Ketegangan Korea Utara dan Strategi Diplomasi Korea Selatan
ORBITINDONESIA.COM – Korea Utara baru saja meluncurkan sejumlah rudal balistik ke laut di lepas pantai timurnya. Sementara itu, pemimpin Korea Selatan memulai kunjungan kenegaraan ke China. Ini adalah serangan rudal pertama di tahun baru yang menandai ketegangan di Semenanjung Korea.
Peluncuran rudal ini terjadi saat Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang menganalisis spesifikasinya sambil menjaga kesiapan penuh. Jepang melaporkan jarak tempuh rudal mencapai 900 hingga 950 km, menegaskan ancaman dari pengembangan nuklir dan rudal Korea Utara terhadap perdamaian regional.
Kim Jong Un baru-baru ini mengunjungi pabrik amunisi dan menyerukan peningkatan produksi senjata taktis. Langkah ini diambil menjelang kongres partai kesembilan yang akan menentukan kebijakan utama Korea Utara. Peluncuran rudal ini mengirim pesan kekuatan terhadap China dan tanggapan terhadap hubungan Korea Selatan-China.
Profesor Lim Eul-chul menyebut peluncuran ini sebagai sinyal kepada China untuk mencegah hubungan lebih dekat dengan Korea Selatan dan menentang sikap China terhadap denuklirisasi. Ini adalah strategi Korea Utara menunjukkan kekuatan dan perbedaan dari Venezuela yang menghadapi serangan AS.
Kunjungan Presiden Korea Selatan ke China menyiratkan upaya diplomasi di tengah ketegangan regional. Apakah hubungan ekonomi akan cukup untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea? Penting bagi semua pihak mempertimbangkan dialog dan kerjasama untuk mencapai stabilitas yang berkelanjutan.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Januari 2026)