Rupiah Tertekan: Dampak Peringatan MSCI dan Sentimen Global

ORBITINDONESIA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan signifikan sepanjang Februari 2026, menyusul peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti transparansi pasar modal Indonesia.

Peringatan MSCI dan pemangkasan rating kredit oleh Moody's menjadi angin buruk bagi rupiah. Ketidakstabilan ini diperparah oleh tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi jual bersih investor asing yang mencapai triliunan rupiah.

Pelemahan rupiah tak lepas dari sentimen global, termasuk pertemuan AS-Iran dan pembahasan tarif impor antara Presiden Prabowo dan Donald Trump. Kesepakatan impor minyak mentah besar-besaran ke AS turut memperlebar defisit anggaran Indonesia, menambah beban pada rupiah.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, fluktuasi rupiah tak terelakkan hingga Mei, saat pembekuan rebalancing MSCI dan penurunan rating diharapkan berakhir. Sementara itu, analis Lukman Leong menyoroti minimnya likuiditas di tengah libur panjang sebagai faktor pelemahan rupiah.

Ketidakpastian ekonomi global dan domestik menciptakan tantangan berat bagi rupiah. Apakah langkah pemerintah dalam menghadapi sentimen negatif ini cukup kuat untuk menstabilkan perekonomian? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 19 Februari 2026)