Wisuda Anak Artis Cerai, Co-Parenting Akur Jadi Sorotan

Wolipop

Wolipop

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Wisuda anak artis cerai kembali menyita perhatian publik, setelah sejumlah selebriti terlihat hadir bersama mantan suami atau mantan istri dalam satu panggung kebanggaan. Potret kompak itu memunculkan sub-keyword yang ramai dicari, yakni co-parenting selebriti dan akur demi anak, sekaligus menguji apakah kedewasaan pascaperpisahan benar-benar bisa dipraktikkan.

Artikel yang beredar menampilkan enam figur publik yang datang ke acara kelulusan anak bersama mantan pasangan. Nama yang disebut antara lain Wulan Guritno dan Adilla Dimitri, Shandy Aulia dan David Herbowo, serta Natasha Rizky dan Desta.

Ada pula Marcelino Lefrandt dan Dewi Rezer, Tasya Farasya dan Ahmad Assegaf, serta Riri Fairuz dan Ayus. Narasi besarnya sederhana, mereka berpisah sebagai pasangan, tetapi tetap hadir sebagai orang tua.

Namun, perhatian publik bukan hanya pada momen wisuda, melainkan pada pesan sosial yang terselip di balik foto. Di ruang digital, kebersamaan mantan pasangan sering dianggap “langka”, seolah konflik adalah takdir otomatis setelah perceraian.

Fenomena “wisuda bareng mantan” bekerja seperti konten yang mudah viral karena memadukan emosi keluarga dan kejutan sosial. Di satu sisi, publik menyukai bukti bahwa perpisahan tidak selalu berujung permusuhan, terutama ketika ada anak yang harus dilindungi.

Di sisi lain, unggahan selebriti juga mengikuti logika media sosial yang mengutamakan simbol visual. Satu foto di aula wisuda bisa dibaca sebagai rekonsiliasi, padahal yang terjadi bisa sekadar koordinasi orang tua yang fungsional.

Dalam studi keluarga, co-parenting yang sehat biasanya ditandai komunikasi stabil, pembagian peran jelas, dan minim konflik di depan anak. American Psychological Association menekankan bahwa anak cenderung lebih baik secara penyesuaian emosional ketika konflik orang tua ditekan, bukan ketika orang tua “harus” kembali akrab.

Karena itu, foto kompak di wisuda bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Yang lebih menentukan adalah rutinitas yang tidak terlihat kamera, seperti konsistensi jadwal, keputusan pendidikan, dan cara orang tua menahan ego saat berbeda pendapat.

Di Indonesia, perceraian juga semakin sering menjadi konsumsi publik, terutama ketika melibatkan figur terkenal. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka perceraian nasional berada di kisaran ratusan ribu kasus per tahun dalam beberapa tahun terakhir, sehingga isu pengasuhan pascacerai makin relevan di tingkat sosial.

Ketika selebriti memamerkan kebersamaan yang rapi, standar baru ikut terbentuk di benak masyarakat. Standar itu bisa menginspirasi, tetapi juga bisa membebani orang tua biasa yang berjuang dengan luka, keterbatasan ekonomi, atau relasi yang memang tidak aman.

Potret selebriti menghadiri wisuda anak bersama mantan pasangan patut diapresiasi, tetapi tidak perlu disakralkan. Kedewasaan bukan berarti harus tampak harmonis di depan publik, melainkan mampu menempatkan kebutuhan anak di atas drama orang dewasa.

Ada risiko ketika publik menganggap “akurnya mantan” sebagai syarat moral bagi semua orang. Dalam beberapa kasus, menjaga jarak justru lebih sehat, selama komunikasi pengasuhan tetap berjalan dan anak tidak dijadikan alat tarik-menarik.

Yang menarik, artikel semacam ini juga memperlihatkan bagaimana media gaya hidup mengemas isu keluarga menjadi galeri foto yang ringan. Keringanan itu membuat topik mudah dicerna, tetapi bisa mengaburkan kompleksitas perceraian, termasuk mediasi, hak asuh, dan kesehatan mental anak.

Jika momen wisuda dijadikan panggung pesan, seharusnya pesan utamanya bukan “lihat kami akur”, melainkan “lihat anak kami didukung”. Anak bukan properti citra, melainkan subjek yang kelak mengingat apakah ia merasa aman di tengah perubahan keluarga.

Enam potret wisuda anak artis cerai menunjukkan bahwa co-parenting bisa dijalankan tanpa harus menghapus masa lalu. Yang perlu dirayakan bukan status mantan yang tampak rukun, melainkan keputusan untuk tetap hadir dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, foto di aula wisuda hanya satu bab dari cerita panjang pengasuhan. Pertanyaannya, apakah masyarakat siap menghargai kerja sunyi orang tua pascacerai yang memilih damai, meski tidak selalu terlihat “sempurna” di kamera. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)