Resensi Buku Pemikiran Liberal di Dunia Arab Karya Albert Hourani
Pendahuluan: Dunia Arab di Persimpangan Sejarah
Pemikiran Liberal di Dunia Arab (2004) karya Albert Hourani merupakan salah satu karya klasik paling berpengaruh dalam studi sejarah intelektual Timur Tengah modern. Diterbitkan pertama kali pada 1962 dan diterjemahkan serta diterbitkan di Indonesia pada tahun 2004, buku ini tidak sekadar menyajikan kronologi pemikiran, melainkan menawarkan sebuah peta kesadaran: bagaimana kaum intelektual Arab menghadapi guncangan modernitas Barat, kolonialisme, dan runtuhnya tatanan lama Islam-Ottoman.
Hourani menulis buku ini dari posisi yang unik. Ia bukan ideolog, bukan aktivis politik, dan bukan pula teolog normatif. Ia adalah sejarawan gagasan yang menaruh perhatian pada proses perlahan, sering ambigu, dan penuh kontradiksi ketika sebuah peradaban dipaksa bercermin pada dunia yang berubah drastis. Dengan pendekatan ini, Hourani menghindari glorifikasi romantik atas masa lalu Islam maupun pujian berlebihan terhadap modernitas Barat.
Buku ini mencakup rentang waktu sejak invasi Napoleon ke Mesir pada 1798—yang oleh Hourani diperlakukan sebagai momen traumatis sekaligus pencerahan—hingga runtuhnya dunia liberal Arab menjelang Perang Dunia II. Rentang ini bukan sekadar batas kronologis, tetapi menandai satu fase historis ketika dunia Arab percaya bahwa reformasi rasional, pendidikan, dan hukum modern dapat berjalan seiring dengan Islam dan tradisi lokal.
Liberalitas sebagai Proyek Kultural, Bukan Ideologi
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara Hourani mendefinisikan “liberalisme”. Ia tidak memaksakannya sebagai ideologi Barat yang seragam, melainkan memahaminya sebagai sikap intelektual: keterbukaan terhadap akal, sejarah, dan kemungkinan perubahan. Liberalisme Arab, dalam pandangan Hourani, bukan tiruan mentah dari Eropa, melainkan hasil dialog panjang antara tradisi Islam, warisan klasik Arab, dan tantangan kolonial.
Hourani menelusuri bagaimana tokoh-tokoh seperti Rifa‘a al-Tahtawi, Khayr al-Din al-Tunisi, Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rashid Rida bergulat dengan pertanyaan mendasar: bagaimana umat Islam dapat menjadi modern tanpa kehilangan jati diri? Bagaimana hukum, pendidikan, dan pemerintahan dapat direformasi tanpa memutus akar religius dan kulturalnya?
Dalam pembacaan Hourani, para pemikir ini tidak sedang “meninggalkan Islam”, tetapi menafsirkannya ulang. Islam dipahami sebagai agama yang kompatibel dengan rasionalitas, kemajuan, dan konstitusionalisme. Di sinilah liberalisme Arab tampil sebagai proyek kultural dan moral, bukan sekadar agenda politik.
Akal, Sejarah, dan Tafsir Baru atas Islam
Hourani memberikan perhatian besar pada pergeseran epistemologis yang terjadi dalam pemikiran Arab modern. Salah satu ciri utama liberalisme Arab adalah tumbuhnya kesadaran historis. Teks-teks klasik tidak lagi diperlakukan sebagai kebenaran ahistoris, melainkan sebagai produk zaman yang dapat ditafsir ulang sesuai kebutuhan masyarakat modern.
Muhammad Abduh, misalnya, digambarkan Hourani sebagai figur sentral yang berupaya mendamaikan wahyu dengan akal. Ia menolak taklid buta dan membuka ruang ijtihad sebagai sarana pembaruan. Namun Hourani tidak menampilkan Abduh sebagai pahlawan tunggal, melainkan sebagai bagian dari jaringan intelektual yang lebih luas, di mana gagasan-gagasan bergerak, berdebat, dan sering kali berakhir dalam ketegangan.
