Ali Samudra: Alquran Bagian Integral Dari Kehidupan Muslim Modern
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Salah satu persoalan besar dalam kehidupan beragama di era modern adalah kecenderungan mereduksi Al-Qur’an menjadi sekadar bacaan ritual atau objek kajian intelektual. Al-Qur’an dibaca, dikaji, bahkan diperdebatkan, tetapi sering kali tidak benar-benar dihadirkan sebagai dialog batin.
Padahal Al-Qur’an sendiri mengajak manusia untuk berinteraksi secara aktif dan reflektif. Ia bukan teks mati, melainkan wahyu yang hidup dan terus berbicara. Ketika Al-Qur’an dibaca dengan kesadaran, ia menjadi cermin yang memantulkan kondisi batin pembacanya. Ayat yang sama bisa berbicara berbeda kepada orang yang berbeda, atau kepada orang yang sama pada fase hidup yang berbeda.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dialog harian berarti membiarkan ayat-ayatnya masuk ke dalam pergulatan hidup: kegagalan, keberhasilan, ketakutan, dan harapan. Al-Qur’an tidak selalu menenangkan, kadang ia menegur dan mengguncang. Namun justru di situlah letak fungsinya sebagai pembimbing.
Al-Quran menuntut bentuk relasi yang lebih dalam
Hubungan dengan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca, apalagi sekadar menyelesaikan target tilawah. Al-Qur’an menuntut bentuk relasi yang lebih dalam: interaksi berkelanjutan, dialog batin, dan integrasi nilai ke dalam kesadaran hidup sehari-hari. Al-Qur’an sendiri memberi isyarat bahwa ia bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi petunjuk yang harus terus dihadirkan dalam perjalanan hidup manusia.
“Kitab Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah, 2:2) Kata hudā (petunjuk) mengandung makna dinamis. Petunjuk bukanlah informasi statis, melainkan arah yang terus dibutuhkan sepanjang perjalanan. Selama manusia masih berjalan dalam kehidupan, selama itu pula ia membutuhkan Al-Qur’an sebagai penunjuk arah.
Al-Qur’an Mengajak Manusia untuk Terus Berinteraksi, Bukan Sekadar Menghafal
Al-Qur’an tidak pernah memposisikan dirinya sebagai kitab yang cukup dibaca sekali lalu selesai. Ia justru mendorong manusia untuk terus-menerus berinteraksi, merenung, dan berdialog dengannya: "Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran" (QS. Muhammad, 47: 24)
Membaca tanpa tadabbur berarti membiarkan Al-Qur’an lewat di hadapan mata, tetapi tidak singgah di hati. Dalam konteks manusia modern—yang terbiasa membaca cepat dan berpindah fokus—ayat ini menjadi peringatan penting: Al-Qur’an menolak dibaca secara tergesa-gesa dan dangkal.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dialog harian berarti: Membaca ayat, lalu bertanya pada diri sendiri. Membiarkan ayat menyingkap kondisi batin. Mengaitkan ayat dengan realitas hidup yang sedang dihadapi.
Al-Qur’an sebagai Teman Dialog: Mendengar sebelum Berbicara
Dialog dengan Al-Qur’an tidak dimulai dari banyaknya pertanyaan manusia, tetapi dari kesediaan untuk mendengar. Al-Qur’an sendiri menegaskan sikap batin yang diperlukan untuk itu: "Apabila Al-Quran dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'Raf, 7:204)
Mendengar dan diam (istima‘ dan insāt) bukan sekadar sikap fisik, melainkan sikap batin. Dalam kehidupan modern yang penuh opini dan respons instan, Al-Qur’an melatih manusia untuk menunda reaksi, menenangkan ego, dan membuka ruang refleksi.
Di sinilah Al-Qur’an menjadi teman dialog yang unik: ia tidak selalu memberi jawaban langsung, tetapi mendidik manusia agar mampu mendengar kebenaran di dalam dirinya sendiri.
Mengintegrasikan Al-Qur’an dalam Pergulatan Hidup Sehari-hari
Al-Qur’an tidak turun di ruang hampa. Ia berbicara tentang takut, harap, jatuh, bangkit, gagal, dan berhasil—semua pengalaman yang juga dialami manusia modern. Karena itu, dialog harian dengan Al-Qur’an menemukan momentumnya ketika ayat-ayat dibawa masuk ke dalam realitas hidup.
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk pada hatinya.” (QS. At-Taghabun, 64:11)
Ayat ini tidak menghapus penderitaan, tetapi menata cara manusia memaknainya. Dalam dialog batin, seorang Muslim modern bisa bertanya: Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini? Pertanyaan semacam ini menandai bahwa Al-Qur’an telah menjadi partner refleksi, bukan sekadar bacaan.
