Misteri Taring Narwhal Terpecahkan: Spiral Ganda, Sains, dan Iklim

BBC Wildlife Magazine

BBC Wildlife Magazine

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Misteri taring narwhal akhirnya terjawab: “unicorn of the sea” membentuk taringnya lewat dua spiral yang saling berpilin. Tim peneliti internasional mempublikasikan temuan ini di Nature Communications, membuka peluang baru bagi riset material dan pembacaan jejak perubahan iklim Arktik.

Narwhal lama dipuja sebagai makhluk nyaris mitologis, karena taringnya pernah diperdagangkan sebagai “tanduk unicorn” pada Abad Pertengahan dan era Renaisans. Bahkan Raja Denmark-Norwegia Frederik III pernah memesan kursi penobatan dari taring narwhal sebagai simbol kuasa dan status.

Namun di balik romantika sejarah itu, fungsi taring narwhal tetap mengundang debat hingga kini. Ilmuwan mengajukan banyak teori, dari sinyal seksual, berburu, pertarungan antarsesama, sampai sekadar bermain.

Di tengah ketidakpastian fungsi, satu teka-teki lain justru lebih mudah ditangkap mata: bentuknya yang memuntir. Taring ini unik karena menonjol lurus dalam bentuk spiral, bukan melengkung seperti gading hewan lain.

Narwhal memiliki dua gigi atas, tetapi pada jantan umumnya gigi taring kiri tumbuh menjadi taring yang menembus tulang rahang atas dan bibir kiri. Gigi kanan pada jantan dan kedua gigi pada betina biasanya tetap tertanam di tengkorak.

Ada pengecualian yang jarang, seperti betina bertaring, jantan tanpa taring, bahkan individu bertaring ganda. Panjang taring bisa melampaui 2 meter dan hampir selalu berpilin ke arah heliks kiri, bahkan ketika yang tumbuh adalah gigi kanan.

Para peneliti menekankan bahwa taring narwhal bukan struktur sederhana, melainkan material komposit yang kompleks. Marianne Liebi, salah satu penulis studi, menyebut struktur ini membentang dari “blok bangunan berskala nano” hingga bentuk gigi yang terlihat jelas.

Bagian utama taring tersusun dari dentin, material yang juga menjadi inti gigi manusia. Permukaannya dilapisi cementum yang lebih tipis, jaringan yang pada mamalia lain biasanya hanya ada di akar gigi.

Keduanya mengandung serat kolagen sebagai tulangan internal, lalu diperkeras oleh kristal mineral berukuran sangat kecil. Kombinasi ini membuat taring kuat, namun juga menghadirkan tantangan besar untuk dipetakan secara utuh.

Masalahnya terletak pada perbedaan skala yang ekstrem. Liebi menjelaskan serat kolagen dan kristal mineral berada pada skala nanometer, sementara spiral gigi baru tampak pada skala sentimeter hingga meter.

Untuk menjembatani dua dunia itu, tim menggunakan teknik sinar-X bernama tensor tomography. Gigi diputar dan dipindai titik demi titik, lalu pola yang muncul dari struktur teratur dipakai untuk menghitung orientasi serat kolagen di dalamnya.

Dari jutaan pengukuran, mereka membangun citra 3D arsitektur internal taring, dari serat nano hingga bentuk makroskopik. Tetapi hasil awal justru mengecewakan, karena data tampak “tidak menunjukkan apa-apa” selain pola yang teratur.

Liebi mengaku timnya sempat kebingungan, karena uji mekanik sebelumnya membuat mereka menduga heliks akan tercermin langsung pada serat kolagen dan kristal mineral. Yang terlihat malah seperti keteraturan datar, bukan spiral.

Jawabannya muncul ketika mereka mengubah cara membaca data, dari fokus pada piksel tunggal menjadi orientasi spasial antartitik. Adrian Rodriguez-Palomo, penulis pertama, mengatakan tren arah mulai tampak saat titik-titik dibandingkan satu sama lain.

Mereka lalu “menghubungkan titik-titik” seperti kit melukis anak-anak, dan struktur itu mendadak terlihat jelas. Yang muncul bukan satu heliks, melainkan dua spiral yang saling terjalin.

Lapisan luar taring membentuk heliks kiri, sedangkan struktur kolagen yang termineralisasi di bagian dalam mengikuti spiral berlawanan arah. Konfigurasi spiral ganda ini menjelaskan mengapa taring bisa tetap stabil saat mengalami tekukan dan torsi.

Temuan itu selaras dengan contoh lain di alam, seperti penguatan heliks pada spons kaca laut dalam Euplectella aspergillum yang membantu bertahan dari arus kuat. Dengan kata lain, alam berkali-kali memilih geometri spiral untuk menghemat material sekaligus memaksimalkan ketahanan.

Studi ini juga menyimpulkan pola spiral ganda “terkode” dalam genetika narwhal dan stabil sepanjang hidupnya. Narwhal bisa hidup hingga sekitar 80 tahun, dan taringnya terus tumbuh mengikuti usia.

Di sinilah riset ini melampaui rasa ingin tahu anatomi, karena taring dapat dibaca sebagai arsip kehidupan. Henrik Birkedal dari Aarhus University menegaskan gigi paus dapat menjadi “rekaman historis” perubahan kondisi lingkungan sepanjang umur hewan.

Karena Atlantik Utara sedang mengalami perubahan sangat cepat, tim menilai wajar untuk menguji apakah perubahan itu dapat dilacak pada jaringan keras taring narwhal. Mereka menyatakan inilah pekerjaan lanjutan yang kini sedang dilakukan.

Penemuan ini terasa seperti kemenangan metode ilmiah atas asumsi yang terlalu cepat, karena data yang “kosong” ternyata menyimpan pola ketika dibaca dengan cara berbeda. Pelajarannya sederhana: alam tidak selalu memberi jawaban pada resolusi yang kita sukai, tetapi pada skala yang ia pilih.

Namun ada ironi yang patut dicatat, karena kita masih belum sepakat taring itu dipakai untuk apa, sementara kita kini paham detail bagaimana ia dibangun. Sains kadang bergerak tidak linear, dan justru kemajuan terbesar lahir dari pertanyaan yang tampak “sekunder”.

Di sisi lain, narasi “unicorn laut” mudah memikat publik, tetapi juga berisiko menutupi isu yang lebih genting: krisis Arktik. Jika taring menjadi arsip iklim, maka setiap spiral bukan sekadar estetika, melainkan kemungkinan catatan tentang pemanasan, perubahan pakan, dan tekanan ekosistem.

Temuan spiral ganda juga membuka jalur praktis bagi rekayasa material, dari konstruksi hingga medis, karena ia menawarkan desain kuat terhadap tekuk dan puntir. Tetapi inspirasi biomimetik seharusnya datang bersama tanggung jawab, agar eksploitasi satwa dan habitatnya tidak dibenarkan atas nama inovasi.

Misteri taring narwhal kini punya jawaban yang elegan: dua spiral berlawanan arah yang saling menguatkan, tertulis dalam genetika, tumbuh sepanjang puluhan tahun. Temuan Nature Communications ini menunjukkan betapa geometri kecil dapat menentukan ketahanan besar.

Jika taring itu juga menyimpan jejak perubahan lingkungan, maka ia bukan hanya simbol legenda, melainkan dokumen Arktik yang hidup. Pertanyaannya, apakah kita akan membaca arsip itu untuk bertindak, atau sekadar mengaguminya sampai catatannya berhenti ditulis oleh alam? (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)