Yang menarik, Hourani juga mencatat batas-batas liberalisme ini. Ketika pemikiran rasional mulai bersinggungan dengan massa, politik identitas, dan kepentingan kolonial, proyek liberal menghadapi tantangan serius. Liberalisme Arab tumbuh subur di kalangan elite terdidik, tetapi rapuh di tengah realitas sosial yang timpang dan tekanan imperialisme Eropa.
Negara, Nasionalisme, dan Kerapuhan Proyek Liberal
ORBTINDONESIA.COM- Seiring waktu, fokus pemikiran liberal Arab bergeser dari reformasi moral dan pendidikan menuju persoalan negara dan nasionalisme. Hourani dengan jeli menunjukkan bagaimana ide tentang konstitusi, kewarganegaraan, dan hukum sipil berkembang di Mesir, Suriah, dan wilayah Ottoman lainnya.
Namun, ia juga mencatat bahwa liberalisme Arab terjebak dalam paradoks. Di satu sisi, ia membutuhkan negara modern untuk mewujudkan reformasi; di sisi lain, negara-negara yang lahir sering kali merupakan produk kolonialisme dan kekuasaan militer. Akibatnya, ruang kebebasan yang dijanjikan liberalisme justru menyempit.
Menjelang akhir periode yang dibahas Hourani, liberalisme Arab mulai terdesak oleh dua kekuatan besar: kolonialisme yang semakin represif dan munculnya ideologi-ideologi baru seperti nasionalisme radikal dan Islamisme. Dunia yang pernah percaya pada reformasi gradual mulai kehilangan kesabaran.
Posisi Intelektual Albert Hourani
Sebagai sejarawan, Hourani menulis dengan empati sekaligus jarak kritis. Ia tidak meratapi kegagalan liberalisme Arab dengan nada sentimental, tetapi juga tidak merayakan kejatuhannya. Ia memahami bahwa ide-ide hidup dalam kondisi sosial tertentu, dan ketika kondisi itu berubah, ide pun bisa kehilangan daya hidupnya.
Dalam tradisi historiografi Timur Tengah, buku ini menempati posisi kanonik. Ia menjadi rujukan utama bagi studi pemikiran Arab modern, sekaligus model bagaimana menulis sejarah intelektual tanpa jatuh ke polemik ideologis.
Relevansi Kontemporer: Pelajaran dari Sebuah Masa yang Terlewat
Di tengah kebangkitan kembali perdebatan tentang Islam, demokrasi, dan modernitas di dunia Arab hari ini, Pemikiran Liberal di Dunia Arab terasa seperti cermin sejarah yang jujur. Buku ini mengingatkan bahwa pertanyaan tentang hubungan Islam dan modernitas bukanlah persoalan baru, dan bahwa jawaban-jawaban sederhana sering kali gagal menangkap kompleksitas sejarah.
Hourani menunjukkan bahwa liberalisme Arab pernah ada, pernah serius, dan pernah berakar. Kegagalannya bukan semata karena “ketidaksiapan budaya”, melainkan karena tekanan politik global, kolonialisme, dan struktur kekuasaan yang tidak memberi ruang bagi eksperimen intelektual yang matang.
Penutup: Sebuah Dunia yang Pernah Bermimpi
Pemikiran Liberal di Dunia Arab adalah kisah tentang sebuah dunia yang pernah bermimpi bahwa akal, iman, dan kebebasan dapat berjalan bersama. Albert Hourani menuliskannya bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pengingat bahwa sejarah pemikiran Islam dan Arab jauh lebih kaya, plural, dan reflektif daripada yang sering digambarkan oleh wacana kontemporer.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat dunia Arab bukan sebagai ruang stagnan, melainkan sebagai medan pergulatan intelektual yang intens dan bermartabat. Sebuah bacaan mendasar bagi siapa pun yang ingin memahami bahwa modernitas di dunia Islam bukanlah cerita imitasi, melainkan perjuangan panjang antara tradisi, kekuasaan, dan harapan akan masa depan yang lebih rasional dan adil.***