Ketua Apindo: Ekonomi kuartal IV-2025 Tumbuh 5,39%, Tetapi Harus Perhatikan Kondisi Riil di Lapangan

ORBITINDONESIA.COM - Ekonomi kuartal IV-2025 tumbuh 5,39% (yoy), tertinggi sejak kuartal III-2022. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani, capaian itu memang sudah selaras ditopang geliat ekonomi kuartal IV-2025. Namun, yang harus diperhatikan bukan angka pertumbuhan, tapi kondisi riil di lapangan.

Kondisi sektor manufaktur justru memberi sinyal perlambatan. Dari 16 subsektor manufaktur, 9 di antaranya tumbuh di bawah rata-rata nasional. Industri tekstil hanya tumbuh 3,5%, alas kaki 3,3%, dan furnitur cuma 1,6%.

Shinta lalu menyoroti biaya-biaya yang harus ditanggung pelaku usaha, baik yang terukur maupun tidak. Yang harus dilakukan, kata dia, adalah bagaimana menekan biaya tinggi.

Biaya logistik di Indonesia termasuk paling tinggi di antara negara tetangga. Juga biaya energi, suku bunga pinjaman yang mencapai 8-12% sementara di negara tetangga 4-6%. Selain itu, biaya-biaya yang tak terukur, seperti perizinan, juga turut menambah beban pelaku usaha. 

Penjualan eceran Desember 2025 tumbuh melambat secara tahunan, tapi meningkat secara bulanan. Itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 229,8, lebih tinggi dari 222,9 pada November.

IPR Desember tumbuh 3,5% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibanding November yang tumbuh 6,3% (yoy). Namun secara bulanan, IPR Desember tumbuh 3,1% (mtm), lebih tinggi dibanding November 1,5% (mtm).

Peningkatan didorong kinerja peralatan informasi dan komunikasi, barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau, sejalan dengan momen Nataru.

Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diperkirakan meningkat secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diperkirakan tumbuh 7,9% (yoy).

Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang. Secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 diperkirakan terkontraksi 0,6% (mtm) sejalan dengan normalisasi konsumsi pasca-Nataru.

Lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell memutuskan untuk menunda review indeks Indonesia periode Maret 2026, sembari menanti kejelasan seputar reformasi pasar saham. Keputusan itu didasarkan masukan dari External Advisory Committees.

Juga mempertimbangkan risiko pembalikan dan ketidakjelasan persentase free float saham, sehingga aksi korporasi (IPO, rights issue, perubahan bobot, dan lain-lain), sementara tidak dimasukkan perhitungan indeks. FTSE Russell akan melakukan pembaruan untuk FTSE Global Equity Index Series (GEIS) edisi Juni yang akan diumumkan pada 22 Mei 2026.

Pjs Dirut BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, sudah bertemu FTSE Russell. Mereka, kata dia, mendukung rencana aksi yang dilakukan BEI bersama OJK dan Self Regulatory Organization (SRO). Ia juga menekankan bahwa FTSE tidak menyampaikan kekhawatiran terkait country classification.

Keputusan FTSE Russell menunda review saham Indonesia tak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI hari ini. Hingga akhir perdagangan sesi I, indeks menguat 100,879 poin atau 1,26% di 8.132,753. ***