Investasi Kurang di Sektor Tambang: Ancaman bagi Masa Depan Hijau
ORBITINDONESIA.COM – Koalisi pengelola aset dengan nilai total $18 triliun mengungkap risiko kurangnya investasi di industri tambang, padahal sektor ini krusial untuk dekarbonisasi dan pertumbuhan ekonomi.
Industri pertambangan sering dipandang sebelah mata dalam investasi global. Meski demikian, sektor ini memegang peranan penting dalam menyediakan bahan baku untuk teknologi energi terbarukan. Ketergantungan dunia pada mineral kritis untuk transisi hijau membuat perhatian pada sektor ini semakin mendesak.
Data menunjukkan bahwa meskipun permintaan untuk mineral seperti litium dan nikel meningkat, investasi ke sektor tambang justru menurun. Dalam laporan terbaru, koalisi pengelola aset menyatakan bahwa kurangnya paparan terhadap sektor ini bisa menghambat pencapaian target emisi nol bersih. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat kebutuhan bahan baku untuk baterai mobil listrik dan teknologi energi terbarukan lainnya terus meningkat.
Beberapa ahli berpendapat bahwa investor ragu-ragu karena isu lingkungan dan sosial yang melekat di industri tambang. Namun, ada pandangan bahwa dengan pengelolaan yang lebih baik dan teknologi yang tepat, industri ini bisa lebih berkelanjutan. Mempertimbangkan pentingnya mineral dalam transisi energi, investasi yang tepat di sektor ini dapat menjadi kunci keberhasilan dekarbonisasi global.
Di tengah urgensi transisi energi, refleksi mendalam diperlukan mengenai bagaimana investasi di sektor tambang dapat sejalan dengan tujuan keberlanjutan. Apakah kita siap untuk menavigasi tantangan ini atau akan terus mengabaikan potensi sektor tambang? Pertanyaan ini perlu dijawab demi masa depan energi yang berkelanjutan.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Desember 2025)