Resensi Buku " Secred Nature: Menemukan Kembali Kesucian Alam" Karya Karen Armstrong

ORBITINDONESIA.COM - Dalam Sacred Nature: Restoring Our Ancient Bond with the Natural World, Karen Armstrong mengajak pembaca menelusuri satu pertanyaan mendasar yang sering kita abaikan: bagaimana manusia modern kehilangan rasa hormat spiritual terhadap alam—dan apa akibatnya bagi krisis ekologis hari ini.

Armstrong, yang dikenal luas melalui karya-karyanya tentang agama dan kemanusiaan, tidak menulis buku ini sebagai khotbah lingkungan, melainkan sebagai kisah panjang peradaban manusia yang perlahan menjauh dari alam sebagai entitas sakral dan mereduksinya menjadi sekadar objek eksploitasi.

Dengan gaya naratif yang hangat dan reflektif, ia menunjukkan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, tetapi juga krisis spiritual yang berakar pada cara pandang kita terhadap dunia.

Gagasan utama buku ini berangkat dari penelusuran sejarah lintas agama dan budaya. Armstrong menyingkap bagaimana masyarakat pra-modern—baik dalam tradisi Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Taoisme, maupun kepercayaan adat—memandang alam sebagai bagian dari tatanan kosmis yang suci.

Gunung, sungai, hutan, dan hewan tidak berdiri terpisah dari manusia, melainkan terhubung dalam jejaring makna dan tanggung jawab etis.

Alam bukan “sumber daya,” melainkan “sesama” yang harus dihormati. Namun, seiring lahirnya modernitas, rasionalisme, dan kapitalisme industri, relasi ini berubah drastis.

Alam dipisahkan dari nilai spiritual dan diposisikan sebagai benda mati yang sah untuk dieksploitasi tanpa batas.

Bagian paling menarik dari Sacred Nature adalah ketika Armstrong menghubungkan kerusakan lingkungan dengan hilangnya empati religius dan etika welas asih.

Ia menegaskan bahwa hampir semua tradisi spiritual besar mengajarkan pembatasan diri, kerendahan hati, dan kesadaran akan keterhubungan.

Dalam Islam, misalnya, konsep khalifah menuntut tanggung jawab moral terhadap bumi; dalam Buddhisme, prinsip interbeing menegaskan bahwa tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri.

Armstrong dengan piawai menunjukkan bahwa krisis ekologi adalah konsekuensi dari lupa bahwa manusia bukan penguasa mutlak alam, melainkan bagian kecil dari keseluruhan yang rapuh.

Kekuatan buku ini terletak pada pendekatannya yang lintas iman dan lintas disiplin.

Armstrong tidak menyalahkan satu agama atau satu sistem pemikiran, tetapi mengajak pembaca merenung bersama: di mana kita salah melangkah sebagai peradaban? Ia juga menolak solusi instan yang bersifat teknokratis semata.

Teknologi penting, tetapi tanpa perubahan kesadaran batin, solusi itu hanya menunda kehancuran.

Di sinilah pesan terdalam buku ini terasa sangat humanis: pemulihan bumi harus dimulai dari pemulihan cara kita merasakan, memaknai, dan berelasi dengan alam.

Meski demikian, sebagian pembaca mungkin merasa buku ini kurang menawarkan panduan praktis yang konkret.

Armstrong lebih memilih jalur refleksi moral dan spiritual ketimbang langkah-langkah teknis.

Namun justru di situlah nilai pentingnya: Sacred Nature tidak ingin menggantikan kebijakan lingkungan, melainkan menopangnya dengan fondasi etis yang selama ini rapuh.

Pada akhirnya, Sacred Nature adalah undangan untuk memperlambat langkah dan mendengar kembali suara bumi. 

Karen Armstrong mengingatkan bahwa masa depan planet ini sangat bergantung pada apakah manusia bersedia belajar kembali melihat alam bukan sebagai milik, melainkan sebagai sesuatu yang suci.

Buku ini penting dibaca oleh siapa pun yang peduli pada lingkungan, bukan hanya sebagai isu ekologis, tetapi sebagai panggilan spiritual untuk hidup lebih beradab, berbelas kasih, dan bertanggung jawab.***