Digaji Rp150 ribu, Yustina Menembus Hutan demi Mengajar
“Menembus hutan 6 kilometer pakai sandal jepit demi mengajar, guru honorer di Sikka digaji Rp150 ribu per bulan.”
Kisah itu belakangan ramai berseliweran di media sosial dan membuat banyak orang tersentuh. Sosok di balik cerita tersebut adalah , seorang guru honorer asal Kabupaten Sikka yang rela berjalan kaki melewati medan terjal demi bisa tiba di sekolah tempat ia mengajar.
Setiap pagi, Yustina menempuh perjalanan sekitar enam kilometer melewati jalan berbatu, tanjakan curam, hingga jalur hutan yang cukup berisiko. Sandal jepit sederhana yang ia gunakan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang sudah bertahun-tahun ia jalani sebagai seorang guru honorer di daerah pelosok.
Perjalanan itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilalui setiap hari. Di beberapa titik, jalan yang dilewati hanya berupa tanah berbatu dengan sisi jurang dan pepohonan lebat di kanan kirinya. Saat musim hujan datang, jalur tersebut menjadi lebih licin dan sulit dilalui. Namun keadaan itu tidak membuat Yustina berhenti melangkah. Dengan tas sederhana yang ia bawa dan sandal jepit yang menemaninya berjalan, ia tetap berangkat menuju sekolah demi memastikan murid-muridnya bisa belajar seperti biasa.
Yustina mengajar di SDK Wukur dan telah mengabdikan dirinya sebagai guru honorer selama sekitar sebelas tahun. Di sekolah yang berada di wilayah pelosok tersebut, suasana belajar berlangsung dengan fasilitas yang sangat terbatas dan jauh dari kesan modern. Namun keadaan itu tidak lantas mengurangi semangat Yustina untuk tetap mengajar setiap hari. Meski medan yang dilaluinya tidak mudah, ia tetap menjalani aktivitas itu selama sebelas tahun. Rutinitas panjang tersebut seolah telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun. Tidak ada kendaraan khusus ataupun akses mudah menuju sekolah tempatnya mengajar. Tetapi bagi Yustina, rasa lelah seolah selalu kalah oleh tanggung jawab yang ia rasakan sebagai seorang guru. Sebab setibanya di sekolah, sudah ada murid-murid yang menunggu dirinya datang ke kelas untuk belajar membaca, menulis, dan memahami pelajaran sederhana yang sangat berarti bagi mereka.
Di tengah keterbatasan itu, Yustina tetap menjalani pekerjaannya dengan kesabaran. Ia memahami bahwa bagi anak-anak di daerah terpencil, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga ruang untuk membangun harapan tentang masa depan mereka. Karena itulah, meski perjalanan yang ditempuh panjang dan melelahkan, Yustina tetap memilih datang setiap hari tanpa banyak mengeluh.
Yang membuat kisahnya semakin menyentuh, Yustina diketahui hanya menerima honor sekitar Rp150 ribu per bulan yang berasal dari iuran komite sekolah. Nominal yang mungkin bagi sebagian orang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari. Meski demikian, keterbatasan itu tidak membuatnya meninggalkan profesi yang sudah lama ia jalani.
Kisah Yustina seolah menjadi tamparan bahwa cita-cita tentang generasi emas Indonesia masih belum dibarengi dengan kehidupan yang layak bagi sebagian guru di pelosok. Masih ada pendidik yang harus berjalan menembus hutan dengan honor minim demi tetap mengajar anak-anak di daerah terpencil. Padahal dari tangan para guru seperti merekalah masa depan negeri ini dibentuk setiap harinya.
Perjuangan seperti yang dijalani Yustina rasanya tidak seharusnya hanya berhenti menjadi cerita yang ramai diperbincangkan sesaat. Ada banyak guru di pelosok yang berjalan dengan ketulusan yang sama, dan mereka layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik atas pengabdian panjang yang selama ini mereka berikan untuk pendidikan anak-anak negeri ini.