Tolak Karier Menjanjikan, Lulusan Australia Ini Pilih Mengajar di Pedalaman Papua
Papua adalah salah satu pulau di Indonesia yang dikenal karena keindahan alamnya. Namun di balik lanskap yang memesona itu, masih banyak sekolah di pedalaman berdiri dalam kondisi memprihatinkan, bangunan tak layak, akses yang sulit dijangkau, dan kekurangan tenaga pendidik.
Dari kegelisahan itulah, Felix Degei, lulusan S2 dari University of Adelaide, memilih menapaki jalan yang tidak lazim: menjadi guru honorer di pedalaman Papua. Meski berbagai tawaran pekerjaan dengan prospek lebih menjanjikan terbuka baginya, ia justru
kembali ke kampung halaman tempat ia dibesarkan. Bagi Felix, mengajar anak-anak Papua yang belum lancar membaca dan menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan misi yang jauh lebih bermakna daripada sekadar persoalan gaji.
Keputusan itu tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, Felix Degei tumbuh dalam keterbatasan akses pendidikan. Di kampungnya, sekolah hanya tersedia hingga jenjang dasar. Untuk melanjutkan, ia harus berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer menuju kampung tetangga. Rutinitas itu dijalani bertahun-tahun, berangkat sejak pagi, pulang saat hari mulai gelap sebuah pengalaman yang membentuk ketahanan sekaligus menyadarkannya betapa mahalnya akses pendidikan di pedalaman Papua
Di tengah keterbatasan tersebut, sebuah radio tua milik ayahnya menjadi jendela awal menuju dunia luar. Melalui siaran Radio Australia dari Melbourne yang ia dengarkan, Felix Degei mulai membayangkan kehidupan di luar kampungnya. Dari pengalaman sederhana itu, tumbuh sebuah cita-cita yang terasa nyaris mustahil bagi seorang anak dari daerah tanpa akses listrik.
"Suatu hari saya akan kesana."
Cita-cita itu kemudian ia perjuangkan melalui pendidikan. Dengan keterbatasan yang ada, Felix Degei terus melangkah hingga akhirnya memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke University of Adelaide melalui beasiswa LPDP. Di lingkungan akademik yang serba memadai, ia menyaksikan bagaimana sistem pendidikan dapat berjalan dengan dukungan fasilitas, tenaga pengajar, dan akses yang merata.
Pengalaman tersebut tidak membuatnya ingin menetap, sebaliknya justru mempertegas arah langkahnya. Ia melihat secara langsung kontras yang tajam antara sistem pendidikan yang ideal dengan kondisi yang pernah ia alami di Papua. Kesadaran itu menumbuhkan tanggung jawab personal: bahwa ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pencapaian individu, melainkan harus kembali memberi dampak.
Sepulang dari Australia, Felix dihadapkan pada banyak pilihan. Karier dengan penghasilan menjanjikan terbuka lebar. Namun ia mengambil keputusan yang berbeda kembali ke Papua dan menjadi guru honorer sejak 2019.
Di ruang-ruang kelas sederhana tempat ia mengajar, tantangan masih nyata. Ada siswa yang belum lancar membaca meski sudah duduk di bangku sekolah menengah. Ada pula yang datang tanpa perlengkapan belajar memadai. Dalam kondisi seperti itu, peran guru menjadi jauh lebih dari sekadar pengajar.
Felix hadir bukan hanya untuk menyampaikan pelajaran, tetapi untuk menyalakan harapan. Ia membantu murid-muridnya melihat bahwa masa depan tidak harus berhenti di batas kampung mereka.
Kisah Felix Degei bukan sekadar tentang pilihan karier, tetapi tentang keberpihakan. Ketika banyak orang mengejar pusat kesempatan, ia justru kembali ke titik yang paling membutuhkan. Di ruang kelas sederhana itu, ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal akses, melainkan tentang siapa yang bersedia tetap tinggal dan menyalakan harapan bagi mimpi-mimpi kecil.