Mushaf Kata-per-Kata: Jalan Sederhana Mengintegrasikan Al-Qur’an
Bagi Muslim modern yang hidup dengan keterbatasan waktu dan latar belakang bahasa Arab yang beragam, pendekatan membaca Al-Qur’an sering kali menjadi tantangan. Keinginan untuk memahami Al-Qur’an bertemu dengan kenyataan keterbatasan waktu dan kemampuan. Dalam konteks ini, memiliki mushaf Al-Qur’an dengan arti kata-per-kata menjadi solusi yang sangat relevan dan membumi. Mushaf kata-per-kata memungkinkan pembaca: Menghubungkan langsung lafaz Arab dengan maknanya.
Memahami ayat secara perlahan tanpa beban akademik. Menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai aktivitas yang akrab dan tidak menakutkan.
Pendekatan ini menekankan prinsip sederhana tetapi mendalam: tidak perlu banyak, yang penting rutin. Cukup satu atau dua ayat setiap hari, dibaca dengan arti kata-per-kata, direnungkan maknanya, dan dikaitkan dengan kehidupan nyata. Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak lagi terasa jauh, tetapi hadir sebagai bagian dari ritme hidup sehari-hari.
Al-Qur’an Digital: Wahyu di Genggaman Muslim Modern
Ciri lain dari kehidupan modern adalah kedekatan manusia dengan gawai. Smartphone hampir tidak pernah lepas dari genggaman. Dalam konteks ini, kehadiran aplikasi Al-Qur’an di perangkat Android dan iOS membuka peluang besar agar Al-Qur’an benar-benar hadir dalam ritme hidup modern.
Aplikasi Al-Qur’an digital bukan pengganti mushaf fisik, tetapi perpanjangan akses dan kedekatan. Melalui platform seperti quran.com dan sejenisnya, Al-Qur’an dapat dibaca di sela kesibukan, direnungkan di waktu jeda, dan dijadikan teman dialog harian.
Namun teknologi menuntut etika. Membaca Al-Qur’an di gawai tidak boleh disamakan dengan konsumsi konten biasa. Diperlukan kehadiran batin, penghormatan, dan kesadaran. Jika digunakan dengan bijak, teknologi justru memperluas ruang perjumpaan manusia dengan wahyu, bukan menguranginya.
Al-Qur’an sebagai Kompas Orientasi Hidup Muslim Modern
Salah satu ciri paling menonjol dari kehidupan modern adalah melimpahnya pilihan. Manusia bebas memilih karier, gaya hidup, pandangan hidup, bahkan nilai-nilai moral yang ingin dianut. Namun kebebasan tanpa orientasi sering berubah menjadi kebingungan. Banyaknya pilihan justru membuat manusia kehilangan kejelasan arah.
Di sinilah Al-Qur’an hadir sebagai kompas orientasi hidup. Ia tidak menghapus kebebasan manusia, tetapi menuntunnya agar tidak tersesat dalam memilih. Al-Qur’an mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang menguntungkan layak dikejar.
Bagi Muslim modern, menjadikan Al-Qur’an bagian integral dari kehidupan berarti menjadikannya penimbang dalam setiap keputusan hidup: dalam memilih pekerjaan, membangun keluarga, mengelola harta, bersosial, bahkan menyikapi kekuasaan. Al-Qur’an mungkin tidak selalu memberi jawaban instan, tetapi ia menata cara bertanya, sehingga manusia tidak salah arah dalam mencari jawaban.
Dari Membaca ke Berdialog: Al-Qur’an dalam Kesadaran Harian
Menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian integral dari kehidupan berarti membawanya keluar dari ruang simbolik menuju ruang praksis. Al-Qur’an tidak hanya hidup di masjid atau mushaf, tetapi hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari.
Ia hadir ketika seorang Muslim memilih jujur meski ada peluang untuk curang. Ia hadir ketika seseorang menahan diri dari menyakiti orang lain demi keuntungan pribadi. Ia hadir ketika kekuasaan dibatasi oleh etika dan kekayaan diiringi tanggung jawab sosial.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dialog harian berarti: Membaca ayat, lalu bertanya pada diri sendiri. Membiarkan ayat menyingkap kondisi batin. Mengaitkan ayat dengan realitas hidup yang sedang dihadapi, dan tanggung jawab.***
(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jumat, 9 Januari 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)
Pondok Kelapa, 9 Januari 2026
*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin ***