Gurita Pakai Cermin Cari Mangsa, Uji Kecerdasan Hewan

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Gurita pakai cermin untuk mencari mangsa kembali mengusik cara kita mengukur kecerdasan hewan. Studi baru pada gurita California dua bintik menunjukkan mereka dapat membaca pantulan cermin untuk menemukan kepiting tersembunyi, bahkan saat petunjuk bau dihilangkan.

Kecerdasan gurita sudah lama memikat ilmuwan karena otaknya “berbeda desain” dari mamalia, namun perilakunya sering tampak setara dalam hal belajar dan memecahkan masalah. Karena itu, tes cermin kerap dipakai sebagai panggung pembuktian, meski selama ini lebih populer pada primata, lumba-lumba, dan burung tertentu.

Masalahnya, tes cermin klasik menilai pengenalan diri melalui “tanda di tubuh”, sementara gurita punya anatomi dan cara meraba dunia yang tidak sama dengan hewan darat. Maka, pertanyaannya bergeser: apakah cermin harus selalu dipakai untuk menguji “siapa aku”, atau bisa juga untuk menguji “bagaimana aku memetakan ruang”.

Studi di Current Biology (22 Juni 2026) memulai eksperimen dengan langkah yang jarang disorot publik: adaptasi agar cermin tidak dianggap ancaman. Saat gurita mau makan di depan cermin, peneliti menilai fase “curiga” mereda, sehingga perilaku berikutnya lebih mungkin mencerminkan kemampuan kognitif, bukan reaksi stres.

Lalu masuk fase latihan, yakni mencari kepiting dalam toples kaca yang posisinya berbelok dan hanya terlihat lewat pantulan cermin. Pada percobaan awal, gurita mendekati cermin seperti mendatangi “objek”, tetapi setelah 10 sampai 12 kali, mereka mulai memakai cermin sebagai alat navigasi menuju lokasi toples.

Bagian paling ketat adalah tes aktual dengan kepiting virtual, yang sengaja dipilih agar gurita tidak bisa mengandalkan penciuman atau sensasi air dari mangsa asli. Gurita ditempatkan dalam kotak kecil menghadap cermin besar, sementara layar di luar kotak menampilkan kepiting yang hanya bisa dilihat lewat pantulan cermin.

Tugasnya sederhana namun menuntut pemetaan ruang: keluar dari kotak, berbalik, lalu menuju sisi yang ditunjukkan cermin. Hasilnya, gurita memilih sisi yang benar sekitar 70 persen, dan peneliti menyebut peluang itu kecil terjadi karena kebetulan semata.

Detail lain justru membuka lapisan baru tentang strategi: pada 59 persen percobaan yang berhasil, gurita mengambil jalan pintas dengan memanjat bagian atas kotak yang terbuka. Dr Mary Kieseler, penulis utama studi, bahkan menyorot satu individu yang mampu melakukannya pada percobaan pertama, sebagaimana dikutip Popular Science (7 Oktober 2026).

Angka 70 persen bukan “sempurna”, tetapi dalam riset perilaku hewan, ia sering menjadi sinyal bahwa ada aturan yang dipelajari, bukan sekadar coba-coba acak. Apalagi, tugas ini menguji kemampuan mengaitkan informasi visual tidak langsung (pantulan) dengan arah gerak tubuh, sebuah bentuk “translasi” persepsi ke tindakan.

Namun, penting juga mencatat keterbatasannya: tes ini tidak otomatis membuktikan gurita mengenali dirinya sendiri seperti narasi populer tentang mirror self-recognition. Yang lebih kuat dari data ini adalah bukti penggunaan cermin sebagai instrumen, mirip memakai peta, bukan bukti gurita berkata “itu aku”.

Di sinilah publik sering terjebak pada bias manusia: kita ingin hewan “lulus” ujian yang kita desain untuk cara berpikir kita. Kieseler mengingatkan bahwa orang cenderung menyamakan kecerdasan dengan kemiripan pada manusia, seolah yang paling berbeda pasti paling bodoh.

Padahal, gurita hidup dalam arsitektur ruang yang lain, yakni tiga dimensi yang bisa “dipanjat” dari semua arah, bukan sekadar dilalui. Ketika gurita memanjat dinding kotak alih-alih mengikuti rute yang kita anggap wajar, itu bukan kecurangan, melainkan petunjuk bahwa model mentalnya tentang lingkungan mungkin lebih volumetrik daripada model mental kita.

Sudut pandang tajamnya begini: tes kecerdasan sering mengukur kepatuhan pada skenario, bukan kecerdasan itu sendiri. Jika hewan memilih strategi yang lebih efisien, kita kerap menyebutnya “aneh”, padahal bisa jadi justru itulah tanda adaptasi kognitif yang matang.

Karena itu, studi cermin pada gurita seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memberi nilai pada makhluk lain. Ia menegaskan bahwa kecerdasan hewan bukan satu tangga yang puncaknya manusia, melainkan banyak jalur evolusi yang sama-sama logis di habitatnya.

Gurita pakai cermin untuk mencari mangsa bukan sekadar kisah unik tentang hewan laut yang “pintar”, melainkan cermin bagi cara kita menilai kehidupan. Data 70 persen pilihan benar, latihan 10–12 percobaan, dan strategi memanjat pada 59 persen keberhasilan menunjukkan belajar, fleksibilitas, dan keberanian mencoba jalan baru.

Jika kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri dan memecahkan masalah, maka gurita mengajarkan satu hal: ukuran kita belum tentu ukuran alam. Pertanyaannya kini, apakah kita siap merancang tes yang lebih adil untuk pikiran yang bentuknya tidak mirip dengan pikiran kita. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)